MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Rabu, Mei 6, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Jejak Etnis Tionghoa di Serambi Mekkah

Riska Zulfira by Riska Zulfira
29 Januari 2025
in Cerita
0
Jejak Etnis Tionghoa di Serambi Mekkah

Ibadah etnis Tionghoa di Vihara Dharma Bakti | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Lampion-lampion merah tergantung di tiap sudut bangunan Vihara Dharma Bhakti. Ini merupakan tempat warga etnis Tionghoa beribadah.

Terletak di Jalan T. Panglima Polem, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, tempat ini ramai didatangi umatnya. Pagi hari perayaan Imlek 2576 kongzili gaun merah cerah dikenakan perempuan-perempuan etnis Tionghoa.

RelatedPosts

Dari Kuli Panggul ke Pencerita Visual, Perjalanan Sunyi Yulzi di Balik Lensa

Berawal dari Angka Impor, Lahir Tempe Koro dari Dapur Aceh

Latela Donut Olah Labu Jadi Produk Kekinian, Laris di Bazar Banda Experience

Di kawasan Peunayong memang tinggal beragam penduduk agama minoritas ini. Kulit putih kemerahan dan mata sipit menjadi penanda keberagaman.

Mereka hidup dengan rukun dan menghormati tanpa saling mengusik. Umat minoritas bebas beribadah menurut agama masing-masing meski provinsi berjuluk Serambi Mekkah itu menerapkan hukum syariat Islam.

Selain Vihara Dharma Bhakti, di Peunayong terdapat Vihara Buddha Sakyamuni, vihara Maitri dan Dewi Samudera. Ketiga vihara ini berdampingan dengan Gereja Protestan. Bahkan tak jauh dari situ, berdiri megah sebuah masjid.

Saban hari, kawasan Peunayong tak pernah sepi, sebab daerah ini menjadi pusat perdagangan di Kota Banda Aceh.

Keberadaan etnis Tionghoa di Aceh bukanlah sesuatu yang baru, melainkan telah berlangsung selama ratusan tahun dan menjadi bagian penting dari sejarah daerah ini.

Menurut akademisi Prodi Sejarah Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Mawardi, kehadiran etnis Tionghoa di Aceh pertama kali pada abad ke-17 Masehi.

Berdasarkan literatur sejarah, mereka mulai bermigrasi ke Aceh pada tahun 1875. Awalnya, kedatangan mereka dibawa oleh Belanda sebagai tenaga kerja dari luar untuk mengelola fasilitas militer.

Ketika pertama kali datang, hanya ada 190 orang etnis Tionghoa yang dibawa Belanda.

“Namun, seiring dengan semakin luasnya wilayah kekuasaan Belanda, jumlah mereka terus bertambah hingga mencapai 3.200 orang pada masa itu,” jelas Mawardi, Rabu (29/1/2025).

Lokasi Aceh yang strategis di pintu masuk Selat Malaka menjadikannya kawasan perdagangan internasional yang ramai.

Tak hanya sebagai buruh, para imigran Tionghoa juga tertarik untuk berdagang di wilayah ini. Akhirnya, banyak dari mereka memutuskan untuk menetap, membaur, dan menjadi bagian dari masyarakat Aceh.

Direktur Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, Mawardi. (foto: masakini.co/Riska Zulfira)

Salah satu warisan nyata kehadiran etnis Tionghoa di Aceh dapat dilihat di kawasan Peunayong, Banda Aceh. Nama Peunayong sendiri berasal dari bahasa Aceh, yaitu “peupayong,” yang berarti memayungi.

Awalnya, daerah ini hanyalah kebun kelapa. Namun, seiring waktu, kawasan tersebut berkembang menjadi pusat bisnis yang penting di Banda Aceh, khususnya bagi komunitas Tionghoa.

Sejak dulu Peunayong memang telah menjadi daerah internasional. Pada zaman kepemimpinan Sultan Iskandar Muda daerah ini dijadikan sebagai kota “spesial”.

Julukan spesial karena Sultan memberikan rasa aman kepada para tamu yang datang ke daerah itu. Bahkan tak jarang Sultan juga menjamu para tamu kerajaan yang datang dari Eropa maupun Tiongkok.

