Nostalgia Khairil Anwar di Tanah Papua: Dulu PON Aceh, Kini Deltras FC Sidoarjo

Pemain Deltras FC asal Aceh, Khairil Anwar dihadang penggawa Persipura di Liga 2 tahun 2022. (foto: untuk masakini.co)

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Nostalgia Khairil Anwar di Tanah Papua: Dulu PON Aceh, Kini Deltras FC Sidoarjo

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Pemain Deltras FC asal Aceh, Khairil Anwar dihadang penggawa Persipura di Liga 2 tahun 2022. (foto: untuk masakini.co)

Di sebuah subuh yang menggigil, Khairil Anwar kembali menginjakkan kakinya di tanah Papua. Outsole sepatu merek Nike Air Force putih yang ia pakai, menyentuh aspal Bandara Frans Kaisiepo kala embun belum kering, Kamis (15/9/2022).

Setahun yang lalu, untuk kali pertama kali dalam hidupnya ia datang ke provinsi paling timur di Indonesia, sebagai pesepakbola amatir, memperkuat Aceh di PON XX Papua. Kini ia kembali dengan status berbeda, naik kelas menjadi pesepakbola profesional, memperkuat Deltras FC Sidoarjo.

“Punya semangat tersendiri bisa kembali ke Papua. Apalagi saat PON Papua berlangsung, saya under perform, gak bisa main di final. Alhamdulillah sekarang sudah lebih baik ketimbang saat memperkuat Aceh di PON. Bersyukur sekali sudah profesional,” kata Khairil kepada masakini.co, Selasa. (20/9/2022).

Sejak bertolak dari Bandara Juanda, Jawa Timur, transit di Bandara Sultan Hasanuddin, Sulawesi Selatan hingga tiba di Biak, perasaan de javu begitu menggelayuti relung hati dan pikirannya, bercampur dengan tekanan udara, yang sesekali menyebabkan turbulensi kecil di ketinggian.

Dalam lawatan Tour Papua, Khairil bersama Deltras FC melakoni dua laga tandang. Menghadapi PSBS Biak dan Persipura Jayapura dalam lanjutan Liga 2 musim 2022/2023 grup timur. Di pertandingan pertama, Deltras FC harus mengakui keunggulan PSBS Biak dengan skor 1-0.

Momen paling ditunggu akhirnya datang jua. Setelah pertandingan tersebut, Khairil dkk bertolak ke Jayapura dengan pesawat Lion. Kurang lebih 45 menit waktu penerbangan. Pukul 08:15 waktu setempat, dirinya menginjakkan kaki di Bandara Internasional Sentani.

“Bandara Sentani paling terasa suasana nostalgia. Karena saat PON Papua, kami mendarat di sini. Di pintu kedatangan, masih ada banner PON XX Papua,” ujarnya.

Ia menyusuri setiap jengkal lantai bandara, matanya menikmati setiap umbul-umbul PON Papua yang masih ada. Mesin waktu terasa mundur ke belakang, saat Khairil melihat masih ada petugas bandara setempat yang mengenakan baju dengan tagline Torang Bisa! Slogan PON Papua 2021.

Suasana PON Papua tidak hilang begitu saja. Di bandara, sebuah bus yang menjemput kedatangan tim Deltras FC juga masih mengenakan desain PON Papua. Pikiran Khairil menerawang jauh ke belakang, ia bersyukur terpilih sebagai pesepakbola PON Aceh.

Tanah Papua begitu berarti dalam mula kariernya. Bagi Khairil, jika tim sepak bola PON Aceh adalah kunci, maka tanah Papua ialah gerbang akbar menuju profesional. Cabor sepakbola di PON Papua, menjadi panggung ia unjuk kebolehan, dimana semua mata di Indonesia menyaksikan sepak terjang yang bersangkutan bersama rekan timnya.

“Satu-satunya yang paling saya tunggu adalah melihat gerbang Stadion Barnabas. Dalam perjalanan dari Bandara Sentani menuju penginapan, saya menyaksikan gerbang stadion itu masih ada baliho PON,” benernya.

Seiring gelindingan ban bus yang ia tumpangi, memori kenangan otomatis terbuka kembali. Stadion Barnabas menyisakan kenangan untuk tim PON Aceh. Di fase grup, Aceh kalah dari Sulawesi Utara, kemudian menang dengan Kalimantan Timur. Saat semifinal, stadion berkapasitas 15.000 penonton itu menjadi sejarah, Aceh tampil heroik dengan mengalahkan Jawa Timur di semifinal, sekaligus memastikan tiket grand final.

