MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Sabtu, Februari 28, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Bersama Petani, Dora Menjaga Gerabah Tetap Lestari

Riska Zulfira by Riska Zulfira
23 Januari 2024
in Cerita
0

Produk gerabah buatan Gramida.(foto untuk masakini.co)

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Tanah liat disulap jadi produk bernilai jual di tangan Zuhra Asra. Perempuan yang akrab disapa Dora ini menghasilkan beragam perkakas masak maupun home decor.

“Kami ada belanga, kanot (periuk nasi), mangkok, vas bunga, tabungan dan lainnya,” kata Dora mengawali pembicaraannya beberapa waktu lalu.

RelatedPosts

Singkirkan 4.000 Peserta, Reza Wakili Indonesia ke Rusia

Air Mata Hasanah, Luka yang Tak Terlihat dalam Film Noeh

Menembus Batas Negeri, Perjalanan Naufal Maulana Menggapai Beasiswa Pemerintah Rusia

Ratusan gerabah dengan berbagai ukuran, kecil, sedang dan besar memenuhi ruangan yang dulunya kamar Dora. Ia menata rapi karyanya di rak kayu.

Kemampuan Dora terus diasah, ia kembali menciptakan benda-benda unik seperti souvenir. “Jadi kami juga menerima pesanan souvenir wedding,” sebutnya.

Gerabah milik Dora ramai diminati warga. Saban hari pembeli datang ke tempat produksinya di Ulee Tutue Keulibeut, Pidie.

Bisnis gerabahnya dirintis secara online, berawal dari usaha jual bibit tanaman. Kepada masakini.co, Dora menceritakan bagaimana perjalanan menciptakan karya di tengah pandemi Covid-19.

“Mulainya di tahun 2020, tetapi mulai serius dijalani tahun 2021,” ucapnya.

Budidaya tanaman kala itu menjadi tren di lingkungan tempat tinggalnya. Tak mau ketinggal ia pun turut mempromosikan tanaman hias di laman marketplace yang diberi nama marketbibit.

“Ketika masa pandemi, saya perhatikan banyak orang berkegiatan di rumah sembari merawat tanaman,” kata Dora.

Langkah perdananya tak mujur, usahanya tak berlangsung lama. Lantas, ia banting stir membuat pot bunga dari gerabah.

Zuhra Asra pendiri Gramida

Daerah tempat tinggal Dora, Pidie merupakan sentra pembuatan gerabah yang hampir ditelan zaman. Dahulu gerabah di sana hanya berbentuk kuali dan panci.

Kini, keterampilan pembuatan gerabah itu tetap lestari, diturunkan dari generasi ke generasi. “Ini telah menjadi turun temurun dari keluarga, ibu juga dulu pengrajin gerabah,” ungkap Dora.

Di Desa Keulibeut, kata Dora terdapat 16 pengrajin tanah liat, dua diantaranya anak muda. Menggunakan jasa masyarakat sekitar, Dora menjual gerabah unik secara offline maupun online.

Awalnya, kata dia, Dora menamakan galerinya “Rumoh Geurabah,” lantaran tak dapat didaftarkan ke Hak Kekayaan Intelektual (HKI) ia beralih ke “Gramida.”

Dengan nama Gramida, Dora mengupgrade skill nya dan menghasilkan produk yang lebih berwarna. Berkat bantuan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pidie Dora mempelajari bagaimana mengukir corak di gerabah yang dibuatnya.

Wanita 32 tahun ini membuat produk gerabah sesuai dengan permintaan pasar. Untuk saat ini, permintaan gerabah yang laris vas bunga dan kuali tanah (beulangong tanoh).

Untuk membuat gerabah, Dora membutuhkan bahan baku utama berupa tanah liat. Namun, tak sembarang tanah liat, melainkan tanah liat berwarna merah agar proses pembuatannya jauh lebih mudah dan bagus.

“Tapi jika tidak ada bisa pakai tanah liat lain, asalkan tanah liat,” tuturnya.

Pemenuhan kebutuhan tanah liat merah benar-benar dijaga pengrajin sehingga gerabah dari Gramida dikenal dengan kualitasnya yang bagus.

