Kisah Radhie, Petani Milenial dari Aceh Besar

Radhie Nour Ambiya petani milenial di Aceh Besar. (foto: Media Center Aceh Besar)

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Kisah Radhie, Petani Milenial dari Aceh Besar

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Radhie Nour Ambiya petani milenial di Aceh Besar. (foto: Media Center Aceh Besar)

MASAKINI.CO – Pantang menyerah dan terus mengasah semangat, itulah sosok Radhie. Petani yang tergolong sangat muda ini telah berhasil menjadi penyedia beberapa komuditi unggulan untuk kebutuhan pasar yang dikonsumsi sehari-hari masyarakat.

Pemuda kelahiran 10 Maret 1991 ini berdomisili di Tungkop, Aceh Besar. Radhie Nour Ambiya merupakan alumni SMK-PP Saree Aceh 2008 jurusan perkebunan. Dia melanjutkan pendidikannya dengan kuliah usai mendapat beasiswa D3 di Politeknik Agro Industri Subang, Jawa Barat dan selesai 2011.

Sejak 2013, Radhie memanfaatkan lahan seluas 3.000 meter persegi di Gampong Angan, Darussalam, Aceh Besar untuk menanam beberapa komuditi sayuran unggulan. Radhie menanam kangkung, bayam, sawi, selada, terong, tomat, cabe dan kacang.

“Saat ini, saya sudah stay produksi untuk bisa dipanen setiap hari, karena sudah saya bagi lahan menjadi 3 blok. Setiap blok memiliki 30 bedeng,” kata Radhie.

Dibantu seorang yang dia pekerjakan, Radhie mampu menanam dan memanen setiap hari sayuran untuk dijual kepada pengepul.

Sehari-hari, pendapatannya berkisar Rp200.000 hingga Rp500.000.

Selain didistribusikan lewat pengepul, hasil tanamannya juga kerap dibeli masyarakat sekitar.

Radhie memberi pengalaman bagi pelanggannya dengan memanen langsung sayuran yang mereka beli. Itu membuat pelanggan senang.

“Sayuran yang saya jual pun kini sudah merambah pasar online,” akunya.

Dia menjelaskan, metode berkebun yang ia terapkan saat ini sudah mandiri dengan menciptakan benih sendiri.

Begitu juga dengan pupuk organik yang mampu diolahnya menjadi padat dan cair. “Awalnya menggunakan pupuk kimia 25 persen, tapi saat ini kita sudah menggunakan pupuk organik olahan padat dan cair,” jelas Radhie.

Pemuda anak kedua dari delapan bersaudara pasangan Suardi Ishak dan Mushallina ini mengaku, tak ada kendalah yang berarti dalam bertani. Dia bahagia menjalani profesinya itu.

“Soal air, tinggal menggalirinya dari sumur dan membuat penampungan. Soal hama babi misalnya, tinggal dengan memagar kebun,” ungkapnya.

Dia juga mengaku tak kesulitan soal pemasaran. Kuncinya, tutur Radhie, “Bukalah jaringan dan bacalah pasar.”

Berbekal ilmu pertanian yang dipahaminya, beberapa waktu lalu Radhie diikutsertakan oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh untuk magang di Shongkla, Thailand.

Tambahan ilmu dari situ, kini ia bisa mandiri dengan berkebun dan menuai hasil.

Radhie berpesan, kepada para milenial di Aceh, untuk menerapkan ilmu apapun yang telah diperolah dan tak gampang pesimis sebelum mencoba.

“Praktekkan ilmu apapun yang kita miliki, pasti akan bermanfaat tak hanya bagi pribadi dan orang lain, tetapi juga menjadi sedekah jariah bagi guru yang telah mengajarkan kita,” pungkasnya.

TAG

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Berita Terbaru

Berita terpopuler

Add New Playlist