MASAKINI.CO – Kemukiman Saree, di Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, selama bertahun-tahun menjadi tempat persinggahan bagi pengendara yang melintasi jalur nasional Banda Aceh–Medan. Deretan warung keripik di sepanjang jalan menjadi tempat orang beristirahat sekaligus membeli oleh-oleh. Namun, sejak Jalan Tol Sigli–Banda Aceh (Sibanceh) beroperasi, para pedagang merasakan penurunan jumlah pembeli. Sebagian masih bertahan di tempat lama, sementara yang lain mencoba membuka cabang atau memindahkan usaha ke kawasan Padang Tiji, Kabupaten Pidie.

Bob Rijal, pengelola Keripik Cek Sam yang memulai usahanya pada 1998, mengalami penurunan penjualan yang turut memengaruhi pekerjanya. Dari sekitar 60 orang yang pernah bekerja dengannya, kini hanya empat orang yang dipanggil ketika dibutuhkan. Ia tidak lagi mampu membayar upah bulanan seperti sebelumnya. Bob menggambarkan keadaan usahanya saat ini, “Dari 100 persen hanya tinggal 1 persen, cuma sisa nyawa saja kita ni.”
Menurut Bob, dampak penurunan penjualan tidak berhenti pada pemilik warung. Petani pemasok ubi dan buruh yang terlibat dalam produksi keripik ikut kehilangan pekerjaan dan penghasilan ketika usaha tidak berjalan. “Karena efek berantai, kami enggak jalan, petani juga enggak jalan, buruh enggak jalan, orang-orang udah enggak ada uang, banyak kali pengangguran sekarang di Sare,” ujarnya.

Abdul Salam telah berjualan keripik di Sare selama 12 tahun. Sebelumnya, ia bisa menjual hingga 10 kilogram untuk setiap varian keripik dalam sehari. Kini, dagangannya terkadang tidak laku. Ia tidak memiliki cabang maupun pengiriman ke luar daerah. Meski pembeli semakin sedikit, Abdul Salam tetap berjualan karena usaha tersebut menjadi satu-satunya sumber penghidupannya.

Syahrida telah berjualan keripik di Sare selama delapan tahun. Sebelumnya, ia menghabiskan sekitar 20 tahun menggoreng keripik dan memasarkannya ke berbagai daerah. Kini, pembeli yang datang kebanyakan pelanggan tetap. Akhir pekan yang dahulu ramai tidak lagi jauh berbeda dengan hari biasa. Sebagian pembeli juga khawatir keripik yang dijual sudah lama tersimpan karena sepinya penjualan, meskipun barang yang tersedia masih baru.

Ariyadi membantu mengelola warung milik kakak iparnya yang telah beroperasi sekitar 20 tahun. Mereka masih menggoreng keripik untuk dikirim ke cabang di Padang Tiji. Sementara itu, Nasruddin mengandalkan cabang usaha dan pengiriman ke luar daerah untuk mempertahankan penjualan. Namun, menurut para pedagang, usaha di lokasi baru belum mampu menyamai penjualan saat Sare masih ramai menjadi tempat persinggahan.

Saat pandemi Covid-19, para pedagang juga mengalami penurunan penjualan. Namun, usaha mereka berangsur pulih setelah pandemi mereda. Kali ini, mereka khawatir kondisi sepi akan berlangsung lebih lama. Meski demikian, sebagian pedagang masih bertahan membuka warung, meskipun pembeli yang datang tidak lagi seramai dulu.







Discussion about this post