MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Senin, Mei 25, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Saudah Diantara Rotan dan Medan Palagan

Rino Abonita by Rino Abonita
2 Juni 2023
in Cerita, Headline
0
Saudah Diantara Rotan dan Medan Palagan

Saudah pedagang kerajinan rotan di Gampong Kueh, Lhoknga, Aceh Besar.(Rino Abonita/masakini.co)

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – “Ayo, masuk…,” seseorang memanggil Saudah agar bersembunyi ke dalam rukonya.

Saat itu sedang terjadi kontak senjata antara pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan tentara Indonesia di kawasan pasar Sigli. Ia tidak ingat tahun berapa, yang pasti siang itu pasar seketika bersulih jadi medan palagan.

RelatedPosts

Dari Lahan Penggembalaan ke Destinasi Favorit, Savana Indrapuri Sedot Ribuan Pengunjung

79 Persen Listrik Aceh Sudah Pulih, Dua Gardu Induk Masih Dalam Proses Penormalan

Aceh Gelap Gulita, Gangguan Suplai Kembali Terjadi

Letusan senjata api saling sahut, penduduk kocar-kacir. Orang-orang mencari tempat sembunyi, menghindari peluru yang sekonyong-konyong bisa menyambar kepala.

Tahun itu Aceh masih dirundung konflik bersenjata. Tembak-menembak bisa saja terjadi di lokasi yang tidak disangka-sangka seperti pasar.

Saudah sendiri, sebelum terjebak dalam situasi itu, datang jauh-jauh dari Aceh Besar untuk menjajakan pelbagai anyaman rotan ke sana. “Saya naik mobil panjang (bus), terus diturunkan di pasar,” tuturnya.

Ia berkeliling mencari pembeli sembari memikul serbaneka kerajinan rotan. Mulai dari keranjang, jambangan hingga tudung saji.

“Di sini penuh…,” kenang Saudah, mengangkat kedua tangannya, seakan ada setumpuk tudung saji di sana.

Malam harinya, Saudah menginap di tempat saudara. Keesokan harinya baru lanjut berkeliling menawarkan barang dagangan.

Saudah pedagang kerajinan rotan di Gampong Kueh, Lhoknga, Aceh Besar.(Rino Abonita/masakini.co)

Berhadapan dengan kontak senjata seperti di Sigli tidak akan menahan kaki Saudah. Ia melanglang buana seantero Aceh berminggu-minggu, menjinjing barang dagangan, kendati provinsi itu tengah dilanda perang.

“Yang tidak boleh tinggal itu ini…,” Saudah mengacung-acungkan KTP yang ada di genggamannya.

KTP jadi sesuatu yang wajib dibawa ke mana-mana semasa Darurat Militer berlaku di provinsi paling barat Indonesia. Kala itu dikenal yang namanya “KTP Merah Putih”.

KTP Merah Putih hanya berlaku di Aceh. Kepemilikan kartu identitas, yang saking lebarnya mesti dilipat agar pas di dompet, itu jadi keniscayaan jika tidak ingin dicap berafiliasi dengan separatisme.

Pos-pos militer tersebar di mana-mana untuk memverifikasi identitas. Namun, Saudah juga pernah ditahan di pos yang dijaga oleh GAM.

“Saat itu, saya tidak diizinkan lewat ke Aceh Jaya. Saya mau jualan ke sana,” kata Saudah, yang sempat terlibat adu mulut dengan orang tersebut.

Saudah bersikukuh agar orang yang menahannya menghubungi seseorang dengan nama yang diberikan olehnya. Berkat nama tersebut Saudah pun diizinkan lewat.

“Ia juga pejuang GAM wilayah itu. Pas ditelpon, dibilang mengapa ditahan, itu, kan saudara saya!” tutur dia.

Penggalan kisah itu diceritakan oleh Saudah saat ditemui masakini.co di salah satu gerai kerajinan rotan Gampong Kueh, Lhoknga, Aceh Besar, belum lama ini.

Kini Saudah sudah terhitung nenek-nenek. Suaranya terdengar berat dan berayun, begitu pula langkahnya.

Gerai itu berada tepat di sisi kanan gapura Gampong Kueh. Dibanding yang lain, gerai miliknya terkesan yang paling reyot meski tidak kentara.

Pelbagai jenis anyaman rotan ditata di atas dipan membelah dua pintu kecil gerai kayu tersebut. Beberapa di antaranya digantung, sebagian lagi menempel ke dinding.

“Yang itu kebanyakan jadi tempat lampu,” ia menunjuk salah satu anyaman rotan yang tergantung.

“Kalau yang itu, tempat bumbu-bumbuan. Cabe, bawang, dan lainnya,” tambahnya.

