MASAKINI.CO – Di depan tenda pengungsian di Desa Lueng Tuha, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Jariyah duduk diam. Usianya 70 tahun. Tatapannya kosong, seolah masih menyusuri arus banjir besar yang beberapa waktu lalu datang tanpa permisi membawa pergi rumah, harta, dan rasa aman yang puluhan tahun ia bangun.
Rumah kayu yang ia tempati sejak lama kini tak lagi ada. Hanyut. Tak tersisa apa pun untuk kembali.
“Semuanya habis. Rumah hanyut,” ucapnya lirih, Sabtu (31/1/2026).
Sejak hari itu, Jariyah tak punya alamat tetap. Ia berpindah dari satu rumah ke rumah lain. Menumpang di rumah anak, kadang di rumah kerabat, kadang tetangga. Bukan karena ingin, melainkan karena tak punya pilihan. Setiap perpindahan selalu diiringi rasa sungkan, takut merepotkan, takut dianggap beban.
Anaknya lima, semuanya perempuan, semuanya sudah berkeluarga. Hidup mereka pun pas-pasan. “Kalau numpang terus, kan malu juga. Anak-anak juga punya keluarga yang harus mereka pikirkan,” katanya pelan.
Di tengah kondisi pascabencana yang serba terbatas, tubuhnya pun kerap tak bersahabat. Debu di pengungsian membuatnya sering batuk dan sesak. Malam hari terasa dingin. Siang hari terasa pengap. Namun, di tengah semua itu, ada satu harapan yang terus ia simpan, ingin bersuluk (menempuh jalan spiritual untuk menuju Allah) di bulan Ramadan.
Bagi Jariyah, suluk bukan sekadar ritual ibadah. Ia adalah ruang tenang, tempat menenangkan batin setelah kehilangan segalanya. Sudah 12 tahun ia rutin mengikuti suluk setiap Ramadan. Biasanya, selepas Lebaran, ia kembali ke kampung. Kali ini, kampung itu telah tiada.
“Sekarang rumah juga tidak ada. Lebih baik saya beribadah,” katanya pelan.
Namun, keinginan itu terbentur kenyataan. Untuk mengikuti suluk, Jariyah harus membayar sekitar Rp300 ribu dan membawa beras. Ia juga membutuhkan kain dan kelambu. Semua kebutuhan itu kini tak ia miliki.
Masalahnya, untuk masuk suluk, Jariyah harus menyiapkan biaya. Sekitar Rp300 ribu dan membawa beras sebagai bekal. Ia juga membutuhkan kain dan kelambu. Semua itu kini tak ia miliki.
“Saya tidak punya uang. Kain tidak ada, kelambu juga tidak ada,” katanya jujur.
Ia tahu, selepas Ramadan nanti, hidupnya kembali menggantung. Kembali menumpang. Kembali berpindah. Namun setidaknya, selama suluk, ia punya tempat bernaung tempat yang memberi ketenangan di tengah kehilangan yang bertubi-tubi.

Jariyah hanya berharap bantuan rumah. Bukan besar, bukan mewah. Asal milik sendiri.
“Kalau ada rumah, lebih nyaman. Tidak numpang-numpang. Tapi sampai sekarang belum ada kabar rumah bantuan dari pemerintah,” katanya.
Di tenda pengungsian yang berdebu, Jariyah menunggu. Menunggu bantuan yang tak kunjung pasti. Menunggu Ramadan untuk masuk suluk. Menunggu takdir membawanya ke tempat yang sedikit lebih tenang.
Bagi Nenek Jariyah, bersuluk bukan pelarian. Ia adalah pegangan terakhir jalan sunyi untuk tetap hidup, saat dunia seakan tak lagi menyediakan tempat pulang.










Discussion about this post