MASAKINI.CO – Perjalanan hilirisasi aluminium Indonesia dari Kalimantan Barat, tempat bijih bauksit diolah menjadi alumina oleh PT Borneo Alumina Indonesia (PT BAI), anak perusahaan PT Inalum di Mempawah. Melalui Pelabuhan Kijing, materi alumina bernilai tinggi tersebut dimuat ke atas kapal dry bulk carrier untuk menyeberangi lautan menuju dermaga khusus PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) yang berlokasi di Desa Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara.
Setibanya di Kuala Tanjung, bahan baku tersebut langsung dialirkan menuju kawasan pabrik peleburan terpadu. Energi hijau menjadi sumber utama dalam menggerakkan operasional Inalum. Seluruh daya listrik raksasa untuk memutar industri peleburan ini disuplai oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan, yang berada di Paritohan, Kabupaten Toba. Skema energi terbarukan ini membuktikan komitmen perusahaan dalam menjaga kelestarian alam sejak dari hulu energi.
Di dalam area pabrik, para operator memantau kondisi operasional secara real time guna memastikan proses reduksi elektrolisis di tungku peleburan smelter mengolah alumina menjadi cairan logam murni secara konstan. Kedisiplinan ini ditunjang oleh aktivitas para pekerja di lapangan yang rutin melakukan inspeksi dan perawatan berkala pada tiap unit mesin.
Selanjutnya cairan logam dicetak menjadi batangan Aluminium Ingot, Billet, dan Aluminium Alloy, forklift bergerak memindahkannya menuju gudang penyimpanan. Ribuan aluminium yang berkualitas tinggi tersusun rapi di sana, siap didistribusikan untuk menyokong kebutuhan berbagai industri manufaktur strategis di tanah air.
Sebagai bagian dari komitmen industri hijau yang holistik, Inalum tak hanya menekan emisi melalui penggunaan PLTA, tetapi juga gencar melakukan pembibitan tanaman keras untuk dibagikan kepada masyarakat disekitar kawasan operasional di Paritohan yang membutuhkan, serta menanam kembali dalam rangka melestarikan alam sebagai wujud nyata keberlangsungan alam untuk generasi selanjutnya. Sinergi kelestarian ini berlanjut hingga ke permukiman warga di sekitar pabrik. Melalui program CSR dan pemberdayaan masyarakat, kelompok binaan di Pintu Pohan, Kabupaten Toba, dan di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara di Sumatera Utara, dilatih mengolah limbah rumah tangga menjadi produk kerajinan bernilai jual, sebuah rantai hilirisasi utuh yang tidak hanya mengolah kekayaan mineral bangsa, tetapi juga merawat lingkungan dan menghidupkan kemandirian warga di sekitarnya.








Foto: Hendra Syamhari/masakini.co










Discussion about this post