MASAKINI.CO – Banjir besar yang melanda Singkil membuat seluruh aktivitas warga lumpuh seketika. Sinyal komunikasi terputus total, listrik padam dan makanan mulai menipis. Dalam hitungan jam, desa-desa yang biasanya terhubung oleh jalur darat berubah menjadi wilayah-wilayah terisolasi yang sulit dijangkau.

Kondisi tersebut diperparah oleh jembatan utama yang putus akibat derasnya arus. Infrastruktur yang selama ini menjadi jalur vital antar kampung tak mampu menahan tekanan air yang terus meningkat.

Akibatnya, akses darat tidak dapat digunakan sama sekali, menyulitkan distribusi bantuan maupun upaya evakuasi.

Di tengah situasi darurat ini, warga tidak memiliki banyak pilihan. Jalur laut menjadi satu-satunya rute yang masih memungkinkan untuk berpindah ke lokasi yang lebih aman.

Kapal nelayan dan speedboat menjadi sarana utama evakuasi, meski harus menembus cuaca buruk dan gelombang yang tidak menentu.

Ibu-ibu hamil, anak-anak, hingga warga lanjut usia terpaksa naik ke atas boat seadanya. Proses evakuasi berlangsung dengan penuh kecemasan, karena setiap perjalanan melintasi laut membawa risiko besar. Namun, tidak ada pilihan lain bagi mereka selain meninggalkan rumah dan harta benda yang terendam.

Bahkan sejumlah fasilitas umum dan bangunan yang dianggap aman ikut terendam. Air memasuki lobi hotel, memenuhi lantai-lantai dasar, membuat para tamu harus mengungsi ke lantai atas sembari menunggu bantuan.

Aliran listrik yang terputus menambah kecemasan, menjadikan hotel yang biasanya menjadi tempat perlindungan justru ikut berada dalam keadaan darurat.

Kejadian ini menjadi yang terparah dalam catatan ingatan warga Singkil. Banjir sebesar ini belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan dalam musim hujan ekstrem sekalipun.

Banyak warga menyebut bahwa bencana kali ini terasa berbeda, lebih cepat, lebih tinggi dan lebih besar dampaknya.

Sejumlah masyarakat menilai bahwa banjir besar ini tidak dapat dilepaskan dari maraknya perambahan hutan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Berkurangnya tutupan hutan membuat kawasan pesisir dan dataran rendah kehilangan benteng alaminya yang selama ini menahan air.

Tanpa perlindungan, air hujan dan limpahan dari daerah hulu meluncur deras ke pemukiman. Tanah yang telah kehilangan daya serap tidak mampu lagi mengendalikan aliran air.

Akibatnya, wilayah yang selama ini aman dari banjir kini berubah menjadi kawasan rawan dengan tingkat kerusakan yang mengkhawatirkan.

Banjir yang merendam Singkil bukan hanya luapan air semata, melainkan tanda dari ekosistem yang kian rapuh. Ini merupakan peringatan keras dari alam bahwa kerusakan yang terus terjadi tidak lagi bisa diabaikan.










Discussion about this post