MASAKINI.CO – Pernah ada masa ketika lorong-lorong kampus UIN Ar-Raniry terasa begitu asing bagi Reza Muksalmina. Ia datang bukan dari pesantren, bukan pula dari lingkungan yang akrab dengan tradisi akademik kampus Islam. Ia lulusan sekolah umum yang tiba-tiba harus beradaptasi dengan ritme baru, suasana baru, dan standar baru.
Academic shock menghampirinya tanpa aba-aba. Di tengah teman-teman yang terlihat percaya diri, ia justru sibuk meragukan dirinya sendiri.
“Sejujurnya, saya tidak pernah berekspektasi akan lulus cumlaude,” tuturnya pelan ketika mengenang masa itu.
Reza tumbuh sebagai anak piatu, dibesarkan oleh seorang ayah yang telah purnatugas sebagai PNS. Hidup tidak memberinya banyak ruang untuk bermewah-mewah dengan pilihan. Ia terbiasa berpikir realistis, menimbang setiap langkah dengan hati-hati. Ketika kuliah terasa terlalu berat, ia sempat mencari jalan lain.
Ia mendaftar SNMPTN Barat dan diterima di Jurusan Biologi Universitas Syiah Kuala. Sejak itu, hari-harinya terbelah dua, pagi berkutat dengan algoritma di Pendidikan Teknologi Informasi, sore berhadapan dengan mikroskop dan praktikum biologi.
Dua dunia itu dijalaninya bersamaan. Lelah fisik mungkin bisa ditahan, tetapi kelelahan batin sulit diabaikan. Ia sadar ada yang tidak selaras. Ia seperti berlari tanpa benar-benar tahu ke mana arah yang ingin dituju. Hingga akhirnya, di satu titik yang paling melelahkan, ia berhenti.
Ia mengakui pada dirinya sendiri bahwa ketakutan tidak akan selesai jika terus dihindari. Ia memutuskan meninggalkan Biologi dan fokus sepenuhnya pada PTI.
Sejak keputusan itu, Reza berubah. Ia tak lagi sekadar mahasiswa yang duduk dan mencatat. Ia mulai membangun ruang belajarnya sendiri.
Laptopnya menyala hingga larut malam, ditemani video pembelajaran dari Sandhika Galih, kelas daring dari Dicoding, hingga modul interaktif dari Codecademy dan Progate. Ia belajar bukan karena tuntutan dosen, melainkan karena merasa harus mengejar dirinya sendiri.
Pelan-pelan, konsistensi itu membuahkan hasil. Nilainya membaik, proyek-proyeknya semakin matang, dan kepercayaan dirinya tumbuh tanpa ia sadari. Pada Mei tahun lalu, ia lulus tepat waktu dan berdiri sebagai pemilik IPK tertinggi di jurusannya. Cumlaude sebuah kata yang dulu terasa terlalu jauh untuk ia bayangkan.
Namun bagi Reza, toga bukan garis akhir. Ia justru menganggapnya sebagai garis start baru. Di sela pelatihan kerja di BPVP Banda Aceh, ia menemukan informasi tentang Russian Government Scholarship. Persaingannya tak main-main: sekitar 4.000 pendaftar dari seluruh Indonesia memperebutkan hanya 300 kursi.
Lawannya adalah para peraih medali olimpiade dan juara berbagai kompetisi nasional. Ambang nilai kelulusannya pun menembus angka 82.
Rusia menarik perhatiannya bukan hanya karena reputasi akademiknya, tetapi juga karena skemanya yang realistis. Wawancara dapat dilakukan dalam Bahasa Indonesia atau Inggris tanpa harus menyertakan sertifikat TOEFL atau IELTS di tahap awal. Ia melihatnya sebagai peluang yang tetap kompetitif, namun masih mungkin dijangkau dengan kerja keras.
Prosesnya tetap panjang dan melelahkan. Bahkan urusan administrasi seperti medical check-up sesuai standar Kedutaan Rusia menjadi ujian tersendiri. Format surat kesehatan yang berbeda dengan rumah sakit di Indonesia membuatnya harus bolak-balik mengurus revisi. Kesabaran kembali diuji.
Semua jerih payah itu akhirnya terbayar ketika namanya diumumkan lolos. Ia diterima di Saint Petersburg State University untuk program magister Software Engineering. Di sana, ia akan mendapatkan pembebasan biaya kuliah, asrama bersubsidi, dan satu tahun kelas persiapan bahasa Rusia sebelum memulai studi inti.
Meski demikian, Reza tidak melihat keberangkatannya sebagai bentuk pelarian. Ia justru menyebutnya sebagai proses “belanja ilmu.” Ia sudah menyimpan rencana jauh di dalam benaknya.
Sepulang dari Rusia, ia ingin membangun startup STEM berbasis nilai-nilai Islami di Aceh. Sebuah ekosistem pendidikan yang mengintegrasikan sains, teknologi, bisnis, dan kecerdasan buatan tanpa melepaskan akar spiritualitas. Ia ingin anak-anak muda di tanah kelahirannya memiliki akses pada pendidikan teknologi yang berkualitas sekaligus berkarakter.
Kisah Reza bukan tentang seseorang yang selalu yakin sejak awal. Ia pernah ragu, pernah salah arah, bahkan sempat nyaris menyerah. Tetapi ia memilih untuk tetap bergerak. Ia membuktikan bahwa konsistensi mampu mengalahkan bakat yang tidak diasah dan latar belakang yang dianggap “biasa saja.”
“Jangan pernah meragukan kemampuan diri sendiri hanya karena orang lain bilang itu terlalu tinggi atau sulit,” pesannya.
Dari seorang mahasiswa yang sempat limbung, kini ia menjadi satu dari ratusan orang terpilih yang menembus seleksi ribuan peserta. Perjalanannya mengingatkan bahwa keberhasilan bukan milik mereka yang tak pernah takut, melainkan milik mereka yang tetap melangkah meski hati masih gemetar.









Discussion about this post