Bervakansi ke Lingkok Kuwieng

Suasana asri di Lingkok Kuwieng, Desa Pulo Hagu, Kecamatan Padang Tiji, Pidie. (foto: dok masakini.co)

Bagikan

Bervakansi ke Lingkok Kuwieng

Suasana asri di Lingkok Kuwieng, Desa Pulo Hagu, Kecamatan Padang Tiji, Pidie. (foto: dok masakini.co)

MASAKINI.CO – Lupakan sejenak politik yang kusut dan ekonomi yang mengkerut. Ambil ranselmu dan kemasi barang-barangmu. Mari kita bervakansi.

Alam Aceh menyimpan banyak keindahan. Jika pantai sudah terlalu biasa dan membosankan, mungkin sudah saatnya mencoba sesuatu yang lebih menantang: susur ngarai Lingkok Kuwieng.

Kamu mungkin akan bermandi peluh dan bercucur keringat, tapi di penghujung perjalanan, kamu akan berdecak berkali-kali: oh Tuhan, sungguh ini pengalaman yang menyenangkan!

Namanya Lingkok Kuwieng, sebuah ngarai yang terbentuk dari aliran sungai di lembah Seulawah Dara. Yang membuat tempat ini unik adalah formasi bebatuan dan aliran sungainya yang tak biasa.

Sedimentasi aliran sungai entah berapa ribu tahun–mungkin bahkan lebih tua-, membentuk lapisan dinding batu di kedua sisinya. Air jernih khas sungai pegunungan mengalir di bagian dasarnya. Sensasi kesegaran alam inilah yang akan menanti di penghujung perjalanan ini.

Seperti namanya, Lingkok Kuwieng adalah sebuah lembah anakan sungai berbentuk ‘lingkok’ yang ‘kuwieng’. Lingkok dalam bahasa Aceh bermakna lengkungan, sementara kuwieng -dalam aksen tertentu di beberapa kabupaten di Aceh juga dilafalkan dengan kiwieng– bisa diartikan bengkok atau berbentuk tidak lurus. Ini memang serupa dengan susuran aliran ngarai ini yang asimetris, melenggok, dan melengkung dari satu ujung ke ujung yang lain.

Tempat ini cukup populer dalam beberapa tahun terakhir di Aceh. Terutama bagi anak-anak muda yang menggemari kegiatan alam luar seperti trekking dan camping. Mengunjungi Lingkok Kuwieng juga berarti mendapat dua paket wisata alam sekaligus, trekking jalur esktrem serta menikmati ngarai alami di kerimbunan kaki hutan hujan tropis Sumatera.

Secara administratif, ngarai ini berada di Desa Pulo Hagu, Kecamatan Padang Tiji, Pidie. Ia berada di kaki pegunungan Seulawah yang termasuk dalam kawasan Bukit Barisan. Untuk menuju tempat ini, disarankan menggunakan pemandu lokal karena tempatnya yang masih terisolir dan tidak dilalui kendaraan umum.

Perjalanan menuju Lingkok Kuwieng bisa dimulai dari Sigli yang merupakan ibukota Kabupaten Pidie. Dari sini kita bergerak menuju Padang Tiji melalui jalan Medan-Banda Aceh. Dari Padang Tiji ke lokasi, perjalanan akan lebih menantang karena harus melalui jalur offroad perbukitan.

Pengungjung sedang manikmati dinginnya air pegunungan di Lingkok Kuwieng. (foto: dok masakini.co)

Tak disarankan menggunakan motor matik karena medannya yang berundak, berliku, dan penuh tanjakan. Yang paling ideal menggunakan mobil offroad atau motor trail, namun jika itu tak ada, motor bebek yang prima mungkin sudah cukup kuat untuk diajak bertualang. Itu pun, di titik tertentu salah satu dari penumpang harus turun jika Anda datang berboncengan.

Kadang kala, jika cuaca sedang tak cukup bersahabat, motor harus diparkir agak jauh untuk kemudian trekking dilanjutkan dengan perjalanan kaki.

Namun jangan khawatir. Perjalanan berat ini akan terbayar lunas di lokasi. Memasuki Lingkok Kuwieng, kamu seperti dibawa ke dimensi yang berbeda. Alam yang sunyi, tenang, damai.

Suara gemericik air pegunungan. Lapisan batuan karst yang tersusun rapi layaknya terpahat dengan tangan terampil manusia. Dan aliran sungai berwarna hijau zamrud yang kontras dengan warna coklat tua bebatuan di sepanjang anakan sungai. Ini adalah kombinasi yang sempurna untuk menjadi tempat pelarian sejenak dari rutinitas sehari-hari.

Tidak afdhal rasanya jika ke tempat ini tanpa berenang. Kesegaran air sungai pegunungan akan memanggil-manggil untuk dijamahi. Jangan khawatir karena aliran sungai ini cukup dangkal dan bersahabat untuk diajak bermain basah-basahan.

Buat kamu yang suka berendam, di sana juga tersedia air terjun mini di salah satu sisi anakan sungai. Ini salah satu spot yang wajib dicoba. Merasakan sensasi kesegaran saat badan diguyur air sungai pegunungan.

Hal lain yang bisa dilakukan di tempat ini adalah memasang tenda untuk berkemah. Ya: camping. Menghabiskan barang semalam dengan api unggun di alam yang sunyi dengan ditemani suara angin berbisik dan gemericik air aliran sungai pegunungan tentu akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Waktu terbaik mengunjungi ngarai ini adalah ketika awal musim kemarau ketika air sedang bagus-bagusnya. Jika datang pada musim hujan, ada kemungkinan debit air terlalu banyak. Ini tentu tak ideal jika kalian ingin berenang.

Di sisi lain, air juga berpotensi keruh dan tak jernih seperti biasa. Namun jika kemarau sudah terlampau lama, debit air menjadi terlalu sedikit sehingga kalian mungkin akan melewatkan aliran sungai berwarna hijau zamrud yang justru menjadi daya tarik utama dari tempat ini.

Mungkin tempat wisata seperti Lingkok Kuwieng memang bukan tempat wisata umum yang mudah dijamah. Tapi justru di sinilah sensasinya. Ini bukan wisata mainstream yang bisa dicapai dengan mudah, dan karena itu pulalah ia tidak akan meninggalkan kesan yang biasa-biasa saja.

Bagaimana, sudah siap bervakansi ke Lingkok Kuwieng? [Rahmat Taufik]

TAG

Bagikan

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Berita Terbaru

Berita terpopuler

Add New Playlist