MASAKINI.CO – Hidup Asmiati (59) berubah dalam waktu yang nyaris bersamaan. Perempuan yang selama ini dikenal aktif di lingkungan tempat tinggalnya itu harus kehilangan kaki kirinya akibat komplikasi diabetes. Di saat masih menjalani perawatan di rumah sakit, ia kembali menerima ujian yang lebih berat: suami yang mendampinginya selama ini meninggal dunia.
Kabar duka itu tidak langsung disampaikan kepada Asmiati. Keluarga memilih menunggu hingga kondisinya lebih stabil setelah menjalani operasi amputasi. Akibatnya, ia tidak sempat mengantarkan kepergian suaminya untuk terakhir kali.
“Saya lagi di rumah sakit, ternyata suami saya sudah tidak ada. Sampai sekarang saya juga belum tahu di mana makamnya, saya belum bisa mengunjunginya,” ucapnya lirih, Jumat (17/7/2026).
Perjalanan Asmiati menghadapi penyakit bermula ketika ia didiagnosis menderita diabetes. Ia sempat menjalani pengobatan alternatif, namun kondisinya terus memburuk hingga akhirnya harus dirawat di rumah sakit.
“Karena darah manis akhirnya diamputasi. Pertama berobat alternatif, lalu dibawa ke rumah sakit karena sering diinfus jadi berair sehingga harus diamputasi,” katanya.
Sekitar satu bulan menjalani perawatan, Asmiati akhirnya menjalani operasi amputasi di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
Sebelum sakit, keseharian Asmiati jauh dari kata diam. Ia dikenal sebagai sosok yang aktif membantu berbagai kegiatan di gampong. Ketika ada hajatan maupun warga yang berduka, ia hampir selalu hadir untuk memasak bersama ibu-ibu lainnya. Di sela aktivitas itu, ia juga berjualan secara daring untuk membantu perekonomian keluarga.
“Dulu saya aktif memasak di kampung. Kalau ada acara atau ada orang meninggal, saya selalu ikut membantu. Saya juga jualan online, banyak yang pesan,” kenangnya.
Kini, kursi roda menjadi teman setianya beraktivitas. Ruang geraknya memang berubah, tetapi keinginannya untuk kembali mandiri tidak ikut hilang.
Harapan yang ia simpan pun sederhana. Ia ingin memiliki kaki palsu agar dapat kembali berjalan dan menjalani aktivitas seperti sebelum sakit.
“Saya pengen punya kaki palsu saja. Saya masih mau beraktivitas seperti biasa lagi,” ujarnya.
Bagi Asmiati, kehilangan kaki dan kepergian suami bukan akhir dari perjalanan hidup. Di tengah cobaan yang datang berturut-turut, ia masih berusaha menjaga semangat untuk bangkit. Harapan itu kini bertumpu pada kesempatan untuk kembali berdiri, melangkah, dan kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang selama ini begitu dekat dengannya.








Discussion about this post