MASAKINI.CO – Rumah sederhana di kawasan Kandang, Meunasah Mee, Lhokseumawe itu selama ini menjadi tempat berlindung bagi seorang ibu dan dua anaknya. Di sanalah mereka bertahan, menjalani hari dengan segala keterbatasan, tanpa banyak bergantung pada sosok kepala keluarga.
Rosyita tumbuh dalam situasi yang tidak mudah. Ibunya, sebagai istri pertama, harus bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Nafkah dari suami sudah lama tidak lagi datang. Sementara itu, sang ayah lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sewa bersama istri kedua.
Sesekali, ia pulang. Namun kehadirannya tak benar-benar membawa perubahan. Ia hanya singgah, bahkan lebih sering tidur di luar rumah.
Beberapa waktu lalu, ia datang dengan satu permintaan, uang Rp600 ribu untuk membayar rumah sewa yang ia tempati bersama istri kedua. Permintaan itu tak bisa dipenuhi. Kondisi ekonomi sang ibu memang terbatas, sementara kebutuhan hidup sehari-hari sudah cukup membebani.
“Ayah minta uang mamak saya untuk bayar rumah sewa senilai 600 ribu, tempat tinggal ayah sama istri kedua, sedangkan mamak saya istri pertamanya bahkan nafkah sehari-hari gapernah diberikan,” ujar Rosyita, Senin (6/4/2026).
Sejak itu, ketegangan semakin terasa.
Hingga pada suatu dini hari, sekitar pukul dua, suasana yang biasanya tenang mendadak berubah. Di dalam rumah, hanya ada Rosyita, adiknya, dan sang ibu yang sedang beristirahat.
Sang ibu sempat melihat ayah mereka berada di luar rumah. Gerakannya cepat, mencurigakan. Ia menyiramkan bensin ke bagian rumah, sebelum akhirnya api menyala.
“Jam 2 rumah kami terbakar, mamak sempat lihat ayah siram pakai bensin cuma karena pintu belakang di kunci dari belakang, mamak gabisa siram air karna api juga mulai membesar,” ujarnya lirih.
Tidak butuh waktu lama, kobaran api langsung membesar. Rumah yang mereka tempati dengan segala kesederhanaannya itu dengan cepat dilalap api. Upaya untuk memadamkan tidak sempat dilakukan.
“Dalam rumah cuma kami bertiga, saya, adik saya dan mamak,” ujar Rosyita.
Dalam kepanikan, mereka hanya bisa menyelamatkan diri dari dalam rumah yang mulai terbakar.
Peristiwa ini menjadi titik paling pahit dari konflik keluarga yang sudah lama terjadi tentang nafkah yang tak diberikan, hubungan yang merenggang, dan tanggung jawab yang ditinggalkan.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun, bagi Rosyita dan keluarganya, yang tersisa bukan hanya kerusakan rumah, melainkan juga pengalaman yang sulit dilupakan ketika ancaman datang justru dari orang yang seharusnya melindungi.
“Untung saya,mamak dan adik saya masih diberikan umur panjang,” pungkasnya.










Discussion about this post