MASAKINI.CO – Lebih dari 400 juta orang di seluruh dunia mengalami rinitis alergi atau peradangan pada saluran hidung akibat reaksi terhadap alergen di udara.
Hal ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengidentifikasi sesuatu seperti bulu hewan atau tungau debu sebagai sesuatu yang berbahaya, sehingga memicu gejala hidung berair, mata gatal, bersin, dan pada kasus terburuk kesulitan bernapas. Sebagai respons terhadap serbuk sari, rinitis alergi disebut demam jerami.
Selain memengaruhi kualitas hidup, demam alergi serbuk sari dapat memiliki konsekuensi jangka panjang yang serius, termasuk risiko terkena infeksi saluran pernapasan dan asma. Gejala demam alergi serbuk sari atau rinitis menjadi lebih parah akibat perubahan iklim.
Dilansir dari BBC, Sabtu (28/3/2026), di Inggris, sekitar satu dari empat orang dewasa dan satu dari delapan anak menderita rinitis alergi, yang menyebabkan setidaknya 16 juta kunjungan ke dokter setiap tahunnya, angka yang sama tingginya di Australia dan AS.
Ahli alergi klinis Stephen Durham, mengatakan para profesional kesehatan menganggap bahwa rinitis tidak selalu menjadi masalah yang serius. Bahkan, dokter umum pun sering kali hanya menyuruh pasien untuk pergi ke apotek untuk membeli antihistamin.
Padahal, kata Durham, demam serbuk sari adalah masalah besar. “Sering kali dianggap sepele oleh mereka yang tidak mengalaminya,” ucapnya.
Penderita demam alergi serbuk sari lebih cenderung mengalami kesulitan untuk tidur dan tetap tidur, merasa lelah, dan sering terbangun di malam hari. Alergi musiman bahkan ditemukan berdampak pada prestasi akademik anak-anak.
Cara memilih obat yang efektif
Pengobatan paling efektif bagi dan mudah diakses penderita serbuk sari adalah semprotan yang mengandung antihistamin dan kortikosteroid. Semprotan tersebut lebih unggul daripada masing-masing obat secara terpisah.
Durham menyampaikan untuk mencegah munculnya rinitis yaitu dengan memulai pengobatan sebelum perubahan iklim dimulai, dan meminumnya secara teratur bahkan pada hari-hari ketika Anda tidak memiliki gejala.
“Seseorang melakukan itu, maka pengobatan ini sangat efektif tidak hanya dalam mengobati gejala, tetapi juga mencegah serangan,” katanya.








Discussion about this post