MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Selasa, Februari 17, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home News

Perempuan Aceh Suarakan Darurat Lingkungan: Tolak Eksploitasi Atas Nama Pembangunan

Riska Zulfira by Riska Zulfira
23 Oktober 2025
in News
0

Anggota Forum Perempuan Parakegal Lingkungan Hidup Aceh (FPPA) menunjukkan surat cinta alam. | Foto: Riska Zulfira/masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Forum Perempuan Paralegal Lingkungan Hidup Aceh (FPPA) menegaskan bahwa kondisi alam Aceh saat ini berada dalam situasi genting. Hutan dibabat, sungai tercemar, rawa mengering, dan aktivitas tambang terus merusak ruang hidup masyarakat.

Koordinator FPPA, Iramaya mengatakan, kondisi ini paling terdampak terhadap perempuan karena ketika alam rusak, kehidupan mereka dan anak-anak ikut terampas.

RelatedPosts

Penjualan Bumbu Siap Masak di Pasar Rukoh Meningkat Saat Meugang

Harga Daging Meugang di Banda Aceh Tembus 180 Ribu per Kg

Jelang Ramadan, Harga Emas Perhiasan dan Antam Turun

Ia menjelaskan pihaknya tidak menolak adanya pembangunan apapun termasuk tambang rakyat jika tambang tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat dan tidak merusak lingkungan.

“Kami tidak menolak pembangunan. Tapi kami menolak pembangunan yang mengorbankan lingkungan dan masyarakat kecil. Kami menolak Aceh dijadikan ladang eksploitasi atas nama kemajuan,” tegas Iramaya saat kegiatan Temu dan Konsolidasi Perempuan Paralegal Lingkungan Hidup Aceh 2025 yang digelar di Banda Aceh, Kamis (23/10/2025).

Ia mengatakan, berbagai proyek dan izin tambang di Aceh selama ini sering dijalankan tanpa memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Akibatnya, banyak perempuan di pedesaan kehilangan sumber air bersih, lahan pertanian, hingga tempat mencari nafkah.

“Perempuanlah yang pertama kali merasakan dampak ketika sungai kering, hutan hilang, atau tanah longsor datang. Mereka kehilangan sumber pangan, air, dan penghidupan,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, FPPA yang diikuti perwakilan dari berbagai kabupaten di Aceh menyerukan sembilan tuntutan penting kepada Pemerintah Aceh. Mereka meminta agar Pemerintah meninjau ulang kebijakan tambang rakyat agar tidak dijadikan dalih eksploitasi dan benar-benar berpihak pada keselamatan manusia serta kelestarian lingkungan.

Kemudian juga mendesak pemerintah Aceh menjamin ruang kelola perempuan di kawasan hutan, bukan justru memberikan izin perusahaan besar yang mengatasnamakan ekonomi rakyat. Lalu mengakomodir Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) secara utuh dan mengikat dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Aceh.

“Perusahaan dan mafia tambang juga ditindak tegas jika terbukti merusaka lingkungan,” ucapnya.

Di sisi lain, perempuan paralegal lingkungan hidup ini juga meminta agar melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan dan pengawasan kebijakan lingkungan.

FPPA juga mendorong pemerintah segera mempercepat penerbitan Peraturan Gubernur tentang Penetapan Konflik Satwa sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk mengatasi konflik manusia dan satwa liar yang semakin sering terjadi di berbagai wilayah Aceh.

Iramaya menambahkan, masih banyak kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat kecil dan perempuan. Ia berharap Pemerintah Aceh lebih terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat sipil.

“Kami ingin pemerintah mendengar suara perempuan. Kami bukan penghambat pembangunan, tapi kami ingin pembangunan yang adil dan tidak menghancurkan alam,” katanya.

FPPA juga menyerukan pentingnya penguatan ekonomi lokal yang berbasis pada potensi desa, seperti ekowisata dan kerajinan tangan yang ramah lingkungan.

Menurut Iramaya, ekonomi berbasis potensi lokal bisa menjadi solusi agar masyarakat tetap sejahtera tanpa harus bergantung pada industri ekstraktif.

“Kita ingin ekonomi yang hidup berdampingan dengan alam, bukan ekonomi yang mematikan sumber kehidupan,” tambahnya.

Tags: FPPAhutan AcehKawasan Ekosistem Leuser (KEL)
Previous Post

Juru bicara militer baru Brigade Al-Quds, Abu Hamza.

Next Post

Rapat Bersama KPK, Sekda Aceh Targetkan Capaian MCSP Tahun Ini 95 Persen

Related Posts

Kayu di Lokasi Bencana Berpotensi Jadi Bukti Pelanggaran Lingkungan

by Riska Zulfira
13 Desember 2025
0

MASAKINI.CO - Pemerintah Aceh menegaskan bahwa kayu-kayu yang berada di kawasan terdampak banjir bandang dan tanah longsor tidak boleh diambil...

Tantangan Mengantar Logistik Pemilu ke Kawasan Ekosistem Leuser

Tantangan Mengantar Logistik Pemilu ke Kawasan Ekosistem Leuser

by Alfath Asmunda
14 Februari 2024
0

MASAKINI.CO - Gampong (desa) Alur Keujruen masuk dalam kawasan ekosistem Leuser yang telah dikenal seantero negeri sebagai paru-paru dunia. Butuh...

Susur ‘Hutan Paru-Paru Dunia’ Lewat Sungai Alas-Singkil

Susur ‘Hutan Paru-Paru Dunia’ Lewat Sungai Alas-Singkil

by Masa Kini
13 Maret 2023
0

MASAKINI.CO - Hutan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) merupakan salah satu dari sejumlah hutan tropis yang masih tersisa di dunia. Hutan...

Next Post
Rapat Bersama KPK, Sekda Aceh Targetkan Capaian MCSP Tahun Ini 95 Persen

Rapat Bersama KPK, Sekda Aceh Targetkan Capaian MCSP Tahun Ini 95 Persen

Harga Emas di Banda Aceh Berangsur Turun, Rp7.330.000 per Mayam 

Harga Emas di Banda Aceh Berangsur Turun, Rp7.330.000 per Mayam 

Discussion about this post

CERITA

Ismatul Rahmi pemeran Hasanah dalam dokudrama NOEH | Foto: dok pribadi

Air Mata Hasanah, Luka yang Tak Terlihat dalam Film Noeh

17 Februari 2026

Menembus Batas Negeri, Perjalanan Naufal Maulana Menggapai Beasiswa Pemerintah Rusia

14 Februari 2026

Meugang, Tradisi Turun-Temurun Aceh Menyambut Ramadan

4 Februari 2026

Ramadan di Tenda: Harapan Pengungsi Kalasegi untuk Rumah yang Terlambat Datang

3 Februari 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co