MASAKINI.CO – Luka Modric meninggalkan Real Madrid pada musim panas ini setelah menjalani 13 musim dan mencatat nama besar di sejarah klub tersebut. Saat itu dia berusia 39 tahun dan menyadari bahwa babak perjuangannya di Bernabeu telah usai, namun bukan berarti dia akan mengakhiri karir sepakbolanya. Negeri Italia membuka pintu baru baginya, dan Milan memberikan tanggung jawab besar. Setelah empat bulan berlalu, hasilnya sangat jelas: usia bukanlah penghalang ketika talenta yang dimiliki sangat luar biasa.
Modric kini menjadi pemain dengan total menit bermain terbanyak di bawah pimpinan pelatih Massimiliano Allegri pada babak pertama musim sebelum jeda musim dingin tiba. Setelah 15 pekan berlaga, Milan masih bertempur di zona teratas klasemen, hanya tertinggal satu poin dari Inter Milan. Kompetisi Serie A kali ini sangat ketat, dengan lima klub bersaing ketat dalam selisih hanya empat poin. Dalam kondisi yang sangat menuntut ini, Modric bukan sekadar pemain tambahan, melainkan tulang punggung tim.
Perubahan besar yang terjadi pada Milan menjadi alasan utama mengapa Modric bisa menunjukkan perannya sebagai pemimpin yang tenang. Pada musim lalu, Rossoneri hanya finis di posisi kedelapan, terpaut 19 poin dari puncak dan tidak mendapatkan tiket ke ajang Eropa. Namun musim ini, dengan adanya sang gelandang asal Kroasia yang berperan sebagai otak permainan, tim tampil lebih kokoh, dewasa, dan memiliki gaya permainan yang khas. Modric mampu mengatur ritme, memberikan jeda, serta mempercepat permainan sesuai kebutuhan; dia memberikan konsistensi, semangat juang, dan kemampuan membaca permainan yang mampu meningkatkan performa rekan setimnya.
“Data statistik juga mendukung kontribusi besar Modric. Pada usianya yang ke-40 tahun ini, dia telah mengumpulkan lebih dari 1.300 menit bermain di Serie A,” menukil marca, Sabtu (27/12/2025). “Menjadi pemain utama di setiap laga dan hanya tidak bermain penuh 90 menit dalam dua pertandingan saja.”
Tidak ada satu pun pemain di skuad Milan—baik kiper Mike Maignan maupun bek tengah tetap seperti Matteo Gabbia—yang memiliki beban bermain sebanyak dirinya. Selain itu, dia juga berhasil mencetak satu gol dan memberikan dua asistensi, serta menjadi pemain utama dalam setiap situasi bola diam seperti tendangan sudut.
Menit bermain yang tidak dia jalankan hanya terjadi di kompetisi lain di luar liga, seperti Supercoppa dan babak awal Coppa Italia, di mana dia selalu tampil sebagai pemain cadangan dengan waktu bermain yang diatur dengan cermat. Allegri memiliki strategi yang jelas: seluruh energi dan kemampuan kelas dunia Modric difokuskan untuk memastikan konsistensi performa tim di kompetisi liga. Di sinilah dia sangat dibutuhkan, dengan eksistensi yang tak terbantahkan dan daya tahan yang luar biasa.
Tak lama waktu yang lalu, kontribusi luar biasa Modric diakui dengan pemberian penghargaan Legenda Tahun dari media olahraga La Gazzetta dello Sport. Namun dia tidak terpaku pada pencapaian masa lalu dan lebih menikmati masa kini. “Saya bermain di klub terbesar di Italia,” ucapnya. Pada usia 40 tahun, Luka Modric tidak menunjukkan tanda-tanda akan meredup; dia memimpin permainan di stadion San Siro seolah-olah waktu benar-benar berhenti untuknya.








Discussion about this post