MASAKINI.CO – Terputusnya akses transportasi Aceh–Medan akibat banjir dan tanah longsor memicu dampak berlapis bagi masyarakat. Selain menghambat mobilitas warga, lumpuhnya jalur utama antarprovinsi itu juga memukul pelaku usaha daring (online).
Salah satu yang terdampak adalah Ue Neulheu atau kelapa gongseng, usaha kebutuhan rumah tangga milik pengusaha muda Banda Aceh, Rahmi Aidal Fitri. Ia mengungkapkan bahwa lebih dari 110 kilogram barang dagangan miliknya tertahan di kawasan Jembatan Kutablang, Bireuen, sejak jalur tersebut tidak bisa dilalui.
“Barangnya aman dan tidak mengganggu kualitas asal terkena banjir. Sopir juga sudah memastikan. Hanya saja belum bisa lewat sama sekali,” kata Rahmi kepada masakini.co, Senin (1/12/2025).
Produk tersebut seharusnya dikirim ke pelanggan di Takengon dan Panton Labu. Namun penutupan total jalur Aceh–Sumut membuat seluruh pengiriman menggunakan armada L300 terhenti sampai waktu yang belum pasti.
Dampaknya, penjualan daring Ue Neulheu menurun tajam. Pesanan melalui Shopee dan TikTok Shop anjlok karena pengiriman tidak dapat diproses.
“Perbedaannya jauh sekali dibanding hari biasa. Karena tidak bisa kirim, orderan turun dan kami terpaksa tutup dulu e-commerce-nya,” ujarnya.
Rahmi menambahkan, beberapa pelanggan yang menggunakan metode COD masih bisa dihubungi, sementara sebagian lainnya belum merespons. Meski tidak mengalami kerugian finansial karena pembayaran dilakukan setelah barang diterima, ia menyebut pemasukan usahanya kini terkendala.
“Yang COD aman, mereka belum bayar karena barang belum sampai. Jadi tidak rugi uang, tapi pesanan baru dari luar Banda Aceh benar-benar tidak ada,” katanya.
Lumpuhnya jalur Aceh–Medan sendiri disebabkan sedikitnya 27 titik kerusakan jalan, termasuk sejumlah jembatan yang ambruk, sehingga kendaraan logistik tidak dapat melintas.
Tidak hanya pelaku usaha seperti Rahmi, konsumen juga merasakan imbas keterlambatan pengiriman barang. Mia Sofianti, warga Aceh Besar, mengaku sudah menunggu paket pesanannya selama sepekan.
“Saya pesan Senin (23/11/2025), harusnya tiba Jumat (28/11/2025). Tapi sampai sekarang belum sampai karena akses terputus,” ujarnya.
Menurut Mia, pesanannya dikirim dari Bandung melalui transportasi darat. “Tapi barusan saya cek estimasi tiba besok, 2 Desember,” sebutnya.
Hingga kini belum ada kepastian kapan jalur Aceh–Medan kembali normal. Pelaku usaha daring maupun konsumen hanya bisa menunggu perbaikan akses sebagai satu-satunya jalan agar arus logistik kembali bergerak.










Discussion about this post