MASAKINI.CO – Di antara pesona laut dan hamparan pasir Pulau Rubiah, Sabang, terdapat sebuah makam yang menyimpan cerita tentang perjalanan Islam di Pulau Weh. Makam Siti Rubiah, yang dikenal sebagai istri ulama Tengku Ibrahim atau Tengku Iboih, menjadi salah satu tujuan ziarah sekaligus tempat masyarakat mengenang kisah tokoh yang dipercaya berperan dalam penyebaran Islam di kawasan tersebut.
Makam itu berada di tepi pantai Pulau Rubiah. Area pemakaman telah dilengkapi pagar dan atap, sementara beberapa makam lain yang diyakini milik anak dan menantunya berada di sekitarnya.
Bagi pengunjung, tempat ini bukan hanya persinggahan di tengah perjalanan menikmati wisata bahari Sabang. Makam tersebut juga menyimpan cerita turun-temurun tentang kehidupan Siti Rubiah dan hubungannya dengan Tengku Ibrahim, ulama yang namanya lekat dengan kawasan Iboih.
Masyarakat setempat, Muhammad Hatta menuturkan bahwa Siti Rubiah merupakan istri Tengku Ibrahim. Keduanya kemudian tinggal terpisah. Dalam cerita yang diwariskan masyarakat setempat, Siti Rubiah menetap di pulau yang kini dikenal dengan namanya hingga akhir hayat, sedangkan Tengku Ibrahim tetap berada di kawasan Iboih.
Hatta juga mengisahkan bahwa perpisahan itu berkaitan dengan perbedaan pandangan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk soal keberadaan anjing yang dipelihara Siti Rubiah. Namun, menurut penuturannya, peristiwa tersebut bukan perceraian.
“Sejarahnya yang menyebar di masyarakat seperti itu,” katanya, Sabtu (24/10/2026).
Kisah itu menjadi bagian dari ingatan lisan masyarakat mengenai kehidupan dua tokoh tersebut. Meski demikian, detail hubungan keduanya dan alasan mereka tinggal terpisah masih memerlukan penelusuran melalui sumber sejarah tertulis agar dapat dipastikan secara lebih utuh.
Sejumlah keterangan mengenai Siti Rubiah menyebutkan bahwa ia berasal dari Singkil dan diperkirakan hidup pada abad ke-18. Ia disebut meninggal pada 1779.
“Penamaan Pulau Rubiah pun karena mengikuti namanya, karena beliau lah yang pertama kali menginjakkan kaki disini,” sebutnya.
Siti Rubiah dipercaya sebagai salah satu tokoh yang dihormati karena perannya dalam penyebaran Islam. Namanya kemudian diabadikan menjadi nama Pulau Rubiah. Meski demikian, hubungan antara penamaan pulau dan riwayat hidupnya perlu ditelusuri lebih lanjut melalui sumber sejarah.
Cerita lain menyebutkan bahwa Siti Rubiah tinggal di pulau itu bersama para pengikut atau santrinya hingga meninggal dunia. Makam yang berada di tepi pantai tersebut pun menjadi penanda keberadaan kisah keagamaan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Tempat Ziarah dan Ingatan Sejarah
Makam Siti Rubiah dikunjungi masyarakat yang ingin berziarah dan berdoa. Kunjungan biasanya meningkat pada bulan-bulan suci, termasuk Ramadan. Bagi para peziarah, tempat ini menjadi ruang untuk mengenang tokoh yang dihormati sekaligus merefleksikan perjalanan penyebaran Islam di Sabang.
Ziarah ke makam tersebut juga menjadi bagian dari tradisi keagamaan masyarakat. Pengunjung datang untuk berdoa, bukan menjadikan makam sebagai tempat mencari jimat atau kekayaan.
Dalam cerita keagamaan setempat, Siti Rubiah dikaitkan dengan jaringan spiritual Aulia 44 di Sabang. Kaitan itu menjadi bagian dari tradisi lisan yang hidup di tengah masyarakat, meski rincian hubungan historisnya masih perlu didukung penelitian lebih lanjut.
Keberadaan makam ini memperlihatkan bahwa daya tarik Pulau Rubiah tidak hanya terletak pada laut dan keindahan alamnya. Di balik kawasan yang dikenal sebagai tujuan wisata bahari itu, tersimpan pula kisah tentang tokoh agama dan tradisi ziarah yang masih bertahan.








Discussion about this post