MASAKINI.CO – Sebanyak 225 destinasi wisata di Aceh dilaporkan rusak akibat bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah pada akhir November 2025. Kerusakan tersebut tersebar di berbagai kabupaten/kota dengan tingkat kerusakan ringan hingga berat.
Data Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh mencatat, dari total destinasi wisata terdampak, 198 lokasi mengalami rusak berat, 18 rusak sedang, dan 9 rusak ringan.
Juru Bicara Pos Komando Penanganan Bencana Aceh, Murthalamuddin, mengatakan mayoritas kerusakan masuk kategori berat dan terjadi di daerah yang terdampak langsung banjir dan longsor.
“Kerusakan paling banyak berada pada kategori rusak berat dan tersebar di sejumlah wilayah terdampak bencana,” kata Murthalamuddin, Rabu (14/1/2026).
Ia merinci, kerusakan terparah terjadi pada 198 destinasi wisata. Wilayah dengan jumlah terbanyak berada di Kabupaten Gayo Lues sebanyak 65 lokasi, disusul Aceh Tamiang (42 lokasi), Bireuen (20 lokasi), Bener Meriah (19 lokasi), dan Pidie Jaya (13 lokasi).
Selain itu, kerusakan juga tercatat di Aceh Singkil (10), Aceh Utara (8), Aceh Tengah (8), Aceh Timur (6), Aceh Tenggara (4), serta masing-masing satu lokasi di Kota Langsa, Subulussalam, dan Aceh Barat.
Sementara itu, 18 destinasi wisata rusak sedang tersebar di Aceh Utara (3), Lhokseumawe (4), Aceh Tengah (7), Subulussalam (1), Nagan Raya (1), Bener Meriah (1), dan Bireuen (1).
Adapun sembilan destinasi wisata rusak ringan masing-masing berada di Kabupaten Aceh Utara (2 lokasi), Kota Langsa (1 lokasi), Aceh Tengah (3 lokasi), Subulussalam (1 lokasi), dan Bireuen (2 lokasi).
Tidak hanya sektor pariwisata, bencana hidrometeorologi tersebut juga berdampak pada 162 cagar budaya di Aceh. Dari jumlah itu, 56 cagar budaya mengalami rusak ringan, 90 rusak sedang, dan 16 rusak berat.
“Cagar budaya tersebut tersebar di berbagai kabupaten/kota yang terdampak bencana,” ujar Murthalamuddin.
Meski kerusakan cukup besar, Murthalamuddin menyatakan pemerintah Aceh bersama pemerintah pusat dan pihak terkait tengah menyiapkan langkah-langkah pemulihan pascabencana.
“Kami optimistis sektor pariwisata dan pelestarian cagar budaya Aceh dapat pulih. Saat ini penanganan darurat terus berjalan, selanjutnya akan difokuskan pada pemulihan berkelanjutan agar aktivitas masyarakat kembali normal,” pungkasnya.










Discussion about this post