MASAKINI.CO – Daratan Aceh terbentang seperti peta yang berubah paksa. Garis-garis alam kini bergeser, meninggalkan jejak yang tak bisa disembunyikan.

Sawah, sungai, lahan pertanian dan permukiman selama bertahun-tahun yang membentuk keseimbangan antara manusia dan alam porak-porandan.

Ketika hujan ekstrem datang, sungai meluap, longsor di perbukitan berubah menjadi kekuatan yang menguasai lanskap.

Dari ketinggian, air terlihat menciptakan jalurnya sendiri. Aliran baru memotong sawah, memasuki permukiman dan menghapus pola ruang yang dibangun.

Perbedaan antara sungai dan daratan lenyap. Hamparan tanah yang luas menjadi penanda betapa dahsyatnya bencana yang melanda.

Jalan-jalan yang dahulu menyatukan desa kini terputus. Mobilitas manusia terhenti, menegaskan betapa tipisnya lapisan infrastruktur di hadapan kekuatan air.

Pola kerusakan ini hanya sepenuhnya terbaca dari udara, ia tampil sebagai krisis lanskap. Dari darat, banjir terasa sebagai peristiwa lokal.

Foto udara merekam bagaimana air membentuk ulang tepian sungai, memperlebar alur dan melahirkan muara-muara baru. Tanah subur berubah menjadi ruang yang tak lagi pasti.

Banjir ini bukan anomali tunggal. Ia muncul dari pertemuan perubahan iklim, tekanan tata ruang dan daya tahan masyarakat yang terus diuji.

Aceh, dilihat dari atas, menegaskan bahwa lanskap adalah sistem hidup. Ketika keseimbangannya terganggu, perubahan itu menjalar, mengubah ruang, mata pencaharian dan masa depan manusia yang bergantung padanya.







