Santri Dayah Perbatasan Diminta Proteksi Pendangkalan Akidah di Aceh Singkil

Kadisdik Dayah Aceh, Zahrol Fajri, saat menyerahkan SK untuk tenaga kontrak di Dayah Perbatasan Safinatussalamah. (foto: untuk masakini.co)

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Santri Dayah Perbatasan Diminta Proteksi Pendangkalan Akidah di Aceh Singkil

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Kadisdik Dayah Aceh, Zahrol Fajri, saat menyerahkan SK untuk tenaga kontrak di Dayah Perbatasan Safinatussalamah. (foto: untuk masakini.co)

MASAKINI.CO – Sebanyak 50 tenaga kontrak-non PNS tambahan sebagai tenaga administrasi, tenaga teknis dan penunjang Dayah Perbatasan Safinatussalamah Desa Biskang, Kecamatan Danau Paris, Kabupaten Aceh Singkil, mendapat penyerahan SK dari Dinas Pendidikan Dayah Aceh, pada Jumat (28/1/2022).

Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Zahrol Fajri, dalam arahannya menyampaikan, sumpah komitmen untuk dapat meningkatkan profesionalisme dalam bekerja serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

“Sumpah ini sebagai bentuk komitmen tenaga kontrak untuk menjalankan kewajiban bekerja dengan tekun, jujur dan bertanggungjawab,” katanya.

Pengambilan sumpah dan janji serta penyerahan SK tenaga kontrak turut disaksikan Rais ‘Am Dayah Perbatasan Safinatussalamah, Abi Hasan dan sejumlah dewan guru. Kegiatan penyerahan SK tersebut berlangsung dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) ketat.

Zahrol dalam sambutannya menyampaikan, misi lain pembangunan pesantren terpadu di wilayah perbatasan Aceh dan Sumatera Utara adalah memberikan manfaat bagi masyarakat di perbatasan khususnya dan masyarakat Aceh pada umumnya.

Menurutnya, kehadiran dayah perbatasan harus mampu mencetak generasi penerus Islam yang tangguh dan siap pakai untuk diterjunkan ke masyarakat.

Sehingga santri dayah perbatasan menjadi generasi pemegang estafet dalam membentengi segala bentuk pendangkalan akidah di perbatasan Aceh-Sumut.

Zahrol menjelaskan, Aceh Singkil terkenal sebagai lokomotif peradaban Islam. Tak hanya di Aceh, tapi juga seluruh nusantara. Ini tidak lepas dari kontribusi Allahyarham Syeikh Abdurrauf As Singkili. Bahkan namanya disematkan pada Universitas Syiah Kuala.

“Oleh karena itu, marwah Aceh yang kenal Syariat Islam itu tercermin pada masyarakat Aceh Singkil sendiri,” kata Zahrol Fajri.

Dalam sambutannya, Zahrol juga turut mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya guru dan da’i perbatasan untuk mengembalikan kejayaan Syeikh Abdurrauf As Singkili.

Menurutnya, lulusan dayah perbatasan harus mampu menjadi imam dan khatib yang bisa memberikan pencerahan dan penerangan hati bagi seluruh ummat. Dalam menyampaikan syiar Islam, lulusan dayah perbatasan harus bisa memberikan kesejukan, kedamaian, dan ketenteraman hati nurani masyarakat.

Pemerintah Aceh, tutur Zahrol, siap memperjuangkan agar dayah perbatasan menjadi benteng bagi umat Islam agar tak terjerumus dalam pendangkalan akidah. Ia juga berharap guru di dayah perbatasan harus solid dan kompak, satu sama lain.

Jika muncul perbedaan jangan diperbesar, tapi dicarikan jalan keluar yang terbaik agar tak dituding pihak luar, sesama ummat Islam tidak akur. Artinya, guru harus menjadi contoh teladan yang baik bagi santri dan masyarakat.

“Alumni dayah perbatasan juga diharapkan bisa menyadarkan orang yang telah terjerumus dalam penyakit sosial,” pungkasnya. [adv]

TAG

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Berita Terbaru

Berita terpopuler

Add New Playlist