MASAKINI.CO – Sungai itu kini terlihat tenang. Airnya mengalir pelan, seolah tak pernah menyimpan amarah.
Namun bagi Abu Usman (73), ketenangan itu adalah ironi. Di sanalah rumahnya pernah berdiri. Di sanalah satu anak dan dua cucunya terakhir terlihat. Dan dari sanalah hidupnya tercerabut dalam satu malam yang tak akan pernah ia lupakan.
Abu Usman hanya tinggal berdua dengan istrinya Nurhayati (55) memerhatikan di atas tanah cokelat yang mengeras. Tak ada tiang, tak ada dinding. Hanya sisa lumpur yang menumpuk, seperti bekas luka yang mengering di kulit.
“Paling sepuluh persen saja airnya. Seratus persen itu tanah. Lumpur. Seperti gunung meletus,” katanya sata ditemui di pengungsian, Selasa (30/12/2025).
Ia mengangkat tangannya sedikit, menggambarkan sesuatu yang besar, berat, dan tak mungkin ditahan manusia. Matanya tak berkedip menatap ke arah sungai. Seolah dalam alirannya masih tersimpan sisa sisa kehidupan yang pernah ia punya.
Kampung Tanjung kecamatan Langkahan memang tak asing dengan banjir. Rumah-rumah berdiri rapat di pinggir sungai dekat dengan air yang memberi kehidupan, sekaligus ancaman yang setiap musim hujan mengintai.
“Kami sudah siap- siap pindahkan barang, lalu kami ke mesjid berkumpul, tapi kami tidak menyangka air sederas itu, rumah kami ternyata dibawa arus,” ujar Abu Usman.
“Barang-barang kami angkat. Yang bisa dibawa, kami bawa. Yang berat, kami tinggalkan,” tambahnya lagi.
Malam itu, air mulai naik. Warga bersiap seperti biasa. Anak-anak digendong, orang tua dipapah. Mereka memilih masjid sebagai tempat berlindung. Ruang suci itu menjadi titik kumpul tempat doa dan harapan disatukan.
Kalimatnya berhenti di situ. Suaranya mengecil. Ada nada penyesalan yang tak diucapkan, hanya terasa.
Malam turun, hujan tak berhenti. Dari jendela masjid, Abu Usman menyaksikan sungai berubah wajah. Air berwarna cokelat pekat datang membawa suara – suara benturan kayu, suara pohon tumbang, suara yang tak pernah ia dengar sebelumnya.
Lalu satu per satu rumah mulai melayang.
“Rumah kami ikut dibawa arus,” katanya lirih. “Hilang begitu saja.”
Tak ada teriakan malam itu. Tak ada kepanikan berlebihan. Hanya doa yang terus dilantunkan. Karena ketika air sudah bergerak, manusia tak lebih dari penonton yang tak berdaya.
Saat pagi datang, kampung itu tak lagi sama.
Semua harta benda Abu Usman lenyap. Pakaian, perabot, foto keluarga semuanya hanyut. Tetapi kehilangan terbesar bukanlah itu.
“Satu anak saya,” katanya, suaranya mulai bergetar.
“Dan dua cucu saya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa,” ujarnya.
Ia menunduk. Tangannya menggenggam lutut. Lama ia terdiam sebelum melanjutkan.
Kalimat itu menggantung. Tak selesai. Barangkali memang tak ada kata yang sanggup menutupnya.
Bagi Abu Usman, bencana ini membangkitkan ingatan lama yang selama bertahun-tahun ia pendam.
“Bencana ini tidak jauh beda dengan tsunami di Banda Aceh dulu,” katanya perlahan.
Waktu itu, Aceh tenggelam. Rumah, manusia, sejarah, semua disapu air. Abu Usman selamat, tetapi tak pernah benar-benar pulih.
“Banda Aceh masa meubungong saatnyo, giliran kamoe yang meulayang,”katanya pelan dengan logat Aceh yang kental. Ia tidak berbicara tergesa. Setiap kata seperti biasa ditimbang lebih dulu.
Kalimat itu keluar tanpa marah. Tanpa ratap. Justru dengan kepasrahan yang dalam pasrah yang hanya dimiliki orang-orang yang telah terlalu sering berhadapan dengan kehilangan.
Sungai sering hadir dalam mimpinya. Tetapi setiap pagi ia tetap bangun, menunaikan salat, dan duduk diam memandang orang-orang lalu lalang.
“Apa lagi yang mau kami lawan?,
Semua sudah terjadi,” katanya pelan
Sungai itu tetap mengalir. Tenang. Bisu. Seakan menolak bertanggung jawab atas kehilangan yang ditinggalkannya.
Sementara Abu Usman, dengan tubuh yang renta dan hati yang penuh luka, terus berdiri sebagai saksi bahwa di Tanjung, pada suatu malam, manusia kembali kalah oleh alam.
Dan seperti yang pernah terjadi di Aceh bertahun-tahun lalu, air datang, mengambil segalanya, lalu pergi.
Menyisakan mereka yang harus belajar hidup dari kehilangan.










Discussion about this post