MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Minggu, Oktober 25, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Semalam Bersama Kanye West

Redaksi by Redaksi
25 Oktober 2026
in Cerita
0

Radhi (24) menonton Kanye West | Foto: Dok untuk masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Histeria pecah ketika sosok Kanye West muncul dari balik bola raksasa yang berdiri megah di tengah lautan penonton. Ribuan pasang mata yang sejak tadi terpaku pada instalasi berbentuk bumi itu seketika tertuju kepadanya.

Di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, malam itu, sang rapper menjadi pusat perhatian.

RelatedPosts

Desa Wisata Ulee Lheue Tawarkan Sensasi Ngopi di Atas Perahu

Kisah Abdul Majid, 21 Tahun Menyambung Alas Kaki demi Menghidupi Keluarga

PFI Malang Rekam Cerita di Balik Pangan Lewat Pameran Foto

Di antara ribuan penonton yang memadati stadion, Radhi (24) tak mampu menyembunyikan kegembiraannya. Perjalanan jauh dari Aceh, ujung barat Indonesia, terasa terbayar lunas. Kemegahan panggung dan tata cahaya yang menyelimuti stadion menjadi pengalaman yang selama ini hanya bisa ia bayangkan.

“Beautiful morning, you’re the sun in my morning, babe, nothing unwanted…”

Radhi ikut melafalkan lirik demi lirik lagu yang dibawakan langsung oleh musisi idolanya. Sesekali, ia mengangkat telepon genggam untuk merekam momen yang tak ingin dilewatkannya. Ia berusaha menyimpan sebanyak mungkin kenangan dari malam yang telah lama dinantikan itu.

“Ini kali pertama saya menyaksikan konser penyanyi luar negeri, dan di luar Aceh,” katanya di sela-sela riuh penonton.

Untuk sampai di GBK malam itu, Radhi bukan hanya menempuh perjalanan lintas pulau. Ia juga menyiapkan biaya yang tidak sedikit. Sekitar Rp4 juta ia keluarkan untuk membeli tiket kategori Festival A agar bisa menikmati pertunjukan dari jarak yang lebih dekat dengan panggung utama.

Padahal, tersedia tiket kategori lain dengan harga mulai sekitar Rp1,875 juta. Namun, Radhi memilih menambah pengeluaran demi mendapatkan pengalaman yang diinginkannya, tanpa harus membeli tiket kategori Royal Suite atau VIP East.

Biaya tiket itu belum termasuk ongkos pesawat pulang-pergi Aceh–Jakarta dan kebutuhan selama berada di ibu kota. Untuk urusan penginapan, ia memilih tinggal selama sepekan di Cove Prima, Antasari, Jakarta Selatan. Ia tiba pada Kamis dan berencana kembali ke Aceh pada Kamis pekan berikutnya.

Pada hari konser, Sabtu (24/10/2026), Radhi berangkat menuju GBK sekitar pukul 18.30 WIB. Ia memesan ojek daring dan tiba di Gate E sekitar sepuluh menit kemudian.

Perjalanan itu bukan keputusan spontan. Sejak duduk di bangku SMP, Radhi telah mengenal karya-karya Kanye West, yang juga dikenal dengan nama Ye. Bagi dia, rapper asal Amerika Serikat itu bukan sekadar musisi yang sedang populer, melainkan sosok yang karyanya telah lama ia ikuti.

Karena itu, ketika informasi mengenai konser Ye Live in Jakarta mulai ramai beredar di Instagram pada Juni lalu, Radhi langsung memantapkan niat untuk datang.

“Kebetulan tabungan juga ada. Apalagi dia rapper idola saya. Kapan lagi, kan?” ujarnya.

Di tengah kerumunan penonton, Radhi menangkap hal lain yang menarik perhatiannya. Sepengamatannya, penonton berkewarganegaraan asing tampak lebih banyak dibandingkan penonton lokal. Pemandangan itu menjadi salah satu kesan yang ia bawa dari konser tersebut.

Radhi juga tidak asing dengan kontroversi yang menyertai perjalanan karier Kanye West. Sebelum berangkat ke Jakarta, ia mengaku telah membaca berbagai pemberitaan mengenai sang rapper, termasuk polemik yang pernah memengaruhi hubungan Ye dengan sejumlah merek besar.

Namun, kontroversi itu tidak menghapus kekagumannya terhadap pengaruh Kanye dalam perkembangan musik rap.

“Ada istilah pas konser Kanye itu: cancel culture can’t cancel culture,” kata Radhi.

Baginya, pengaruh Ye terhadap musisi generasi berikutnya merupakan salah satu alasan karya-karyanya tetap mendapat tempat di kalangan penggemar. Ia menilai Kanye telah memberi pengaruh besar terhadap perkembangan musik rap dan perjalanan karier sejumlah rapper dunia.

“Pengaruh dia di musik rap itu gede banget. Travis Scott sendiri pernah bilang, dia nggak bakal ada kalau nggak ada Kanye. Dia meng-influence banyak sekali bintang rap dunia,” tuturnya.

Radhi juga menyinggung penampilan Bianca Censori, istri Kanye West, yang menurut pengamatannya tampak lebih tertutup ketika berada di Indonesia. Ia mengaku sempat melihat unggahan dari Bandara Halim yang memperlihatkan penampilan tersebut.

Bagi Radhi, pengalaman menonton langsung sang idola membuat berbagai hal yang selama ini hanya ia lihat melalui layar terasa begitu dekat. Malam itu, musik, tata panggung, dan ribuan suara yang bernyanyi bersama menjadi satu pengalaman yang sulit digantikan.