Di Peunayong, berbagai aktivitas perdagangan, kuliner, hingga budaya khas Tionghoa tumbuh subur. Hingga kini, kawasan tersebut menjadi simbol keberagaman di tengah mayoritas penduduk muslim.

Keberadaan etnis Tionghoa di Aceh selama ratusan tahun berlangsung tanpa konflik yang berarti. Sifat masyarakat Aceh yang terbuka dan gemar bermasyarakat menjadi salah satu faktor yang mendukung hubungan harmonis ini.

Meski Aceh menjalankan syariat Islam, warga Tionghoa tetap hidup nyaman dan tidak pernah terusik.

“Mereka bahkan memiliki rumah ibadah serta organisasi etnis yang tumbuh tanpa gangguan,” ujar Mawardi.

Kehidupan damai ini mencerminkan prinsip penting dari penerapan syariat Islam di Aceh, yaitu menjamin kebebasan beragama dan menghormati keyakinan masyarakat lain.

Sikap saling menghormati inilah yang membuat etnis Tionghoa tetap merasa aman dan betah tinggal di Aceh.

Selain dalam sektor perdagangan, etnis Tionghoa juga mewariskan budaya dan tradisi yang memperkaya keragaman Aceh. Perayaan tahun baru Imlek, misalnya, menjadi momen yang dirayakan dengan penuh semangat oleh masyarakat Tionghoa di Aceh, yang kerap melibatkan interaksi dengan masyarakat lokal.

Kini, generasi muda dari etnis Tionghoa juga turut berkontribusi dalam berbagai bidang seperti pendidikan, ekonomi, hingga seni. Mereka menjadi bagian dari pembangunan Aceh tanpa kehilangan identitas budaya mereka.

Sejarah panjang kehadiran etnis Tionghoa di Aceh menjadi bukti bahwa keberagaman dapat tumbuh harmonis di bawah naungan nilai-nilai agama yang menghormati perbedaan.

Tags: acehEtnis TionghoaImlek 2576 KongziliSerambi MekkahVihara Dharma Bhakti
Previous Post

BRI Peduli Salurkan Sembako di Imlek 2025 untuk Warga Tangerang dan Singkawang

Next Post

Kronologis Kecelakaan yang Merenggut Nyawa Zal Debus

Related Posts

Kacang Koro Jadi Alternatif Pangan, Tempe Lokal Dikembangkan di Aceh

by Aininadhirah
29 April 2026
0

MASAKINI.CO – Kacang koro mulai dilirik sebagai alternatif pangan lokal yang potensial di Aceh. Komoditas ini dinilai mampu menjadi bahan...

LKPJ 2025 Dipaparkan, Pendapatan Aceh Tembus Target

by Riska Zulfira
7 April 2026
0

MASAKINI.CO - Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, memaparkan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025 dalam Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat...

Stok Hewan Meugang Idul Fitri di Aceh Aman, Sapi Capai 16.381 Ekor

Untuk Kedua Kali, Presiden Salurkan Sapi Meugang ke Aceh Jelang Idulfitri

by Riska Zulfira
18 Maret 2026
0

MASAKINI.CO - Presiden Prabowo Subianto kembali menyalurkan bantuan sapi untuk tradisi meugang di Aceh menjelang Idulfitri 1447 Hijriah. Ini menjadi...

Next Post
Kronologis Kecelakaan yang Merenggut Nyawa Zal Debus

Kronologis Kecelakaan yang Merenggut Nyawa Zal Debus

Ribuan Polisi Disebar ke Seluruh Aceh untuk Amankan TPS

Paksa Pacar Aborsi, Polisi di Polda Aceh Diperiksa Propam

Discussion about this post

CERITA

Dari Kuli Panggul ke Pencerita Visual, Perjalanan Sunyi Yulzi di Balik Lensa

1 Mei 2026

Berawal dari Angka Impor, Lahir Tempe Koro dari Dapur Aceh

1 Mei 2026

Latela Donut Olah Labu Jadi Produk Kekinian, Laris di Bazar Banda Experience

23 April 2026

Rumah Dibakar Ayah, Ibu dan Dua Anak Selamat dari Amukan Dini Hari

7 April 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...