MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Selasa, Februari 17, 2026
  • Home
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Operasi Caesar Perdana Pasca Bencana Pidie Jaya

Ulfah by Ulfah
15 Desember 2025
in Cerita
0

Tim Medis Satgas Universitas Syiah Kuala (USK) untuk Respon Senyar Aceh melakukan operasi caesar perdana di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pidie Jaya setelah bencana banjir. | Foto : USK

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Tim Medis Satgas Universitas Syiah Kuala (USK) untuk Respon Senyar Aceh berhasil melakukan operasi caesar perdana di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pidie Jaya dalam kondisi yang belum kondusif pasca bencana.

Sedikitnya ada 11 pasien obstetri datang hampir bersamaan, namun 10 di antaranya membutuhkan operasi caesar darurat.

RelatedPosts

Menembus Batas Negeri, Perjalanan Naufal Maulana Menggapai Beasiswa Pemerintah Rusia

Meugang, Tradisi Turun-Temurun Aceh Menyambut Ramadan

Ramadan di Tenda: Harapan Pengungsi Kalasegi untuk Rumah yang Terlambat Datang

Ketua Tim Medis USK, Zulkarnain mengatakan kala itu kondisi rumah sakit masih limbung, tenaga medis terbatas, dan alat medis harus dipakai bergantian.

“Di tengah bencana, semua batasan itu hilang. Yang tersisa hanyalah kebutuhan untuk menyelamatkan nyawa,” ucap Zulkarnain.

Zulkarnain mengungkapkan dalam kondisi genting itu, layanan bersalin pun mengalami krisis tenaga kesehatan seperti bidan yang sangat terbatas. Malam itu setiap kasus pasien obstetri ini membawa risikonya masing masing.

Contohnya, lanjut Zulkarnain, ada pasien dengan distosia PK2, ketika proses persalinan tersendat dan tidak ada kemajuan meski waktu sudah berjalan panjang. Lau ada seorang ibu dengan preeklamsia berat, tekanan darahnya tidak dapat dikontrol meski obat telah diberikan.

Ada pula yang memiliki letak janin lintang, mustahil dilahirkan normal. Bahkan, beberapa pasien memiliki riwayat operasi caesar dua kali, sehingga upaya melahirkan secara normal sama saja dengan mengundang bahaya besar.

Selain itu, terdapat ibu yang mengalami ketuban pecah lebih dari 24 jam, meningkatkan risiko infeksi ibu dan bayi.

Liza Muknisa, PPDS Obgyn yang berada di ruang operasi malam itu mengungkapkan, menunda sama dengan mempertaruhkan dua nyawa.

“Kami melihat langsung kondisinya, tidak ada pilihan lain selain melakukan operasi segera, pasien dengan ketuban pecah lebih 24 jam bisa menyebabkan infeksi yang berbahaya pada ibu dan janin,” ungkapnya.

Liza mengungkapkan, menjalankan operasi di tengah bencana bukanlah hal mudah. Walau ruang operasi RSUD Pidie Jaya masih layak digunakan, tantangan besar menghadang di banyak lini, seperti peralatan medis terbatas dan harus digunakan secara bergantian.

Katanya, alat-alat yang selesai digunakan harus disterilkan ulang satu per satu, dan yang bertugas melakukan sterilisasi hanya satu petugas yang masih aktif karena yang lain terdampak banjir.

“Komunikasi dengan dokter anestesi terganggu akibat jaringan yang tidak stabil, sehingga koordinasi harus dilakukan dengan improvisasi,” kata Liza.

Tantangan lainnya, tenaga bidan sangat minim, sehingga observasi bayi dan ibu harus dilakukan dengan kerja berlapis.

“Kami menggunakan apa yang ada. Walaupun alat harus digilir, kami tetap lanjutkan operasi. Pasien tidak bisa menunggu,” ungkap Liza.

Tangisan Bayi Simbol Harapan

Tangisan bayi yang biasanya menjadi suara umum kini berubah menjadi simbol harapan. Suara itu hadir di tengah generator yang bekerja keras dan di tengah tubuh-tubuh tenaga medis yang tidak sempat beristirahat sejak hari pertama tiba.

Para dokter tidak menyangka bahwa dalam kondisi “sekacau” itu, operasi dapat berjalan selancar yang mereka upayakan. Ruang operasi yang biasanya menjadi tempat kerja klinis yang tenang kini menjadi arena darurat di mana setiap detik membawa makna berbeda.

Para dokter bergerak cepat, perawat dan tenaga anestesi bekerja dalam keheningan yang hanya dipecah oleh instruksi singkat dan dering alat monitor.

