MASAKINI.CO – Penanganan pascabanjir di Kabupaten Aceh Tamiang dinilai belum merata memasuki hari ke 40. Hingga awal Januari 2026, upaya pembersihan dan normalisasi fasilitas umum masih terpusat di wilayah sekitar pusat pemerintahan dan jalan lintas nasional, sementara daerah pedalaman belum tersentuh secara maksimal.
Relawan lapangan, Basyarudin Acha, menyebut kondisi di sejumlah desa pedalaman masih sangat memprihatinkan. Lumpur sisa banjir masih menutupi jalan dan parit, serta tumpukan sampah rumah tangga seperti kasur dan lemari belum tertangani.
“Penanganan baru terlihat di beberapa titik saja. Mayoritas berada di kawasan dekat pusat pemerintahan dan jalur utama. Di pedalaman, kondisinya masih jauh dari pulih,” kata Basyarudin, Minggu (4/1/2026).
Ia menjelaskan, warga di wilayah pedalaman menghadapi beban pemulihan yang lebih berat, terutama bagi mereka yang rumahnya rusak parah atau bahkan hilang akibat banjir. Keterbatasan alat dan akses membuat pembersihan lingkungan sulit dilakukan secara mandiri.
“Lumpur masih menumpuk di jalan dan parit. Sampah bekas banjir juga masih banyak. Warga kesulitan membersihkan rumah dan lingkungan mereka,” ujarnya.
Dari sisi logistik, Basyarudin mengungkapkan bahwa kebutuhan pangan pokok seperti beras, telur, mi instan, dan bahan makanan lainnya relatif masih tercukupi untuk beberapa pekan ke depan, berkat bantuan pemerintah dan para dermawan.
Namun, sejumlah kebutuhan mendesak lainnya masih minim dan membutuhkan perhatian serius. “Air bersih, peralatan memasak, kebutuhan bayi, serta MCK darurat masih sangat terbatas. Di beberapa lokasi, listrik juga belum sepenuhnya pulih,” jelasnya.
Basyarudin berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera memperluas jangkauan penanganan pascabanjir hingga ke wilayah pedalaman. Menurutnya, pemulihan yang merata menjadi kunci agar seluruh masyarakat Aceh Tamiang dapat bangkit dari dampak bencana secara adil dan berkelanjutan.







Discussion about this post