Sepanjang jalan menuju hotel, ada perbukitan dengan tulisan besar PON XX Papua. Layaknya ikon kultural perfilman dunia, bertuliskan Hollywood Sing yang berdiri di Mount Lee di kawasan Hollywood Hills, Pegunungan Santa Monica.

Setelah beristirahat dan melakukan serangkaian persiapan, Khairil melakukan laga tandang kedua dalam Tour Papua. Deltras FC lagi-lagi belum mampu membawa pulang poin, kalah 1-0 dari Persipura. Khairil turun sejak menit pertama, dan digantikan pada menit 80′.

Bagi pesepakbola yang bermain sebagai gelandang bertahan itu, terlepas dari hasil akhir, bisa kembali menginjakkan kaki di Stadion Lukas Enembe punya nilai tak terhingga. Stadion paling megah di Papua ini, kini sudah banyak terpampang banner dengan desain Persipura serta pemainnya.

“Saya paling penasaran melihat Stadion Lukas Enembe saat matahari belum terbenam. Waktu PON, stadion ini diperuntukkan untuk pembukaan dan penutupan, itu malam hari. Kalau dulu hanya masuk ke stadion, sekarang rasa penasaran masuk ke loker room sudah tuntas. Megah sekali,” ungkapnya.

Saat menghadapi Persipura, Khairil bertemu dengan beberapa jebolan PON Papua. Salah satunya adalah Alex Dusay. Bek potensial tersebut kini memperkuat tim dengan warna kebesaran merah hitam, sebelumnya sempat berpetualang ke PSS Sleman. Sore itu, bek yang mempersembahkan emas untuk Papua di PON itu, masuk sebagai pemain pengganti.

“Setelah laga, kami ngobrol dan berfoto bersama. Dia nanya kabar saya, dia bilang; jauh kamu ke sini ya. Kami juga sempat bercanda kalau laga away gak ada yang enak wasitnya, termasuk di Papua. Kami tertawa,” imbuhnya.

Nostalgia Khairil di Papua dengan nuansa PON makin sempurna, sebab ia berjumpa dengan Lokal Official (LO) Aceh saat PON. Kebetulan yang bersangkutan hadir di pertandingan Persipura, sebab profesinya adalah wartawan olahraga.

“Kami memanggilnya Kakak Manu. Saat tiba di Jayapura sudah saling berkabar via WhatsApp,” terangnya.

Temu dua insan ini tidak cukup di stadion saja. Imanuel Manu berkunjung ke hotel Khairil tempati. Setelah istirahat, untuk melepaskan kerinduan, LO untuk Aceh dan Khairil jalan-jalan. Keduanya berburu kuliner setempat, sembari mengulang tutur kisah PON Papua setahun yang lalu.

“Sebenarnya ingin makan pecel lele yang ada di depan penginapan kontingen sepakbola PON Aceh dulu, enak sekali. Tapi jauh, sekitar 30 menit. Yasudah, tetap makan pecel lele meski di tempat berbeda,” ujarnya.

Selama di Papua, Khairil tidak sempat mencicipi makanan khas setempat, Papeda. Namun ia mengaku beruntung, bisa melahap buah matoa. Kebetulan, bulan September ini, berbarengan dengan ketibaannya kembali, sedang musim panen matoa.

Pesepakbola kelahiran 21 Agustus 1997 sejatinya sudah naik kasta profesional sepulang dari PON Papua. Saat itu, bersama lima jebolan PON Aceh lainnya, ia berseragam Persiraja Banda Aceh tahun 2021. Sejatinya Khairil bisa kembali ke Papua tak butuh waktu setahun. Saat itu, Persipura juga masih sama-sama di Liga 1.

Hanya saja, kompetisi Liga 2 musim kompetisi 2021/2022 putaran kedua berlangsung di Bali. Tidak ada laga kandang dan tandang ke homebase tempat asal tim. Pemusatan kompetisi di Pulau Dewata tersebut sengaja dipilih PT LIB, karena pandemi Covid-19 belum usai.

“Papua selalu istimewa di hati saya. Karena di Tanah Papua, gerbang profesional saya terbuka. Titik awal perjalanan karier. Saya selalu ingin kembali, entah masih sebagai pesepakbola ataupun tidak, kelak nanti,” pungkasnya.

TAG

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Berita Terbaru

Berita terpopuler

Add New Playlist