MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Jumat, Mei 8, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home News

Mencari Pemimpin Aceh yang Peduli Kebudayaan

Ichsan Maulana by Ichsan Maulana
4 November 2024
in News
0

Reza Indria menyampaikan materi pada Dialog Ke-Aceh-an | foto: istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – “Mungkin Aceh memiliki sedikit anomali, ketika menjadi daerah termiskin, tapi pada saat bersamaan survei BPS juga mengatakan; bahwa Aceh menjadi daerah paling bahagia di Indonesia,” kata Reza Indria.

Pernyataan tersebut disampaikan akademisi UIN Ar-Raniry tersebut, Senin (4/11/2024) siang. Tepatnya di bagian sepertiga akhir sesinya berbicara, dalam acara Dialog Ke-Aceh-an. Bertema: pendidikan, kebudayaan dan kepemudaan.

RelatedPosts

Tarmizi Minta Jemaah Haji Aceh Barat Jaga Kesehatan Selama di Tanah Suci

393 Jemaah Haji Kloter 3 Diberangkatkan, Termuda Berusia 17 Tahun

Sekda Aceh Sidak RSUD Fauziah, Tegaskan Pasien Penyakit Katastropik Ditanggung JKA

Dua calon wakil gubernur (cawagub) Aceh, Fadhil Rahmi (1) dan Fadhullah (2) yang diapit oleh Hendra Budian maupun Fajran Zain sebagai pendamping masing-masing, dari atas mimbar tampak menyimak. Sesekali terlihat mencatat.

Sementara dari bawah, lulusan Leiden University dan Harvard University itu, sedari tadi, terus menjelaskan pokok-pokok pikirannya tentang kebudayaan Aceh.

“Aceh peringkat 22 nasional dengan nilai 53,33. Lima tingkat di bawah rata-rata nasional dengan nilai 57,13,” sebut Reza.

Fokus utamanya adalah Indeks Pembagunan Kebudayaan (IPK). Dengan sumber data Bappenas, Kemendikbud dan BPS tahun 2023. Ia menggarisbawahi satu hal, bahwa IPK tidak mengukur nilai budaya suatu daerah, melainkan Kinerja Pembagunan Budaya.

Fakta tersebut, menurutnya, mengundang pertanyaan sekaligus indikasi adanya masalah. Terhadap tata kelola, cara melihat dari fungsi dan nilai; benda budaya yang dimiliki Aceh.

Selama ini, ada kecenderungan melihat kebudayaan sebagai sesuatu yang sangat spesifik. Lebih kepada ekspresi seni, hanya melihat kebudayaan sebagai pelengkap kegiatan-kegiatan resmi.

“Ketika orang membayangkan kebudayaan, orang-orang akan membayangkan ada tarian di depan, pembacaan puisi, atau sekadar pembacaan pantun pembuka dan penutup di sebuah kata sambutan,” bebernya.

Namun dimensi kebudayaan yang menjadi tolak ukur IPK meliputi: ekonomi budaya, pendidikan, ketahanan sosial budaya, ekspresi budaya, budaya literasi, hingga gender.

Cawagub, Rektor UIN Ar-Raniry, dan pemateri berfoto bersama | foto: Istimewa

Sembari menunjukkan data pada slide PPT, tangannya menekan laser pointer. Katanya, Aceh mungkin boleh berbangga, memiliki satu karya budaya yang sudah diakui UNESCO, yaitu Saman.

Tetapi butuh perhatian bersama, bahwa pengakuan UNESCO ini, bukan pengakuan abadi.

“Apabila sampai saat ini kita tidak lagi memahami nilai dan fungsi Saman dalam masyarakat Aceh. Bisa jadi, suatu hari (nanti) pengakuan UNESCO terhadap karya Saman itu dicabut,” jelas Reza.

Karena itu, UNESCO juga akan melihat bagaimana masyarakat Aceh, memelihara dan melihat apakah masih relevan bagi kebudayaan masyarakatnya. Masih banyak tantangan dan masalah kebudayaan Aceh ke depan.

“Sampai saat ini, Aceh belum memiliki target terukur bagaimana menaikan IPK Aceh,” sebutnya menohok.

