MASAKINI.CO – Babak penyisihan cabang Khattil Quran dalam MTQ ke-35 tingkat Kabupaten Aceh Besar berlangsung di Dayah Daruzzahidin, Desa Lamceu, Kecamatan Kuta Baro, pada Selasa (27/10/2026). Dalam perlombaan ini, peserta mengikuti golongan digital dan kontemporer dengan cara pengerjaan serta media yang berbeda.

Dengan bantuan tablet dan pena digital, peserta mengolah bentuk huruf serta menyusun komposisi kaligrafi di layar. Di balik penggunaan perangkat tersebut, ketepatan bentuk huruf tetap menjadi bagian penting dalam pengerjaan khat.

Perangkat lunak desain memberi peserta ruang untuk mengatur bentuk dan komposisi tulisan. Namun, kemampuan mengoperasikan aplikasi saja tidak cukup. Peserta juga perlu memahami kaidah kaligrafi agar teknologi tidak sekadar menjadi alat untuk menghasilkan gambar.

Pada golongan kontemporer, peserta mengerjakan kaligrafi secara langsung di atas kanvas. Kuas dan warna menjadi bagian dari proses mereka membentuk tulisan, berbeda dengan peserta golongan digital yang bekerja melalui layar perangkat elektronik.

Di ruang perlombaan, karya kaligrafi berkembang melalui pilihan bentuk, warna, dan komposisi yang beragam. Perbedaan pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa seni kaligrafi dapat dikerjakan melalui media yang berbeda, dengan keterampilan yang tetap perlu diasah.

Pada media kanvas, peserta membentuk tulisan melalui goresan kuas dan lapisan warna. Setiap bagian dikerjakan secara langsung, sehingga ketelitian dalam mengolah detail menjadi bagian dari proses menghasilkan karya.

Tablet, laptop, kuas, dan kanvas menghadirkan cara kerja yang berbeda dalam perlombaan ini. Meski medianya tidak sama, peserta tetap dituntut menguasai kaidah kaligrafi sebagai dasar dalam membentuk tulisan.

Di sela proses perlombaan, aktivitas di sekitar ruang peserta turut membentuk suasana babak penyisihan. MTQ tidak hanya berlangsung melalui karya yang dikerjakan, tetapi juga melalui orang-orang yang hadir di sekitarnya.

Salah satu dewan hakim pada cabang Khattil Quran, Tarmizi menjelaskan bahwa belajar kaligrafi tidak semata-mata untuk mengikuti perlombaan. Ia berharap semakin banyak generasi muda mengenal dan mencintai seni ini, termasuk melalui pengajaran di sekolah formal. Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, penguasaan kaidah serta kemampuan menghasilkan karya secara mandiri tetap menjadi perhatian.








Discussion about this post