MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Rabu, Februari 18, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Foto

Air Mata Hutan

Ahmad Mufti by Ahmad Mufti
30 November 2025
in Foto
0

Tugu di Pulo Sarok, Aceh Singkil yang dibangun untuk memperingati bencana tsunami. | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Banjir besar yang melanda Singkil membuat seluruh aktivitas warga lumpuh seketika. Sinyal komunikasi terputus total, listrik padam dan makanan mulai menipis. Dalam hitungan jam, desa-desa yang biasanya terhubung oleh jalur darat berubah menjadi wilayah-wilayah terisolasi yang sulit dijangkau.

Tampak dari atas kondisi pemukiman di Pulo Sarok, Aceh Singkil, Jumat (28/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Kondisi tersebut diperparah oleh jembatan utama yang putus akibat derasnya arus. Infrastruktur yang selama ini menjadi jalur vital antar kampung tak mampu menahan tekanan air yang terus meningkat.

RelatedPosts

The Land from Above

Pendidikan yang Bertahan

Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang Dipercepat

Warga melintasi kawasan permukiman yang terendam banjir menggunakan perahu darurat, Pulo Sarok, Aceh Singkil, Kamis (27/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Akibatnya, akses darat tidak dapat digunakan sama sekali, menyulitkan distribusi bantuan maupun upaya evakuasi.

Sejumlah warga Pulo Sarok, Aceh Singkil dievakuasi ke lokasi yang lebih aman, Jumat (28/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Di tengah situasi darurat ini, warga tidak memiliki banyak pilihan. Jalur laut menjadi satu-satunya rute yang masih memungkinkan untuk berpindah ke lokasi yang lebih aman.

Ruas jalan lintas Singkil – Rimo tergenang air. | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Kapal nelayan dan speedboat menjadi sarana utama evakuasi, meski harus menembus cuaca buruk dan gelombang yang tidak menentu.

Mefrian, salah satu warga yang membantu masyarakat yang terjebak banjir menggunakan speedboat, Anak Laut, Aceh Singkil, Jumat (28/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Ibu-ibu hamil, anak-anak, hingga warga lanjut usia terpaksa naik ke atas boat seadanya. Proses evakuasi berlangsung dengan penuh kecemasan, karena setiap perjalanan melintasi laut membawa risiko besar. Namun, tidak ada pilihan lain bagi mereka selain meninggalkan rumah dan harta benda yang terendam.

Sejumlah warga menyeberang menggunakan kapal nelayan ke lokasi yang tidak terisolir, Pulo Sarok, Aceh Singkil, Jumat (28/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Bahkan sejumlah fasilitas umum dan bangunan yang dianggap aman ikut terendam. Air memasuki lobi hotel, memenuhi lantai-lantai dasar, membuat para tamu harus mengungsi ke lantai atas sembari menunggu bantuan.

Yasir, salah satu tamu hotel di Pulo Sarok, Aceh Singkil, Kamis (27/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Aliran listrik yang terputus menambah kecemasan, menjadikan hotel yang biasanya menjadi tempat perlindungan justru ikut berada dalam keadaan darurat.

Sejumlah tamu hotel mengangkat genset yang mulai terendam banjir di salah satu pekarangan hotel di Pulo Sarok, Aceh Singkil, Rabu (26/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Kejadian ini menjadi yang terparah dalam catatan ingatan warga Singkil. Banjir sebesar ini belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan dalam musim hujan ekstrem sekalipun.

Warga melintasi genangan air sambil membawa perlengkapan rumah di Pulo Sarok, Aceh Singkil, Kamis (27/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Banyak warga menyebut bahwa bencana kali ini terasa berbeda, lebih cepat, lebih tinggi dan lebih besar dampaknya.

Aliran banjir yang mengalir ke laut. | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Sejumlah masyarakat menilai bahwa banjir besar ini tidak dapat dilepaskan dari maraknya perambahan hutan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Genangan air yang melewati jalan Singkil-Rimo. | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Berkurangnya tutupan hutan membuat kawasan pesisir dan dataran rendah kehilangan benteng alaminya yang selama ini menahan air.

Warga Pulo Sarok, Aceh Singkil berbelanja di warung yang masih buka saat bencana banjir, Jumat (28/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Tanpa perlindungan, air hujan dan limpahan dari daerah hulu meluncur deras ke pemukiman. Tanah yang telah kehilangan daya serap tidak mampu lagi mengendalikan aliran air.

Warga menyeberangi arus banjir di Pulo Sarok, Aceh Singkil, Kamis (27/11/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Akibatnya, wilayah yang selama ini aman dari banjir kini berubah menjadi kawasan rawan dengan tingkat kerusakan yang mengkhawatirkan.

Genangan air yang masih memenuhi jalan di Pulo Sarok, Aceh Singkil. | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Banjir yang merendam Singkil bukan hanya luapan air semata, melainkan tanda dari ekosistem yang kian rapuh. Ini merupakan peringatan keras dari alam bahwa kerusakan yang terus terjadi tidak lagi bisa diabaikan.

Tags: BanjirBanjir Aceh SingkilBencana BanjirPerambahan Hutan
Previous Post

Mulai Besok, UIN Ar-Raniry Hentikan Perkuliahan Sementara

Next Post

Bantuan Logistik Akhirnya Tembus Pining, Gayo Lues Berhari-hari Terisolir

Related Posts

BMKG Prediksi Hujan dan Angin Kencang di Aceh Tiga Hari Kedepan

BMKG Peringatkan Potensi Bencana Hidrometeorologi di Aceh Hingga 20 Februari

by Riska Zulfira
13 Februari 2026
0

MASAKINI.CO - Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda, Nasrol Adil, mengingatkan masyarakat Aceh untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana...

Hujan Guyur Wilayah Aceh Selatan, Simpang Mutiara Sempat Tergenang Banjir

by Aininadhirah
12 Februari 2026
0

MASAKINI.CO - Derasnya hujan yang mengguyur wilayah Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Selatan, menyebabkan banjir di Desa Simpang Mutiara pada Rabu...

Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang Dipercepat

1.000 Huntap untuk Korban Bencana Bireuen Mulai Dibangun

by Redaksi
7 Januari 2026
0

MASAKINI.CO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen mulai membangun hunian tetap (Huntap) bagi warga terdampak banjir dan tanah longsor. Pada tahap...

Next Post

Bantuan Logistik Akhirnya Tembus Pining, Gayo Lues Berhari-hari Terisolir

Stok Beras Habis 4 Hari, Warga Pulau Banyak Terpaksa Makan Umbi dan Hasil Alam

Discussion about this post

CERITA

Ismatul Rahmi pemeran Hasanah dalam dokudrama NOEH | Foto: dok pribadi

Air Mata Hasanah, Luka yang Tak Terlihat dalam Film Noeh

17 Februari 2026

Menembus Batas Negeri, Perjalanan Naufal Maulana Menggapai Beasiswa Pemerintah Rusia

14 Februari 2026

Meugang, Tradisi Turun-Temurun Aceh Menyambut Ramadan

4 Februari 2026

Ramadan di Tenda: Harapan Pengungsi Kalasegi untuk Rumah yang Terlambat Datang

3 Februari 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...