Dora memperoleh tanah liat langsung diambil dari pegunungan. Hanya saja harus membayar jasa pengambil tanah serta biaya transportasi.

Produk gerabah buatan Gramida.(foto untuk masakini.co)

Meskipun proses pembuatan masih secara tradisional, setiap pengrajin mampu menghasilkan 20 produk perkakas masak saban harinya. Namun ia mengaku kecepatan proses pembuatan tergantung cuaca.

“Pertama kita aduk tanah dengan pasir, lalu dibentuk sesuai keinginan, paling cepat 10 hari,” sebutnya.

Selama ini Dora masih menggunakan secara manual, yakni dengan metode pembakaran menggunakan daun kering. Setelah itu dilanjutkan proses pengeringan. Proses pengeringan sendiri membutuhkan waktu.

Nah kendala yang dia hadapi cuaca yang tak menentu. Jika sering hujan, maka akan mengganggu produksi gerabah.

“Terakhir baru dilakukan pengecatan, agar produk jauh lebih bagus,” katanya.

Tiga tahun berjalan, gerabah milik Dora makin digemari konsumen. Akhirnya ia memutuskan untuk mendirikan galery gerabah di halaman rumahnya. Dora terus mengepakkan sayapnya dengan mempromosikan melalui istagram @gramida.id.

Tak perlu merogoh kocek dalam-dalam, produk buatan Dora ini hanya dibanderol mulai Rp4 ribu hingga Rp500 ribu per item.

Daya jangkau pemasaran Gramida saat ini sudah dilakukan di seluruh kabupaten di Aceh, dan bahkan telah dikenal hingga keluar Aceh. “Misalnya seperti wilayah Medan,” sebut Dora.

Kebahagiaan Dora dirasakannya saat ada permintaan konsumen yang mengorder dalam jumlah besar. Kendati demikian ia memiliki kendala terhadap waktu penyelesaian.

“Karena di samping membuat gerabah, ibu-ibu juga bermata pencaharian petani,” imbuhnya.

Tags: GerabahGerabah CantikGramidaJual Gerabah OnlinePidieUMKM Pidie
Previous Post

Kalahkan Napoli 0-1, Piala Super Italia Milik Nerazzurri

Next Post

Bela Hamas, Perempuan Israel Ungkap Putranya Diracun IDF

Related Posts

Mobil Terbakar Saat Isi BBM di SPBU Sigli

by Redaksi
23 Januari 2026
0

MASAKINI.CO - Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kota Sigli, Kabupaten Pidie terbakar hebat, Jumat (23/1/2026) sekira pukul 10.30 WIB....

Korban Bencana di Sumatra Terima Bantuan Rp3 Juta per KK untuk Perabot Rumah

by Riska Zulfira
30 Desember 2025
0

MASAKINI.CO - Pemerintah memastikan akan menyalurkan bantuan tunai sebesar Rp3 juta per kepala keluarga (KK) kepada korban banjir Sumatera untuk...

Kuasa Hukum Desak Polres Usut Tuntas Penyerangan Balai Pengajian di Pidie

by Riska Zulfira
21 November 2025
0

MASAKINI.CO - Kuasa Hukum korban, Zulfikar Muhammad, mendesak Kapolres Pidie untuk mempercepat penyelidikan secara profesional dan transparan terkait dugaan penyiksaan...

Next Post

Bela Hamas, Perempuan Israel Ungkap Putranya Diracun IDF

Aceh Besar Tambah Pos Damkar di Lamteuba dan Kuta Baro

Aceh Besar Tambah Pos Damkar di Lamteuba dan Kuta Baro

Discussion about this post

CERITA

Singkirkan 4.000 Peserta, Reza Wakili Indonesia ke Rusia

27 Februari 2026
Ismatul Rahmi pemeran Hasanah dalam dokudrama NOEH | Foto: dok pribadi

Air Mata Hasanah, Luka yang Tak Terlihat dalam Film Noeh

17 Februari 2026

Menembus Batas Negeri, Perjalanan Naufal Maulana Menggapai Beasiswa Pemerintah Rusia

14 Februari 2026

Meugang, Tradisi Turun-Temurun Aceh Menyambut Ramadan

4 Februari 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...