MASAKINI.CO – Kepala Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Muksalmina, mengakui bahwa persoalan keselamatan di kawasan wisata pantai memang menjadi perhatian serius. Ia tidak menampik bahwa sebagian besar rambu keselamatan di beberapa destinasi kerap hilang ataupun dirusak oknum.
Pernyataan tersebut menanggapi sorotan dari penggerak wisata di Aceh Besar, Zulfikri, terkait lemahnya perhatian pemerintah terhadap aspek keselamatan wisata bahari di Aceh.
“Sebenarnya sudah pernah kita pasang rambu-rambu di wilayah pantai mana yang boleh berenang dan tidak boleh, hanya saja kerap hilang,” kata Muksalmina, Selasa (7/10/2025).
Ke depan, pihaknya akan memperkuat edukasi kepada pengelola desa wisata agar lebih disiplin dalam pengawasan dan pemeliharaan sarana keselamatan.
Menurut Muksalmina, tantangan keselamatan di kawasan wisata tidak hanya pada ketersediaan rambu, tetapi juga minimnya Sumber Daya Manusia (SDM), sarana prasarana keselamatan, serta rendahnya kesadaran wisatawan. Ke depan, pihaknya berupaya untuk melakukan pembinaan berkelanjutan kepada kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan pelaku usaha wisata di Aceh.
“Pembinaan ini penting karena ekonomi dari sektor pariwisata sangat besar. Kalau pengelolaan dan keamanan wisata baik, maka wisatawan akan lebih percaya datang ke Aceh,” tambahnya.
Aceh sendiri memiliki potensi pariwisata yang besar dengan 840 objek wisata, 1.262 situs cagar budaya, 134 desa wisata, dan 159 kelompok sadar wisata yang tersebar di berbagai kabupaten/kota.
Disbudpar Aceh menegaskan akan memperkuat sinergi dengan masyarakat dan pemerintah gampong untuk memastikan wisata bahari dapat berkembang dengan aman, berkelanjutan, dan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif di daerah.










Discussion about this post