MASAKINI.CO – Bekas lahan parkir sepeda yang sempat terendam lumpur banjir kini berubah menjadi kebun sayur produktif di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 42 Bireuen. Lebih dari sekadar menghijaukan pekarangan, kebun edukasi ini menjadi ruang belajar terbuka sekaligus upaya membangkitkan kembali semangat siswa yang sebagian besar terdampak banjir pada akhir 2025.
Di atas lahan berukuran 9,5 x 15 meter di Gampong Raya Tambo, Kecamatan Peusangan, berbagai tanaman tumbuh subur. Bayam, kangkung, terong, timun, semangka, hingga tanaman obat keluarga menghiasi pekarangan yang sebelumnya gersang dan dipenuhi endapan lumpur.
Banjir yang menerjang Aceh pada penghujung 2025 sempat merusak lingkungan madrasah. Banyak pohon tumbang, tanaman bunga mati, dan pekarangan terendam lumpur hingga setinggi lutut orang dewasa.
Dampaknya tidak hanya terlihat pada kondisi fisik sekolah. Saat tahun ajaran baru 2026 dimulai, sejumlah siswa menunjukkan penurunan motivasi belajar. Kondisi tersebut dapat dipahami karena sekitar 95 persen murid MIN 42 Bireuen merupakan penyintas banjir.
Situasi itu mendorong Vonna Putri Hasti (35), Ketua Tim Pengembangan Madrasah, mencari cara untuk menghidupkan kembali suasana belajar. Bersama kepala madrasah dan wakil kepala bidang kurikulum, ia menggagas pemanfaatan lahan bekas parkir sepeda sebagai kebun edukasi.
Gagasan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan sosialisasi kepada para guru dan pembentukan tim koordinator lingkungan.
“Kebun edukasi menjadi tempat bagi anak-anak kami untuk menyentuh tanah secara langsung, merawat kehidupan, dan terpenting adalah sarana memulihkan trauma lewat alam,” kata Vonna.
Belajar dari Menanam hingga Memanen
Kebun itu dirancang bukan hanya sebagai ruang penghijauan, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran di luar kelas atau outdoor learning. Kegiatan menanam, merawat, dan memanen tanaman diintegrasikan ke dalam proses belajar mengajar, salah satunya melalui mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS).
Siswa tidak sekadar menerima materi di dalam kelas. Mereka terlibat langsung mengolah tanah, menanam benih, menyiram tanaman, hingga melihat hasilnya ketika masa panen tiba.
“Dengan adanya kebun sekolah, kami bisa belajar langsung bagaimana cara menanam, merawat, dan memanen sayuran,” ujar Abidzar, siswa kelas VI.
Di luar dugaan, tanaman yang dibudidayakan tumbuh subur di lahan bekas endapan lumpur banjir. Menurut Vonna, bayam dan kangkung tumbuh dengan daun lebar dan hijau pekat meski tanpa tambahan pupuk kimia.
Kesuburan tanaman itu kemudian menarik perhatian warga yang melintas di sekitar madrasah. Letak kebun yang berada di sisi pagar membuat hasil panennya mudah terlihat dari luar.
Fauziah (62), salah seorang warga setempat, mengaku tertarik membeli sayuran karena terlihat segar.
“Saya lihat dari luar pagar memang segar-segar sekali sayurnya. Daripada jauh-jauh harus ke pasar lagi, mending langsung beli di sini,” katanya.
Hasil Panen Menghidupi Kebun
Ketertarikan warga turut membuka peluang bagi madrasah untuk mengelola hasil panen secara mandiri. Sayuran yang dipanen dijual, sedangkan uang yang terkumpul dimasukkan ke kas kebun untuk membeli bibit baru dan memenuhi kebutuhan perawatan.
Vonna masih mengingat hasil penjualan pada panen pertama yang mencapai Rp128.000. Saat itu, seikat bayam dijual seharga Rp1.000.
“Alhamdulillah saat pertama kali panen dulu, dapatlah rezeki seratus dua puluh delapan ribu rupiah. Karena seikat bayam kami jual seribu rupiah,” kenangnya.
Seiring waktu, keterlibatan keluarga besar madrasah semakin luas. Komite sekolah turut membantu memasarkan hasil panen agar sayuran yang dihasilkan dapat terserap oleh masyarakat.
Kini, kebun tersebut telah memasuki panen keempat. Selain bayam dan kangkung, berbagai tanaman lain seperti cabai, daun sup, singkong, terong, daun kelor, dan jagung turut tumbuh di pekarangan madrasah.
Kegiatan merawat kebun bahkan menjadi rutinitas baru bagi para guru. Tak jarang mereka kembali ke sekolah pada sore hari untuk menyiram tanaman dan mengolah tanah meski kegiatan belajar mengajar telah usai.
Bagi Vonna, keberlanjutan kebun itu tidak hanya ditentukan oleh hasil panen, tetapi juga semangat kebersamaan dan rasa memiliki yang tumbuh di lingkungan madrasah.
Di lahan yang sebelumnya menyisakan lumpur dan kerusakan akibat banjir, MIN 42 Bireuen kini menemukan ruang untuk belajar, menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, dan membangun kembali semangat setelah bencana.










Discussion about this post