Di luar ruang operasi, para suami, keluarga, dan warga terdampak duduk di lorong yang remang, mengantongi rasa cemas sekaligus berharap bahwa dokter-dokter yang tengah berjuang itu mampu melawan batas batas kondisi bencana.

Tim medis B dan C dari Satgas USK untuk Respons Badai Senyar Aceh tiba di Pidie Jaya sebagai tim bantuan gelombang kedua, menggantikan tim A yang sudah sejak hari pertama berjuang tanpa henti.

Mereka datang membawa tenaga, namun segera mendapati bahwa kenyataan di lapangan jauh lebih berat dari perkiraan.

Malam itu, di sebuah rumah sakit yang dikepung bencana, manusia membuktikan bahwa bahkan dalam rahim bencana, kehidupan tetap menemukan jalan. Dan dari ruang operasi yang sederhana itu, lahirlah bukan hanya enam bayi, tetapi juga bukti bahwa harapan tak pernah benar-benar hilang ia hanya menunggu untuk diperjuangkan.

Pasien IGD Tanpa Henti

IGD penuh sesak oleh pasien yang datang tanpa henti, ada yang terluka saat evakuasi, ada yang terkena sengau puing rumah, ada pula warga dengan penyakit kronis yang kambuh setelah berhari-hari berjuang membersihkan rumah mereka yang hancur.

Di ruang rawat, sebagian besar kamar belum dibuka karena banyak tenaga kesehatan tidak dapat bertugas rumah mereka terendam, keluarga mereka terpisah, hidup mereka sendiri sedang porak-poranda.

“Pasien berdatangan tanpa henti. Banyak tenaga kesehatan yang belum bisa bertugas karena rumah mereka ikut terdampak. Di tengah itu semua, keputusan harus cepat. Operasi tidak bisa menunggu,” ujar Zulkarnain.

Di tengah segala keterbatasan itu, kolaborasi medis justru melampaui batas-batas wilayah dan institusi. Tim USK dibantu oleh dokter dokter dari Universitas Hasanuddin, termasuk seorang dokter kandungan dan dokter BPDS yang tiba tepat waktu untuk ikut menyelamatkan nyawa. Tenaga kamar operasi dari RSU Zainal Abidin juga turut bergabung, memperkuat proses tindakan di ruang operasi.

Ketika masyarakat masih menghitung kerugian dan memunguti sisa-sisa hidup, para tenaga medis memilih untuk menjadi dinding terakhir tempat kehidupan kembali bernafas.

Tags: Banjir AcehBanjir LongsorBanjir Pidie JayaOperasi caesarPascabencanaUniversitas Syiah KualaUSK
Previous Post

Pemerintah Aceh Minta Keterlibatan UNDP dan UNICEF Tangani Pasca Bencana

Next Post

Pemadaman dan Kelangkaan Gas Berlarut, DPRK: Harus Serius

Related Posts

Disdukcapil Bener Meriah Pulihkan Kembali Dokumen Korban Bencana

by Aininadhirah
6 Februari 2026
0

MASAKINI.CO - Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Bener Meriah telah memulihkan kembali dokumen warga yang terdampak bencana alam...

Ramadan di Tenda: Harapan Pengungsi Kalasegi untuk Rumah yang Terlambat Datang

by Riska Zulfira
3 Februari 2026
0

MASAKINI.CO - Dalam dinginnya malam dan panasnya siang, tenda darurat itu menjadi satu-satunya tempat yang melindungi 14 kepala keluarga yang...

Mirza Tabrani Raih Suara Terbanyak, Resmi Pimpin USK Lima Tahun ke Depan

by Aininadhirah
2 Februari 2026
0

MASAKINI.CO - Prof. Dr. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A resmi terpilih sebagai Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) untuk masa jabatan...

Next Post

Pemadaman dan Kelangkaan Gas Berlarut, DPRK: Harus Serius

Korban Kebakaran di Banda Aceh Terima Bantuan dari Pemko

Discussion about this post

CERITA

Menembus Batas Negeri, Perjalanan Naufal Maulana Menggapai Beasiswa Pemerintah Rusia

14 Februari 2026

Meugang, Tradisi Turun-Temurun Aceh Menyambut Ramadan

4 Februari 2026

Ramadan di Tenda: Harapan Pengungsi Kalasegi untuk Rumah yang Terlambat Datang

3 Februari 2026

Dari Aceh ke Jakarta Lewat Layar: Cerita Irhamna Menemukan Ritme Kerja yang Lebih Tenang

1 Februari 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co