Anyaman-anyaman tersebut dijual dengan harga bervariasi. Paling murah dihargai Rp10 ribu, termahal mencapai Rp200 ribu.

Rata-rata anyaman tersebut merupakan buatan Saudah sendiri. Ia membuatnya dengan sistem massal seperti pabrikan yang dirajut per bagian.

Setiap bagian lantas akan direkatkan dengan bagian pelengkap yang juga sudah dipersiapkan dalam jumlah banyak. Cara seperti ini, menurutnya, akan memangkas waktu dan jauh lebih efisien.

Adapun rotan yang menjadi bahan utama kerajinan tangan dibelinya dari pemasok. Ada dua jenis rotan, sebut Saudah: rotan lokal (setempat) dan luar.

Rotan yang didatangkan dari luar memiliki harga jauh di atas rotan lokal. Jika rotan lokal seharga Rp15 ribu per kilo, rotan luar Rp50 ribu per kilo.

“Rotan pitrit…,” Saudah menyebut nama jenis rotan yang dipasok dari luar.

“Namun, mesti direndam dengan air terlebih dahulu sebelum dibengkokkan,” tambahnya.

“Kalau rotan kita, sih enggak. Bagus rotan kita,” tindihnya lagi, dengan raut muka merendahkan.

Kerajinan rotan di Gampong Kueh, Lhoknga, Aceh Besar.(Rino Abonita/masakini.co)

Di gerai Saudah sebenarnya terdapat beberapa benda yang dipasok dari luar. Seperti cermin, aneka kerajinan tanah liat, serta hiasan simpai yang dikenal dengan nama dream catchers atau penangkap mimpi.

Keberadaan benda-benda tersebut jadi pemandangan yang cukup menarik dari deretan gerai anyaman rotan di sepanjang jalan Gampong Kueh. Cermin yang bulat seperti bulan purnama serta bulu-bulu hias penuh warna, seakan berada di dunia imaji.

Sayangnya, ungkap Saudah, sekarang jumlah pembeli sudah tidak seperti dulu. Sebelum Aceh damai, keuntungan neto per minggu yang didapat bisa mencapai ratusan ribu.

“Sekarang, sehari kadang tidak ada pembeli sama sekali,” keluh dia.

Jumlah pesaing serta lokasi boleh jadi adalah faktornya. Apalagi pada hari libur, gerai anyaman rotan di Lhoknga riskan untuk dikunjungi pembeli.

Itu karena daerah tersebut seketika bersulih menjadi lintasan paling sibuk. Dijejali pengendara yang hendak menuju ke pelbagai lokasi wisata pantai.

Saudah sendiri berharap pengrajin rotan seperti dirinya mendapat sokongan dari pemerintah. Entah dalam wujud apa, ia enggan menjawab, hanya tersenyum.

Tags: Aceh BesarGampong KuehKerajinan RotanLhoknga
Previous Post

BRImo Future Garuda: Potret Anak Muda Indonesia Latihan Bersama Pesepakbola Dunia

Next Post

10 Kloter Jemaah Haji Aceh Sudah Berada di Arab Saudi

Related Posts

Dari Lahan Penggembalaan ke Destinasi Favorit, Savana Indrapuri Sedot Ribuan Pengunjung

by Riska Zulfira
24 Mei 2026
0

MASAKINI.CO - Tidak banyak yang menyangka hamparan padang penggembalaan sapi di Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, kini menjadi tujuan akhir pekan...

Jalan Kajhu Dinilai Kian Padat, Bupati Aceh Besar Usul Pelebaran Ruas

by Redaksi
14 Mei 2026
0

MASAKINI.CO – Bupati Aceh Besar, Muharram Idris mengusulkan pelebaran ruas Jalan Kajhu hingga pintu Tol Baitussalam sebagai langkah mengatasi kepadatan...

Aceh Besar Percepat Pembangunan SPAM Regional untuk Atasi Krisis Air Bersih

by Riska Zulfira
9 Mei 2026
0

MASAKINI.CO – Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menegaskan komitmennya mendukung pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Aceh Besar–Banda Aceh sebagai...

Next Post
Menag Yaqut Janji Tindak Tegas Travel Haji tak Sesuai Aturan

10 Kloter Jemaah Haji Aceh Sudah Berada di Arab Saudi

Ronaldo: Messi dan Benzema akan Disambut Baik di Arab Saudi

Discussion about this post

CERITA

Dari Lahan Penggembalaan ke Destinasi Favorit, Savana Indrapuri Sedot Ribuan Pengunjung

24 Mei 2026

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

19 Mei 2026

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

12 Mei 2026

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

7 Mei 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...