MASAKINI.CO – Di tengah wacana kepemimpinan yang kerap masih dibayangi bias gender, langkah Prof. Dr. Inayatillah, M.Ag maju sebagai calon Rektor UIN Ar-Raniry menghadirkan satu pesan yang kuat perempuan bukan hanya bisa memimpin, tetapi juga mampu membuktikan kualitas kepemimpinannya.
Perjalanan Inayatillah tidak dibangun dalam ruang yang sunyi dari tantangan. Sejak menjadi dosen pada tahun 1998, ia telah menapaki dunia akademik dengan konsistensi panjang. Namun, ujian sesungguhnya justru datang ketika ia dipercaya memimpin STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh pada tahun 2019.
Saat itu, gelombang penolakan muncul. Bukan karena rekam jejak atau kapasitasnya, melainkan karena satu hal, ia seorang perempuan.
Demonstrasi terjadi. Penolakan terhadap kepemimpinannya sempat menguat, bahkan mempertanyakan kelayakan perempuan memimpin sebuah institusi pendidikan tinggi. Dalam situasi itu, Inayatillah tidak memilih jalan konfrontasi. Ia tetap bekerja, menjalankan tugas kepemimpinan dengan fokus pada pembenahan institusi, peningkatan kinerja akademik, serta penguatan tata kelola kampus.
Perlahan namun pasti, hasilnya mulai terlihat. Berbagai capaian selama masa kepemimpinannya menjadi jawaban atas keraguan yang sempat muncul. Stabilitas kampus terjaga, program-program berjalan, dan kepercayaan publik terhadap institusi pun meningkat. Dari titik itu, penerimaan tumbuh bukan karena narasi, tetapi karena bukti.
Dari pengalaman itulah, Inayatillah berbicara dengan keyakinan yang tidak lahir dari teori, tetapi dari realitas yang ia jalani sendiri.
“Perempuan punya peluang yang sama. Tinggal siapa yang mau dan siap mengambil kesempatan tersebut,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Kini, ketika ia kembali ke UIN Ar-Raniry sebagai dosen sejak Januari 2025 dan memutuskan maju sebagai calon rektor, narasi yang ia bawa tidak lagi sekadar tentang jabatan. Ini adalah tentang membuka jalan bahwa perempuan juga memiliki ruang, hak, dan kemampuan untuk memimpin institusi besar.
Ia tidak menempatkan dirinya sebagai simbol semata, tetapi sebagai representasi dari kapasitas. Baginya, kepemimpinan di dunia akademik harus berdiri di atas integritas, kompetensi, dan kesiapan, bukan pada perbedaan jenis kelamin.
Di sisi lain, ia juga membawa visi besar: menjadikan UIN Ar-Raniry sebagai universitas Islam bereputasi global yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, syariat Islam, nilai kebangsaan, dan kearifan lokal.
Namun yang menarik, visi itu tidak hanya berbicara tentang capaian institusi, tetapi juga tentang cara mencapainya. Inayatillah menekankan pentingnya kerja kolektif, kolaborasi, dan semangat “bekerja dengan cinta”. sebuah pendekatan yang mencerminkan kepemimpinan yang inklusif dan humanis.
Pesan itu ia tujukan langsung kepada seluruh civitas akademika, dengan nada yang tegas sekaligus terbuka:
“Jika saya terpilih nanti sebagai rektor UIN Ar-Raniry, saya akan melanjutkan program-program yang baik dari pemimpin sebelumnya, kemudian memperbaiki program yang tidak sesuai, dan akan memunculkan agenda atau program baru yang kreatif dan inovatif,” ujarnya.
Jika selama ini kepemimpinan perempuan kerap dipandang dengan keraguan, maka perjalanan Inayatillah justru menjadi bantahan yang hidup. Ia telah melewati fase ditolak, diuji, hingga akhirnya diakui.
Dan kini, di panggung yang lebih besar, ia kembali membawa pesan yang sama lebih lantang, lebih matang bahwa perempuan tidak hanya layak diberi kesempatan untuk memimpin, tetapi juga mampu membawa perubahan nyata.










Discussion about this post