MASAKINI.CO – Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh mencatat lebih dari 89 ribu hektare lahan sawah di berbagai kabupaten/kota terdampak banjir dan longsor. Dari jumlah itu, 27 ribu hektare dinyatakan rusak berat dan tidak bisa ditanami kembali.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Distanbun Aceh, Safrizal, mengatakan angka tersebut merupakan hasil verifikasi lapangan sementara dari 19 kabupaten di Aceh. “Dari total luas baku sawah 202 ribu hektar, hampir separuhnya terdampak banjir. Sekitar 62 ribu hektare masih bisa ditanami kembali, tetapi ada lebih dari 27 ribu hektar yang rusak berat,” katanya kepada masakini.co, Selasa (9/12/2025).
Beberapa daerah mencatat kerusakan signifikan. Aceh Utara menjadi wilayah dengan dampak terbesar mencapai 39.762 sawah terendam. Lalu di Bireun terdampak 15.100 hektar, Aceh Timur 10.990 hektar dan Aceh Tamiang selus 8.161 hektar sawah yang terendam.
Aceh Utara sebanyak 13.935 hektar dipastikan rusak total dan tidak dapat ditanami lagi. Kondisi serupa juga terjadi di Aceh Tamiang seluas 6.200 hektar sawah terendam dan Bireun seluas 2.149 hektar tidak dapat dipulihkan. Gayo Lues juga masuk kategori berat dengan kerusakan mencapai 1.511 hektar dari total 1.866 hektare terdampak.
Wilayah lain yang juga mencatat kerusakan tinggi adalah Lhokseumawe, di mana dari 1.105 hektar sawah terendam, hanya 5 hektare yang dapat diselamatkan. Selebihnya, 1.100 hektar mengalami kerusakan parah. Di Aceh Barat, sebanyak 1.216 hektar sawah dilaporkan tidak lagi bisa ditanami dari total 2.439 hektare yang terendam.
Namun demikian, beberapa daerah dengan luas terdampak besar masih memiliki peluang pemulihan. Aceh Timur mencatat 10.990 hektar sawah terendam dan seluruhnya masih dapat ditanami kembali.
“Begitupun Aceh Besar, 3.316 hektar lah terdampak dan masih bisa ditanami kembali,” sebutnya.










Discussion about this post