Puncak emosional pertunjukan datang ketika Kanye membawakan “Runaway”. Denting piano dari lagu tersebut menggema di stadion, berpadu dengan kemegahan bola raksasa yang berputar dan letupan kembang api yang menerangi langit Jakarta. Setelah rangkaian 32 lagu, malam yang dinanti Radhi akhirnya mencapai penghujungnya.

Namun, pengalaman itu tidak berhenti pada kemegahan panggung. Dari perjalanan jauh yang ia tempuh, Radhi justru membawa pulang satu harapan untuk tanah kelahirannya.

Mimpi Konser Besar di Aceh

Di tengah euforia menyaksikan konser berskala internasional, Radhi membayangkan pengalaman serupa suatu hari nanti bisa dinikmati masyarakat Aceh tanpa harus bepergian jauh ke luar daerah.

Ia berharap Banda Aceh maupun kota-kota lain di Aceh dapat menjadi tempat penyelenggaraan konser berskala besar, dengan dukungan regulasi dan perizinan yang jelas.

“Saya harap konser seperti ini dapat diadakan di Aceh, siapa pun artisnya, dan dengan regulasi yang jelas pastinya,” ujarnya.

Bagi Radhi, kepastian perizinan menjadi salah satu hal penting agar penyelenggara dapat merencanakan acara dengan baik. Ia tidak ingin antusiasme masyarakat yang telah tumbuh sejak masa promosi berakhir dengan pembatalan akibat persoalan izin atau kendala lainnya.

“Jangan promosi kencang di awal, tetapi ujung-ujungnya di-cancel karena terkendala izin atau hal lainnya. Karena konser besar dapat mendongkrak ekonomi suatu daerah dan meningkatkan PAD daerah,” katanya.

Ia melihat konser bukan semata-mata hiburan. Jika dikelola dengan baik, acara berskala besar berpotensi menggerakkan berbagai sektor, mulai dari transportasi, penginapan, kuliner, hingga usaha kecil yang melayani kebutuhan pengunjung.

Harapan itu pula yang ingin ia lihat tumbuh di Aceh. Daerah yang selama ini ia kenal sebagai rumah, menurutnya, juga perlu memiliki ruang lebih luas bagi pertunjukan musik dan perkembangan ekonomi kreatif.

“Saya harap Kota Banda Aceh atau kota-kota lainnya di Aceh dapat membuat konser skala besar, supaya daerah kita makin dikenal dan memajukan ekonomi kreatif pastinya,” harapnya.

Malam di GBK akhirnya berakhir, dan Radhi harus kembali berhadapan dengan kenyataan di luar stadion. Ribuan penonton bergerak meninggalkan lokasi, sementara kendaraan memenuhi jalanan di sekitarnya. Perjalanan pulang menuju penginapannya di Antasari yang sebelumnya hanya membutuhkan sekitar sepuluh menit saat berangkat, kini memakan waktu hingga 40 menit dengan ojek daring.

Di tengah kendaraan yang merayap, rasa lelah setelah berdesakan dan bernyanyi berjam-jam perlahan bercampur dengan kelegaan. Perjalanan jauh dari Aceh, biaya yang telah disiapkan, dan penantian sejak masa sekolah akhirnya bermuara pada satu malam yang akan ia kenang.

Bagi Radhi, konser Kanye West bukan sekadar kesempatan melihat musisi idola dari dekat. Malam itu juga menyisakan sebuah keinginan: suatu hari nanti, ia ingin melihat panggung megah seperti yang baru disaksikannya berdiri di tanah Aceh.

Tags: Banda AcehEkonomi Kreatif AcehKanye WestKonser di Acehkonser GBKkonser internasionalkonser Ye Live in JakartaRadhi
Previous Post

Tujuh Rumah Terbakar di Darul Imarah, Tiga Rusak Berat

Next Post

MTQ Aceh Besar Kembali Digelar Setelah Delapan Tahun, 665 Peserta Bertanding

Related Posts

Desa Wisata Ulee Lheue Tawarkan Sensasi Ngopi di Atas Perahu

by Riska Zulfira
22 Oktober 2026
0

MASAKINI.CO – Menikmati senja sambil menyeruput kopi Aceh tak harus dari tepi pantai. Di Desa Wisata Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa,...

Harga Material Turun, Usaha Pemilahan Sampah di Gampong Jawa Tetap Bertahan

by Redaksi
18 Oktober 2026
0

MASAKINI.CO - Penurunan harga material bekas tidak menyurutkan usaha pemilahan sampah di Gampong Jawa, Banda Aceh. Warga setempat tetap menjalankan...

Banda Aceh Kelola 58 Aplikasi untuk Perkuat Keterbukaan Informasi Publik

by Redaksi
14 Oktober 2026
0

MASAKINI.CO – Pemerintah Kota Banda Aceh mengelola 58 aplikasi untuk mendukung keterbukaan informasi publik dan pelayanan pemerintahan. Dari jumlah tersebut,...

Next Post

MTQ Aceh Besar Kembali Digelar Setelah Delapan Tahun, 665 Peserta Bertanding

Discussion about this post

CERITA

Semalam Bersama Kanye West

25 Oktober 2026

Desa Wisata Ulee Lheue Tawarkan Sensasi Ngopi di Atas Perahu

22 Oktober 2026

Kisah Abdul Majid, 21 Tahun Menyambung Alas Kaki demi Menghidupi Keluarga

14 Oktober 2026

PFI Malang Rekam Cerita di Balik Pangan Lewat Pameran Foto

25 September 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co