MASAKINI.CO – Setiap tanggal 4 September, dunia memperingati Hari Solidaritas Hijab Internasional. Peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan lahir dari sebuah tragedi seorang muslimah yang syahid karena mempertahankan hijab dan martabatnya.
Dari pengorbanan itu tumbuh kesadaran bahwa hijab adalah mahkota iman, cahaya kehormatan, sekaligus lambang kebebasan seorang wanita.
Mahasiswa UIN Ar-Raniry, Fatimah Chairil, menyebut hijab sebagai identitas suci yang tidak bisa dipisahkan dari martabat perempuan.
“Hijab bukan belenggu, bukan penjara. Ia adalah doa yang membungkus tubuh dan perisai yang menjaga hati. Pada setiap lipatannya tersimpan kisah kesabaran, keberanian, dan keyakinan,” katanya, Rabu (10/9/2025).
Hari Solidaritas Hijab Internasional, lanjut Fatimah, merupakan panggilan bagi dunia untuk membuka mata. Bahwa hijab bukan simbol keterbelakangan, tetapi jembatan menuju penghormatan dan peradaban.
“Untuk setiap Muslimah yang diuji karena hijabnya, engkau tidak pernah sendiri. Kita bersama, kita ada untuk saling mendukung dan membela. Tidak ada seorang pun yang berhak melarang kita mengekspresikan identitas mulia ini,” kata Fatimah.
Ia menekankan, semakin berat ujian mempertahankan hijab, semakin besar pula pahala yang Allah siapkan. “Hijab adalah bahasa cinta kepada Sang Pencipta, doa yang menyelimuti tubuh, dan mahkota kemuliaan yang Allah anugerahkan,” tambahnya.
Hari Solidaritas Hijab Internasional kini menjadi simbol perlawanan terhadap diskriminasi. Ia juga menjadi ajakan bagi seluruh Muslimah untuk tetap teguh menjaga identitas, sekaligus seruan agar masyarakat dunia lebih menghargai keberagaman.
“Hijab adalah tanda keberanian menghadapi ketidakadilan, simbol persaudaraan lintas batas. Mari kita isi peringatan ini dengan doa dan semangat solidaritas, karena kebenaran selalu lebih indah dari kebencian, dan kehormatan lebih kuat daripada diskriminasi,” tutup Fatimah.










Discussion about this post