MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Rabu, Juni 10, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Terjebak di Rumah yang Kian Tenggelam, Syarifah Melawan Malam

Riska Zulfira by Riska Zulfira
21 Desember 2025
in Cerita, Headline, News
0

Syarifah Nur Asiah (71), warga Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya saat ditemui di Pengungsian yang bertempat di Sekretariat Koni Pidie Jaya | Foto: Riska Zulfira

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Malam itu, jarum jam sudah menunjuk pukul 22.00 WIB. Syarifah Nur Asiah (71), warga Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, masih berada di dalam rumahnya. Hujan turun tanpa henti. Ia tak menyangka, malam itu akan menjadi salah satu malam terpanjang dalam hidupnya.

Air datang perlahan, lalu meninggi dengan cepat. Dalam hitungan jam, rumah kecil itu berubah menjadi perangkap. Pintu tak bisa dibuka. Air sudah memenuhi ruangan. Syarifah terkurung sendirian.

RelatedPosts

Jaksa Tuntut 16 Tahun 8 Bulan Penjara untuk Ayah Tiri Pelaku Pemerkosaan Anak

Satpol PP-WH Banda Aceh Beri Pembinaan kepada Pasangan Muda-Mudi di Kawasan Rawan Pelanggaran Syariat

Pembuangan Sampah Sembarangan Masih Marak di Aceh Besar

“Air sudah penuh di dalam rumah. Pintu tidak bisa terbuka lagi. Saya di dalam, terkurung,” ucapnya lirih, dengan suara pelan mengingat malam yang hampir merenggut nyawanya, Minggu (21/12/2025). 

Di tengah gelap dan dingin, ia hanya bisa berdoa. Mulutnya tak henti memohon pertolongan. “Tolong, tolong, tolong,” katanya berulang, berharap ada yang mendengar. 

Namun malam terasa sangat sunyi. Orang-orang sudah berlarian menyelamatkan diri. Tak ada satu pun yang datang.

Jam terus berjalan. Dari pukul 10 malam hingga pukul 01.00 WIB dini hari, bahkan hingga pagi menjelang siang, Syarifah masih berada di dalam rumah, dikelilingi air. Tubuhnya lelah, pikirannya kacau, hatinya hancur. 

Diusianya yang telah renta, Syarifah Nur berhasil bertahan ditengah kepungan air dan tanah yang menggunung di dalam rumahnya. Namun di balik duka, ia masih mengucap syukur. “Alhamdulillah, masih ada umur. Anak saya pun selamat.”

Sekitar pukul 10 pagi, setelah hampir setengah hari terkurung, bantuan akhirnya datang. Tim SAR menembus banjir dan berhasil mencapai rumahnya.

“Alhamdulillah, tim SAR datang ambil saya di dalam rumah,” ujarnya. Tangisnya pecah saat menceritakan momen itu. Ia diselamatkan dari rumah yang hampir tenggelam sepenuhnya.

Namun trauma belum selesai. Saat proses evakuasi, kepanikan kembali terjadi. Anaknya tak diketahui keberadaannya. “Airnya besar, gulungannya seperti tsunami,” katanya. Pengalaman itu membekas kuat di ingatannya hingga kini.

Di tengah semua kehilangan, Syarifah masih berhasil menyelamatkan satu benda yang paling ia jaga yaitu Al-Qur’an. Kitab suci itu kini selalu berada di sisinya, dibaca perlahan di pengungsian.

“Ini Al-Qur’an yang saya selamatkan. Saya baca-baca di pengungsian,” ucapnya sambil menatap mushaf yang sudah menemaninya melewati banjir dan ketakutan.

Sudah 24 hari sejak banjir melanda. Namun Syarifah belum bisa kembali ke rumah. Kondisinya rusak parah. Lumpur dan tanah memenuhi bagian dalam hingga hampir mencapai atap.

“Tidak bisa pulang. Di dalam rumah penuh tanah. Mau buka pintu saja tidak bisa,” katanya.

Kondisi rumah warga di Pidie Jaya tertimbun longsor namun masih dapat digunakan | Foto: Riska Zulfira/masakini.co

Ia sempat mencoba kembali ke rumah. Namun trauma membuat langkahnya terhenti. Melihat air kembali menggenang, rasa takut menyeruak. “Saya trauma. Kemarin pulang, ada air lagi. Saya tidak tahu mau bilang apa lagi,” ujarnya. Karena itu, ia memilih kembali ke pengungsian.

Di pengungsian, Syarifah tinggal bersama para ibu lainnya dan anak-anak. Di tengah keterbatasan, mereka saling menguatkan dengan cerita.

“Di sini rame-rame. Kami senang bisa cerita-cerita,” katanya. Obat-obatan dan makanan tercukupi. Ia bisa tidur lebih tenang, sesuatu yang sulit ia dapatkan jika kembali ke rumahnya yang rusak.

Untuk membersihkan rumah, ia sempat ditawari jasa pembersihan dengan biaya hingga Rp12 juta. Angka yang terasa sangat berat baginya.

“Untuk bersihkan rumah, diminta 12 juta,” ucapnya. Ia hanya bisa menghela napas.

Kini, Syarifah Nur Asiah menjalani hari-harinya di pengungsian dengan satu harapan sederhana, bisa pulang ke rumah tanpa rasa takut. Bisa hidup tenang di sisa usianya. Dan yang terpenting, tetap bersyukur karena masih diberi umur, meski sudah berkali-kali berhadapan dengan maut.

“Alhamdulillah, masih ada umur saya,” katanya berulang-ulang. Kalimat itu bukan sekadar ucapan, tapi kesaksian seorang ibu yang bertahan hidup dari malam paling kelam dalam hidupnya.

Tags: Banjir dan Longsor AcehBencana AcehDesa Manyang CutKorban Bencana di Pidie JayaPengungsian
Previous Post

BMKG Deteksi Satu Titik Panas di Aceh, Berada di Aceh Tenggara

Next Post

Sejumlah Akses Jalan ke Bener Meriah dan Aceh Tengah Mulai Fungsional

Related Posts

Angin Kencang Rusak 58 Huntara di Aceh Utara, Belasan Unit Hancur

by Riska Zulfira
3 Juni 2026
0

MASAKINI.CO – Puluhan hunian sementara (huntara) di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, rusak setelah diterjang angin kencang yang terjadi secara...

Mualem Terima Delegasi Belanda, Kerja Sama Penanganan Bencana hingga Investasi Dibahas

by Redaksi
7 Mei 2026
0

MASAKINI.CO - Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menerima kunjungan Wakil Kepala Perwakilan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Adriaan Palm, di...

Koalisi Sipil Bantah Klaim Prabowo, Pemulihan Bencana Aceh Dinilai Belum Tuntas

by Aininadhirah
24 Maret 2026
0

MASAKINI.CO - Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Bencana menilai klaim Presiden Prabowo Subianto terkait pemulihan bencana di Aceh yang disebut hampir...

Next Post

Sejumlah Akses Jalan ke Bener Meriah dan Aceh Tengah Mulai Fungsional

Rakit Darurat Terbalik, Wagub Aceh Tercebur Sungai Saat Tinjau Lokasi Banjir di Aceh Tengah

Discussion about this post

CERITA

Dari Lahan Penggembalaan ke Destinasi Favorit, Savana Indrapuri Sedot Ribuan Pengunjung

24 Mei 2026

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

19 Mei 2026

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

12 Mei 2026

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

7 Mei 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...