MASAKINI.CO – Malam itu, jarum jam sudah menunjuk pukul 22.00 WIB. Syarifah Nur Asiah (71), warga Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, masih berada di dalam rumahnya. Hujan turun tanpa henti. Ia tak menyangka, malam itu akan menjadi salah satu malam terpanjang dalam hidupnya.
Air datang perlahan, lalu meninggi dengan cepat. Dalam hitungan jam, rumah kecil itu berubah menjadi perangkap. Pintu tak bisa dibuka. Air sudah memenuhi ruangan. Syarifah terkurung sendirian.
“Air sudah penuh di dalam rumah. Pintu tidak bisa terbuka lagi. Saya di dalam, terkurung,” ucapnya lirih, dengan suara pelan mengingat malam yang hampir merenggut nyawanya, Minggu (21/12/2025).
Di tengah gelap dan dingin, ia hanya bisa berdoa. Mulutnya tak henti memohon pertolongan. “Tolong, tolong, tolong,” katanya berulang, berharap ada yang mendengar.
Namun malam terasa sangat sunyi. Orang-orang sudah berlarian menyelamatkan diri. Tak ada satu pun yang datang.
Jam terus berjalan. Dari pukul 10 malam hingga pukul 01.00 WIB dini hari, bahkan hingga pagi menjelang siang, Syarifah masih berada di dalam rumah, dikelilingi air. Tubuhnya lelah, pikirannya kacau, hatinya hancur.
Diusianya yang telah renta, Syarifah Nur berhasil bertahan ditengah kepungan air dan tanah yang menggunung di dalam rumahnya. Namun di balik duka, ia masih mengucap syukur. “Alhamdulillah, masih ada umur. Anak saya pun selamat.”
Sekitar pukul 10 pagi, setelah hampir setengah hari terkurung, bantuan akhirnya datang. Tim SAR menembus banjir dan berhasil mencapai rumahnya.
“Alhamdulillah, tim SAR datang ambil saya di dalam rumah,” ujarnya. Tangisnya pecah saat menceritakan momen itu. Ia diselamatkan dari rumah yang hampir tenggelam sepenuhnya.
Namun trauma belum selesai. Saat proses evakuasi, kepanikan kembali terjadi. Anaknya tak diketahui keberadaannya. “Airnya besar, gulungannya seperti tsunami,” katanya. Pengalaman itu membekas kuat di ingatannya hingga kini.
Di tengah semua kehilangan, Syarifah masih berhasil menyelamatkan satu benda yang paling ia jaga yaitu Al-Qur’an. Kitab suci itu kini selalu berada di sisinya, dibaca perlahan di pengungsian.
“Ini Al-Qur’an yang saya selamatkan. Saya baca-baca di pengungsian,” ucapnya sambil menatap mushaf yang sudah menemaninya melewati banjir dan ketakutan.
Sudah 24 hari sejak banjir melanda. Namun Syarifah belum bisa kembali ke rumah. Kondisinya rusak parah. Lumpur dan tanah memenuhi bagian dalam hingga hampir mencapai atap.
“Tidak bisa pulang. Di dalam rumah penuh tanah. Mau buka pintu saja tidak bisa,” katanya.

Ia sempat mencoba kembali ke rumah. Namun trauma membuat langkahnya terhenti. Melihat air kembali menggenang, rasa takut menyeruak. “Saya trauma. Kemarin pulang, ada air lagi. Saya tidak tahu mau bilang apa lagi,” ujarnya. Karena itu, ia memilih kembali ke pengungsian.
Di pengungsian, Syarifah tinggal bersama para ibu lainnya dan anak-anak. Di tengah keterbatasan, mereka saling menguatkan dengan cerita.
“Di sini rame-rame. Kami senang bisa cerita-cerita,” katanya. Obat-obatan dan makanan tercukupi. Ia bisa tidur lebih tenang, sesuatu yang sulit ia dapatkan jika kembali ke rumahnya yang rusak.
Untuk membersihkan rumah, ia sempat ditawari jasa pembersihan dengan biaya hingga Rp12 juta. Angka yang terasa sangat berat baginya.
“Untuk bersihkan rumah, diminta 12 juta,” ucapnya. Ia hanya bisa menghela napas.
Kini, Syarifah Nur Asiah menjalani hari-harinya di pengungsian dengan satu harapan sederhana, bisa pulang ke rumah tanpa rasa takut. Bisa hidup tenang di sisa usianya. Dan yang terpenting, tetap bersyukur karena masih diberi umur, meski sudah berkali-kali berhadapan dengan maut.
“Alhamdulillah, masih ada umur saya,” katanya berulang-ulang. Kalimat itu bukan sekadar ucapan, tapi kesaksian seorang ibu yang bertahan hidup dari malam paling kelam dalam hidupnya.










Discussion about this post