MASAKINI.CO – Di usia yang tak lagi muda, ketika sebagian orang memilih memperlambat langkah dan menikmati sisa waktu dengan tenang, Abdul Rani Usman justru menyalakan api baru dalam hidupnya. Usianya kini 63 tahun.
Rambutnya mulai memutih. Namun semangatnya, terutama dalam memperjuangkan pendidikan, justru kian menyala.
Selama 32 tahun, ia mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Ar-Raniry. Puluhan angkatan mahasiswa telah ia lepas menuju jalan hidup masing-masing.
Tetapi bagi Abdul Rani, pengabdian tidak berhenti di ruang kelas. Ia percaya, pendidikan sejati adalah perjuangan panjang bahkan hingga napas terakhir.
Di tengah derasnya arus globalisasi, satu kegelisahan terus mengendap di benaknya. Aceh belum siap menghadapi dunia yang semakin berbahasa Mandarin.
Kegelisahan itu bukan tanpa dasar. Dua dekade lalu, tepatnya pada 2004–2005, Abdul Rani menjejakkan kaki di Nanjing Normal University, Tiongkok.
Di negeri itulah ia belajar langsung bahasa Mandarin bukan hanya dari buku, tetapi dari denyut kehidupan masyarakatnya. Pengalaman itu membuka matanya lebar-lebar.
“Bahasa Mandarin adalah salah satu bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia bukan sekadar alat komunikasi, tapi bahasa politik dan ekonomi dunia,” ujar Abdul Rani, Rabu (21/1/2026).
Ia melihat bagaimana bahasa menjadi kekuatan. Bagaimana kata-kata mampu menggerakkan pasar, membangun jejaring, bahkan menentukan arah kebijakan global. Di Asia, pengaruh itu terasa begitu kuat. Terlebih komunitas Tionghoa perantauan tersebar luas, terutama di Asia Tenggara termasuk Indonesia.
“Kalau kita tidak menguasai bahasanya, kita bisa dengan mudah tertipu oleh siasat budaya, ekonomi, bahkan politik,” katanya.
Namun kegelisahan itu berbanding terbalik dengan realitas di tanah kelahirannya. Di Pulau Jawa, kelas dan program studi bahasa Mandarin tumbuh pesat. Sementara di Aceh, ruang-ruang pembelajaran itu nyaris sunyi.
“Lembaga bahasa Mandarin di Aceh masih sangat terbatas, padahal peluangnya sangat besar,” ujarnya.
Kegelisahan itu tak ia simpan sendiri. Pada 2010, Abdul Rani menulis surat resmi ditujukan langsung ke Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok di Jakarta. Isinya sederhana, namun sarat harapan: permintaan dukungan pengajar bahasa Mandarin untuk Aceh.
Setahun kemudian, harapan itu berbuah. Pada 2011, tenaga pengajar bahasa Mandarin akhirnya hadir di Aceh. Sebuah langkah kecil, tetapi bermakna besar.
Tak berhenti di situ, ia juga mengirim alumni Fakultas Dakwah untuk melanjutkan studi ke Nanyang Normal University, Tiongkok.
Baginya, membangun masa depan tidak bisa instan. Harus disiapkan dari sumber daya manusianya.
Perjalanan panjang itu akhirnya melahirkan Bimbingan Belajar Aulia, sebuah ruang belajar yang ia bangun dengan keyakinan dan ketulusan. Di tempat itu, bahasa Mandarin diajarkan berdampingan dengan bahasa Inggris dan Arab. Bukan sekadar kursus, tetapi jembatan menuju dunia yang lebih luas.
Pesertanya beragam. Anak SD yang masih mengeja, siswa SMP dan SMA yang penuh rasa ingin tahu, mahasiswa yang memburu masa depan, hingga dosen yang tak ingin tertinggal zaman.

“Belajar tidak mengenal usia,” katanya sambil tersenyum.
Biaya yang ditetapkan pun disesuaikan dengan jenjang pendidikan, agar tetap terjangkau. Informasi kegiatan dan program Bimbel Aulia kini dapat diakses melalui akun resmi mereka menjadi bukti bahwa perjuangan ini bukan sekadar wacana, tetapi nyata.
Gagasan Abdul Rani perlahan menemukan gaung. Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh kini resmi membuka Program Studi Bahasa Mandarin yang menjadi satu-satunya prodi Mandarin di Aceh saat ini.
Sebuah pencapaian yang tak bisa dilepaskan dari jalan panjang yang ia tapaki selama bertahun-tahun.
Baginya, bahasa Mandarin bukan sekadar kebutuhan akademik. Ia adalah kunci.
“Banyak peluang kerja di Tiongkok, tapi masyarakat Aceh belum siap karena kendala bahasa. Padahal, untuk ke sana saja dibutuhkan sertifikat bahasa Mandarin,” ungkapnya.
Di tengah dunia yang kian tanpa batas, Abdul Rani ingin generasi muda Aceh berdiri sejajar bukan sebagai penonton, melainkan pelaku.
“Bahasa Mandarin bukan ancaman,” katanya pelan.
“Ia adalah alat. Kalau kita menguasainya, kita tidak akan tertinggal.”







Discussion about this post