MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Rabu, Oktober 7, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Foto

Air Mata Hutan

Ahmad Mufti by Ahmad Mufti
30 November 2025
in Foto
0

Tugu di Pulo Sarok, Aceh Singkil yang dibangun untuk memperingati bencana tsunami. | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Banjir besar yang melanda Singkil membuat seluruh aktivitas warga lumpuh seketika. Sinyal komunikasi terputus total, listrik padam dan makanan mulai menipis. Dalam hitungan jam, desa-desa yang biasanya terhubung oleh jalur darat berubah menjadi wilayah-wilayah terisolasi yang sulit dijangkau.

Tampak dari atas kondisi pemukiman di Pulo Sarok, Aceh Singkil, Jumat (28/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Kondisi tersebut diperparah oleh jembatan utama yang putus akibat derasnya arus. Infrastruktur yang selama ini menjadi jalur vital antar kampung tak mampu menahan tekanan air yang terus meningkat.

RelatedPosts

Belajar Menaklukkan Ombak Jimbaran

KEMANDIRIAN BANGSA: Jejak Hilirisasi Inalum dari Hulu hingga ke Hilir

Sehari di Pantai Parangkusumo

Warga melintasi kawasan permukiman yang terendam banjir menggunakan perahu darurat, Pulo Sarok, Aceh Singkil, Kamis (27/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Akibatnya, akses darat tidak dapat digunakan sama sekali, menyulitkan distribusi bantuan maupun upaya evakuasi.

Sejumlah warga Pulo Sarok, Aceh Singkil dievakuasi ke lokasi yang lebih aman, Jumat (28/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Di tengah situasi darurat ini, warga tidak memiliki banyak pilihan. Jalur laut menjadi satu-satunya rute yang masih memungkinkan untuk berpindah ke lokasi yang lebih aman.

Ruas jalan lintas Singkil – Rimo tergenang air. | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Kapal nelayan dan speedboat menjadi sarana utama evakuasi, meski harus menembus cuaca buruk dan gelombang yang tidak menentu.

Mefrian, salah satu warga yang membantu masyarakat yang terjebak banjir menggunakan speedboat, Anak Laut, Aceh Singkil, Jumat (28/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Ibu-ibu hamil, anak-anak, hingga warga lanjut usia terpaksa naik ke atas boat seadanya. Proses evakuasi berlangsung dengan penuh kecemasan, karena setiap perjalanan melintasi laut membawa risiko besar. Namun, tidak ada pilihan lain bagi mereka selain meninggalkan rumah dan harta benda yang terendam.

Sejumlah warga menyeberang menggunakan kapal nelayan ke lokasi yang tidak terisolir, Pulo Sarok, Aceh Singkil, Jumat (28/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Bahkan sejumlah fasilitas umum dan bangunan yang dianggap aman ikut terendam. Air memasuki lobi hotel, memenuhi lantai-lantai dasar, membuat para tamu harus mengungsi ke lantai atas sembari menunggu bantuan.

Yasir, salah satu tamu hotel di Pulo Sarok, Aceh Singkil, Kamis (27/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Aliran listrik yang terputus menambah kecemasan, menjadikan hotel yang biasanya menjadi tempat perlindungan justru ikut berada dalam keadaan darurat.

Sejumlah tamu hotel mengangkat genset yang mulai terendam banjir di salah satu pekarangan hotel di Pulo Sarok, Aceh Singkil, Rabu (26/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Kejadian ini menjadi yang terparah dalam catatan ingatan warga Singkil. Banjir sebesar ini belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan dalam musim hujan ekstrem sekalipun.

Warga melintasi genangan air sambil membawa perlengkapan rumah di Pulo Sarok, Aceh Singkil, Kamis (27/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Banyak warga menyebut bahwa bencana kali ini terasa berbeda, lebih cepat, lebih tinggi dan lebih besar dampaknya.

Aliran banjir yang mengalir ke laut. | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Sejumlah masyarakat menilai bahwa banjir besar ini tidak dapat dilepaskan dari maraknya perambahan hutan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Genangan air yang melewati jalan Singkil-Rimo. | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Berkurangnya tutupan hutan membuat kawasan pesisir dan dataran rendah kehilangan benteng alaminya yang selama ini menahan air.

Warga Pulo Sarok, Aceh Singkil berbelanja di warung yang masih buka saat bencana banjir, Jumat (28/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Tanpa perlindungan, air hujan dan limpahan dari daerah hulu meluncur deras ke pemukiman. Tanah yang telah kehilangan daya serap tidak mampu lagi mengendalikan aliran air.

Warga menyeberangi arus banjir di Pulo Sarok, Aceh Singkil, Kamis (27/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Akibatnya, wilayah yang selama ini aman dari banjir kini berubah menjadi kawasan rawan dengan tingkat kerusakan yang mengkhawatirkan.

Genangan air yang masih memenuhi jalan di Pulo Sarok, Aceh Singkil. | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Banjir yang merendam Singkil bukan hanya luapan air semata, melainkan tanda dari ekosistem yang kian rapuh. Ini merupakan peringatan keras dari alam bahwa kerusakan yang terus terjadi tidak lagi bisa diabaikan.

Tags: BanjirBanjir Aceh SingkilBencana BanjirPerambahan Hutan
Previous Post

Mulai Besok, UIN Ar-Raniry Hentikan Perkuliahan Sementara

Next Post

Bantuan Logistik Akhirnya Tembus Pining, Gayo Lues Berhari-hari Terisolir

Related Posts

Masuk Musim Hujan, Illiza Cek Drainase dan Ingatkan Warga soal Sampah

by Riska Zulfira
3 Oktober 2026
0

MASAKINI.CO – Memasuki musim hujan, Pemerintah Kota Banda Aceh memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi genangan dan banjir dengan membenahi drainase, memelihara jalan,...

AICRF Minta Kesiapsiagaan Bencana Aceh Diperkuat Jelang Puncak Hujan Oktober-Desember

by Redaksi
18 September 2026
0

MASAKINI.CO – Yayasan Ketangguhan Komunitas Aceh Indonesia (AICRF) meminta pemerintah daerah di Aceh memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi peningkatan curah hujan...

Banjir dan Longsor Landa Tiga Kabupaten di Aceh, Mualem Minta Warga Waspada

by Riska Zulfira
15 September 2026
0

MASAKINI.CO – Banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan Aceh Tengah pada 13-14 September 2026....

Next Post

Bantuan Logistik Akhirnya Tembus Pining, Gayo Lues Berhari-hari Terisolir

Stok Beras Habis 4 Hari, Warga Pulau Banyak Terpaksa Makan Umbi dan Hasil Alam

Discussion about this post

CERITA

PFI Malang Rekam Cerita di Balik Pangan Lewat Pameran Foto

25 September 2026

Dari Teras Rumah, Nova Mengubah Hobi Memotret Makanan Jadi Profesi

16 September 2026

Jumadin Bawa Kupiah Meukeutop Aceh Menatap Pasar Dunia

25 Agustus 2026

Dari Banda Aceh ke Pelosok Papua, Reza Mencari Potensi yang Tersembunyi di Teluk Wondama

12 Agustus 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...