Mungkin Aceh mampu berekspresi di kebudayaan. Hanya saja, yang musti diingat bahwa kebudayaan, sesungguhnya belum menjadi arus utama dalam pembagunan.

“Yang paling penting ke depan, kita berharap, siapa pun yang menjadi pemimpin Aceh ke depan, itu memiliki apa yang disebut dengan Skema Dana Abadi Kebudayaan,” pesan Reza.

Fadhil Rahmi mengapresiasi dialog tersebut. Sebuah bukti kepedulian terhadap masa depan Aceh. Selebihnya, pemilik panggilan Syeh Fadhil ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan.

“Pendidikan erat kaitannya dengan kemiskinan. Buktinya, tingkat kemiskinan di Kota Banda Aceh, paling rendah se-Aceh,” bebernya.

Menurutnya, idealnya Aceh tidak ada lagi disparitas, dikotomi, lebih-lebih diskriminasi mendapatkan kesempatan pendidikan. Tidak hanya perkotaan, tapi juga harus menyentuh pedesaan; pedalaman. Yang sama kualitasnya.

“Kita yakin, dengan meningkatnya derajat pendidikan, Aceh ini akan menyelesaikan banyak masalah,” ujarnya.

Sementara itu, Fadhullah (Dek Fad) menyambut baik ajakan fokus terhadap kebudayaan. Itulah mengapa, ketika menyusun visi misi, pihaknya melibatkan 41 profesor dan 16 orang doktor. Agar sinergi antara pemerintah Aceh dan pusat.

Ia mengenang, sebelum Fadli Zon dilantik sebagai Menteri Kebudayaan, dari postur anggaran pusat, dirinya sudah tahu bahwa akan ada Kementerian Kebudayaan.

“Makanya kami (ingin) wujudkan Tamadun di makam Syiah Kuala. Itu kami dorong (sebagai) proyek program strategis nasional di Kementerian Kebudayaan,” kenangnya.

Usulan tersebut disampaikan, ketika Fadli Zon belum dilantik jadi menteri. “Ketika saya kirim, ini (program) dari Aceh, Kami tidak meminta yang lain. Yang kami minta Tamadun: pusat peradaban Islam terbesar di Asia Tenggara,” sebut Dek Fad.

Tags: Dialog keacehanindeks kebudayaanKebudayaan AcehUIN Ar Ranirry
Previous Post

Posko Pemenangan Cabup Pidie Jaya Diduga Ditembak

Next Post

DPRA Bentuk Tujuh Fraksi

Related Posts

Mujiburrahman Kembali Mendaftar sebagai Calon Rektor UIN Ar-Raniry 2026–2030

Mujiburrahman Kembali Mendaftar sebagai Calon Rektor UIN Ar-Raniry 2026–2030

by Ahmad Mufti
31 Maret 2026
0

MASAKINI.CO — Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Mujiburrahman, kembali mendaftarkan diri sebagai calon rektor untuk periode...

UKM Teater Rongsokan UIN Ar-Raniry akan Tampil di Ajang Nasional

by Ahmad Mufti
24 Oktober 2025
0

MASAKINI.CO — Teater Rongsokan, salah satu unit kegiatan seni teater dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh, kembali menunjukkan eksistensinya di kancah...

65 Pemakalah Bahas Zakat dan Wakaf pada Konferensi Internasional AISZAWA

65 Pemakalah Bahas Zakat dan Wakaf pada Konferensi Internasional AISZAWA

by Ulfah
21 September 2025
0

MASAKINI.CO – Sebanyak 65 pemakalah dari berbagai perguruan tinggi membahas isu-isu aktual seputar zakat dan wakaf pada konferensi internasional yang...

Next Post
DPRA Bentuk Tujuh Fraksi

DPRA Bentuk Tujuh Fraksi

Timnas Futsal Indonesia Bekuk Kamboja Tanpa Ampun

Discussion about this post

CERITA

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

7 Mei 2026

Dari Kuli Panggul ke Pencerita Visual, Perjalanan Sunyi Yulzi di Balik Lensa

1 Mei 2026

Berawal dari Angka Impor, Lahir Tempe Koro dari Dapur Aceh

1 Mei 2026

Latela Donut Olah Labu Jadi Produk Kekinian, Laris di Bazar Banda Experience

23 April 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...