Sidang Lanjutan Nelayan Minta Suntik Mati di Lhokseumawe, Saksi Minta Ikut Disuntik

Nazaruddin Razali, nelayan yang mengajukan permohonan suntik mati di Kota Lhokseumawe. (sumber foto: ANTARA/Dedy Syahputra)

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Sidang Lanjutan Nelayan Minta Suntik Mati di Lhokseumawe, Saksi Minta Ikut Disuntik

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Nazaruddin Razali, nelayan yang mengajukan permohonan suntik mati di Kota Lhokseumawe. (sumber foto: ANTARA/Dedy Syahputra)

MASAKINI.CO – Kasus nelayan asal Lhokseumawe yang meminta suntik mati ke Pengadilan Negeri (PN) masih terus bergulir. Kali ini, permintaan suntik euthanasia itu tak hanya oleh Nazaruddin saja. Namun, diikuti oleh enam rekannya yang ikut menjadi saksi dalam persidangan.

Permintaan suntik itu disampaikan para saksi di depan hakim dalam sidang lanjutan yang telah digelar pada Kamis (20/1), dengan agenda pemeriksaan saksi.

Kuasa hukum Safaruddin, mengatakan pihaknya sudah menghadirkan enam saksi yang merupakan warga Gampong Pusong Lama, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe.

Dalam sidang kedua tersebut pihaknya juga membawa sejumlah bukti surat edaran Pemkot Lhokseumawe, terkait pembongkaran keramba milik warga di waduk Pusong.

“Dalam persidangan kemarin kita mendengar langsung keterangan dari para saksi itu, bahwa mereka menyampaikan juga siap untuk disuntik mati,” kata Safaruddin, Jumat (21/1/2022).

Safaruddin menyebutkan, usai persidangan kedua itu dirinya turut menanyakan kepada para saksi atas sikap dan dan permintaan mereka yang juga siap untuk disuntik mati.

“Mereka menyatakan kecewa terhadap sikap Pemerintah Kota Lhokseumawe atas kebijakan rencana penggusuran keramba di waduk Pusong. Para saksi kecewa sehingga merasa daripada kehilangan tempat pencaharian sehari-hari, lebih baik mereka siap disuntik mati saja,” ujarnya.

Dikatakan Safaruddin, menurut para saksi waduk itu merupakan lokasi yang bisa menghasilkan mata pencaharian untuk membantu ekonomi keluarga. Bahkan salah seorang dari enam saksi yang dihadirkan, sudah bertahun-tahun mencari nafkah di sana.

“Poin intinya yang disampaikan para saksi, bahwa Pak Nazaruddin mengajukan permohonan euthanasia alasannya karena kebijakan pemerintah yang memaksa untuk mengosongkan waduk tersebut agar tidak ada lagi petani keramba di lokasi itu,” tuturnya.

Dalam sidang kedua tersebut, kata Safaruddin, para saksi juga menyampaikan harapan atas apa yang mereka alami sekarang. Mereka berharap, Pemkot Lhokseumawe meninjau kembali rencana pembongkaran keramba milik warga di Waduk Pusong.

“Karena di situlah satu-satunya tempat pencaharian mereka, jadi tolong dipertimbangkan lagi. Jika memang rencana itu tetap dilanjut, mereka (saksi) juga siap untuk disuntik mat,” pungkasnya.

Setelah mendengar keterangan enam saksi, hakim PN Lhokseumawe menetapkan sidang selanjutnya akan digelar pada Kamis, 27 Januari 2022, dengan agenda pembacaan putusan.

Sumber: kumparan.com

TAG

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Berita Terbaru

Berita terpopuler

Add New Playlist