Eksotisme Lhok Rukam di Kota Naga

Suasana di Gampong Lhok Rukam, Kecamatan Tapaktuan, Aceh Selatan. (sumber foto: lhokrukam.sigapaceh.id)

Bagikan

Eksotisme Lhok Rukam di Kota Naga

Suasana di Gampong Lhok Rukam, Kecamatan Tapaktuan, Aceh Selatan. (sumber foto: lhokrukam.sigapaceh.id)

MASAKINI.CO – Perahu nelayan berwarna-warni berjejer di sepanjang bibir pantai membuat saya tidak ingin mengalihkan pandangan dari tempat yang sedang saya tuju.

Merah, kuning, hijau, biru, memang menjadi warna dominan yang ditemui pada bangunan dan benda-benda sepanjang perjalanan masuk ke “desa surga tersembunyi” ini.

Saya baru saja tiba di sebuah desa yang diapit pegunungan Bukit Barisan Pulau Sumatra dan bentangan pantai lautan Samudra Hindia. Lhok Rukam, sebuah desa di Kecamatan Tapaktuan, Aceh Selatan.

Semilir angin Negeri Pala menyambut kedatangan saya dan rombongan. Langit biru cerah menyejukkan mata. Kafe-kafe merambat di hamparan daratan yang memisahkan teluk dengan lautan. Alunan deru ombak membuat suasana di sini jadi makin eksotis.

Posisi kami tepatnya berada di tepi teluk yang dipenuhi kafe-kafe wisata. Kami mengambil tempat bersantai di gazebo tepi pantai milik Mutiara Cafe.

Panoramanya sangat memanjakan mata. Dan hm.. apakah kuliner Lhok Rukam juga dapat memanjakan lidah?

Sate Lolak

“Kalau ada waktu, main-mainlah ke Desa Wisata Lhok Rukam.”

Seuntai kalimat itu saya dengar dari Muchsin, Kepala Dinas Pariwisata Aceh Selatan, beberapa hari sebelumnya di sela-sela acara Festival Pesona Barsela 2022 yang digelar di Kota Tapaktuan.

“Kalau kesana, jangan lupa makan Sate Lolak,” ujarnya lagi berpromosi.

Menurutnya, Sate Lolak merupakan salah satu kuliner khas Aceh Selatan yang jadi primadona baru di Kota Naga.

Sate ini terbuat dari bahan baku Siput Mata Lembu (Turbo Argyrostoma). Sejenis siput yang menempel pada terumbu karang. Warga setempat menyebutnya dengan “lolak”.

Sate Lolak, kuliner khas yang menjadi primadona baru di Aceh Selatan. (foto: masakini.co/Makmur)

Sebagai menu kuliner baru, Sate Lolak mudah ditemui di objek wisata di seputaran Tapaktuan. Khususnya di Desa Lhok Rukam, semua kafe wisata menawarkan Sate Lolak kepada pengunjung.

Saya pun tak ingin melewatkan kesempatan itu.

Usai menunggu beberapa menit setelah dipesan, pelayan membawakan Sate Lolak. Satu porsi disajikan dalam sepiring keramik putih dilapisi daun pisang.

Isinya ada 7 tusuk sate dengan saus kacang. Ditaburi dua potong timun dan beberapa kerupuk udang. Sebagai pelengkap, diberikan beberapa bilah lontong.

Sekilas looks-nya memang seperti sate kebanyakan. Tapi rasanya, mungkin akan sangat berbeda.

Saya mencoba tusukan pertama. Hm… daging lolak terasa kenyal, lembut, dan gurih. Sedapnya saus kacang menyempurnakan citarasa kuliner khas Negeri Tuan Tapa ini.

“Ini makanan khas Aceh Selatan dan rasanya luar biasa,” kata Muhammad Akkral yang baru pertama kali mencicipi Sate Lolak di Lhok Rukam.

Agam Aceh (Duta Wisata Aceh) 2021 itu menambahkan, “Yang belum datang ke Aceh Selatan yuk ke Aceh Selatan dan cobain gimana enaknya rasa Sate Lolak ini.”

Akkral bersama teman-teman Duta Wisata Aceh lainnya tampak nikmat sekali menyantap berpiring-piring sate lolak.

Satu porsi Sate Lolak hanya dibanderol Rp15 ribu. Harga yang sepadan dengan citarasanya, menurut saya.

Air kelapa muda dingin jadi hidangan penutup yang sempurna di Pantai Wisata Lhok Rukam.

Dibalik rasanya yang maknyus, sate lolak punya cerita lain.

Menurut pengelola Mutiara Cafe, Fani, siput lolak diambil oleh para nelayan dari laut. Dulunya sebelum dibuat dalam bentuk sate, siput ini biasa digulai dengan campuran bumbu khusus dan menjadi santapan istimewa keluarga di Aceh Selatan.

Ada juga yang mengolahnya menjadi makanan dengan lalapan sambal dan pelengkap dalam hidangan mi. Baru beberapa tahun belakangan, warga mengolahnya menjadi sate.

Di Pantai Lhok Rukam, selain Sate Lolak, pengunjung juga dapat menikmati berbagai kuliner khas seperti sate gurita, sate cumi, sate kerang, sate ayam, dan menu seafood lainnya.

Tak hanya itu, pengunjung juga bisa memancing atau sekadar menyaksikan nelayan menjaring ikan dengan pukat dari atas perahu.

Desa Pelangi

Perjalanan ke Desa Lhok Rukam dari Kota Tapaktuan membutuhkan waktu sekitar setengah jam berkendara. Dari Banda Aceh sendiri, butuh waktu sekitar 10 jam trip darat ke Tapaktuan.

Selain terkenal dengan Sate Lolak, Desa Lhok Rukam dikenal sebagai “Desa Pelangi” karena tata ruang desa tersebut sengaja dicat dengan warna-warni pelangi.

Corak pelangi memang terlihat begitu menuruni sebuah bukit yang akan memasuki desa itu. Saat menjumpai gapura “Selamat Datang di Gampong Lhok Rukam”, pembatas jalan sudah diwarnai merah, kuning, hijau, dan warna pelangi lainnya.

Rumah, kios, perahu nelayan, fasilitas publik lainnya, dicat dengan warna-warna pelangi lewat sebuah program kolaborasi Pemkab dengan pihak desa di tahun 2017. Sehingga Lhok Rukam pun menjadi Desa Pelangi pertama di Aceh Selatan, dan mungkin di Aceh! [Makmur Dimila]

TAG

Bagikan

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Berita Terbaru

Berita terpopuler

Add New Playlist