MASAKINI.CO – Banda Aceh kembali mencatat kasus baru HIV/AIDS yang mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu Januari hingga Agustus 2025, tercatat sebanyak 81 kasus baru HIV.
Jumlah tersebut menjadikan Banda Aceh sebagai wilayah dengan kasus tertinggi di Provinsi Aceh dari total 233 kasus baru yang tercatat.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal, menyebut angka tersebut terus bertambah sejak 11 tahun terakhir (2014-2025) yang kini mencapai 600 kasus. Maka ini menjadi alarm penting agar seluruh pihak memperkuat upaya pencegahan dan deteksi dini.
Illiza menjelaskan, sebagian besar penderita HIV di Banda Aceh bukan penduduk asli kota. “Kurang dari 20 persen yang benar-benar warga Banda Aceh. Sisanya berasal dari luar daerah, namun tetap kita tangani karena mereka berdomisili atau dirawat di sini,” kata Illiza dalam forum kemitraan pengendalian penyakit di Balai Kota, Kamis (16/10/2025).
Pemerintah Kota, lanjut Illiza, telah menjalankan berbagai program untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS, Tuberkulosis (TBC), dan malaria. Salah satunya melalui skrining atau tes HIV gratis di seluruh Puskesmas serta peningkatan edukasi kesehatan di sekolah dan pesantren.
“Kita siapkan layanan skrining gratis agar masyarakat bisa memeriksakan diri tanpa rasa takut atau malu. Kalau ada yang positif, langsung kita tangani dan berikan pengobatan,” tutur Illiza.
Ia menambahkan, meningkatnya jumlah kasus juga disebabkan oleh masifnya pemeriksaan yang dilakukan pemerintah, bukan semata karena peningkatan perilaku berisiko. “Tes yang kita lakukan makin banyak, jadi lebih banyak juga kasus yang terdeteksi. Ini justru langkah positif karena semakin banyak yang bisa kita tangani lebih awal,” jelasnya.

Pemerintah Kota Banda Aceh juga memperkuat kerja sama lintas sektor dalam menekan penyebaran penyakit menular ini. Menurut Illiza, penanggulangan HIV tidak bisa dilakukan oleh sektor kesehatan saja, melainkan perlu dukungan dari berbagai instansi dan elemen masyarakat.
“Kita sudah membentuk tim lintas OPD untuk menangani kasus ini. Semua punya peran, mulai dari edukasi, pengawasan, hingga pendampingan bagi penderita. Target kita jelas, Banda Aceh bebas AIDS pada 2030,” tegasnya.
Selain itu, Wali Kota juga menekankan pentingnya peran keluarga dan pendidikan agama dalam mencegah penyebaran HIV di kalangan remaja.
“Kita dorong pendidikan agama yang kuat, pengawasan orang tua, dan kesadaran remaja untuk menjaga diri. Pencegahan harus dimulai dari rumah dan lingkungan,” ujarnya.










Discussion about this post