MASAKINI.CO – Kesedihan itu tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia hadir dalam diam, dalam tatapan yang kosong, atau dalam langkah pelan seorang remaja yang merasa dunia menjauh darinya. Itulah yang coba dihadirkan dalam film Noeh, kisah tentang Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang dipasung oleh masyarakat dan tentang keluarga yang ikut menanggung luka yang tak terlihat.
Di tengah cerita yang berat itu, hadir sosok Hasanah. Gadis 15 tahun yang hidupnya berubah sejak sang abang dicap “berbeda” dan akhirnya dipasung. Peran ini dimainkan oleh Ismatul Rahmi, yang berhasil menghadirkan kesunyian dan ketegaran Hasanah dengan begitu nyata.
Bagi Ismatul, Hasanah bukan sekadar karakter. Ia adalah potret banyak anak yang harus tumbuh di bawah bayang-bayang stigma sosial. Sejak abangnya mengalami gangguan jiwa, Hasanah ikut merasakan dampaknya. Ia dijauhi. Ia dikucilkan. Ia dipandang berbeda.
“Hasanah itu pendiam. Hari-harinya dipenuhi kesedihan karena dikucilkan masyarakat. Tapi di balik itu, dia sangat tegar,” ujar Ismatul, Selasa (17/2/2026).
Dalam film, Hasanah digambarkan seperti remaja pada umumnya yang ingin hidup normal. Namun realitas berkata lain. Ia harus menerima bisik-bisik tetangga, tatapan sinis, dan perlakuan yang membuatnya merasa seolah-olah ia juga bersalah atas kondisi sang abang.
Cerita ini tidak hanya menyorot praktik pemasungan terhadap ODGJ, tetapi juga dampak sosial yang menjalar ke keluarga. Luka itu bukan hanya milik korban, melainkan juga orang-orang terdekatnya.
Memerankan Hasanah bukan perkara mudah. Sepanjang film, emosi karakter ini nyaris tidak pernah benar-benar tenang. Tangis menjadi bagian dari kesehariannya.
Ismatul mengaku tantangan terbesar adalah menjaga emosi tetap konsisten selama proses syuting.
“Hasanah itu emosinya kompleks. Hampir sepanjang film dia harus menangis. Sementara pengambilan gambar bisa berulang-ulang. Saya harus mempertahankan mood itu terus, dan itu sangat menguras emosi,” katanya.
Berulang kali menangis dalam satu adegan bukan hanya soal teknik akting. Ia membutuhkan penghayatan mendalam agar kesedihan yang ditampilkan terasa jujur. Dalam proses itu, Ismatul tidak sekadar berakting, tetapi ikut menyelami rasa sepi dan tekanan yang dialami karakter tersebut.
Film Noeh hadir bukan semata sebagai hiburan. Ia membawa pesan yang lebih besar yakni tentang kemanusiaan dan hak hidup yang setara. Praktik pemasungan yang masih ditemukan di sejumlah daerah menjadi realita yang ingin diangkat secara terbuka.
Ismatul berharap film ini bisa membuka mata masyarakat. Bahwa ODGJ bukan untuk dijauhi, apalagi dipasung. Mereka adalah manusia yang memiliki hak hidup, hak dirawat, dan hak dihargai.
“Semoga tidak ada lagi ODGJ yang dipasung. Itu melanggar hak asasi manusia. Semoga film ini bisa jadi edukasi agar kita lebih menghargai sesama,” ujarnya.
Ia juga menyinggung bahwa isu kesehatan mental masih sering dipahami secara keliru. Alih-alih mendapat penanganan medis dan dukungan sosial, sebagian ODGJ justru menghadapi diskriminasi dan pengucilan.
Melalui karakter Hasanah, penonton diajak melihat sisi lain dari sebuah tragedi. Bahwa di balik seseorang yang dipasung, ada keluarga yang ikut menanggung beban psikologis dan sosial.
Antusiasme penonton terhadap film ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Ismatul. Ia merasa pesan yang dibawa film mampu diterima dan menyentuh hati banyak orang.
“Tentu kami berharap film ini bisa ditayangkan di lebih banyak kota agar pesannya sampai ke lebih banyak orang,” katanya.







Discussion about this post