MASAKINI.CO – Kenaikan harga emas murni yang terus melambung dalam beberapa bulan terakhir, menimbulkan keresahan di tengah masyarakat Aceh. Pasalnya, banyak warga di pedesaan yang memiliki utang berupa emas kini kesulitan melunasi kewajiban mereka karena nilai tukar emas telah naik nyaris tiga kali lipat dibanding harga saat mereka meminjamnya.
Di sejumlah gampong di Aceh Besar, praktik pinjam-meminjam emas kerap terjadi, biasanya karena ada keperluan mendesak. Sebab emas menjadi alat pinjaman yang lebih dipercaya dibanding uang tunai karena dianggap lebih stabil nilainya. Namun ketika harga emas melonjak tajam, sistem ini justru membuat peminjam kesulitan.
Wati, warga Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, salah satunya. Ia mengaku meminjam empat mayam emas enam tahun lalu, ketika harga emas masih sekitar Rp2 juta per mayam. Kini, harga emas malah melampaui hingga tiga kali lipat, tapi ia belum mampu melunasinya.
“Waktu saya pinjam dulu, harga emas belum tinggi. Sekarang kita makin kewalahan untuk ganti,” kata Wati, Rabu (15/10/2025).
Kenaikan harga emas yang tinggi membuat banyak warga menunda pembayaran. Sementara di sisi lain, pemberi pinjaman juga menuntut kepastian agar utang tidak dianggap macet.
Sebagai jaminan, Wati wajib menyerahkan empat karung gabah setiap kali musim panen tiba. Sistem ini disebutnya sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada pemberi pinjaman, sekaligus cara menjaga kepercayaan.
“1 mayam jaminan 1 karung gabah. Gabah itu bukan untuk mengganti emasnya, tapi sebagai tanda kami masih tanggung jawab. Selama utang belum lunas, tiap panen kami kasih hasilnya,” jelasnya.
Kenaikan harga emas di Aceh disebut mencapai rekor tertinggi sepanjang tahun ini. Di sejumlah toko emas di Banda Aceh, harga emas murni saat ini menembus kisaran Rp7.180.000 per mayam belum termasuk ongkos pembuatan. Harga ini naik signifikan dalam sebulan terakhir.
Menurut pedagang emas di Banda Aceh, Daffa, lonjakan harga emas dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed) yang memangkas suku bunga. Kondisi ini mendorong investor asing beralih ke emas sebagai aset aman.
“Kenaikan ini pula menyebabkan pembeli emas menurun, dominan yang menjual saat ini,” katanya.










Discussion about this post