MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Sabtu, Oktober 24, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Seri Rahayu, Penyintas Tsunami yang Kembali Menyaksikan Aceh Terendam

Ulfah by Ulfah
2 Desember 2025
in Cerita
0
Seri Rahayu, Penyintas Tsunami yang Kembali Menyaksikan Aceh Terendam

Ilustrasi. Akses jalan terputus setelah diterjang banjir beberapa waktu lalu. | Foto : Ist

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Aceh kembali dilanda bencana besar. Banjir yang menenggelamkan 18 kabupaten/kota di wilayah timur dan utara membuat banyak warga seperti kembali hidup dalam bayang-bayang kelam tsunami 2004. Bagi para penyintas, trauma lama itu seperti dihidupkan kembali.

Seri Rahayu, warga Aceh Timur, adalah satu di antaranya. Penyintas konflik, penyintas tsunami, dan kini kembali menjadi penyintas banjir besar, ia mengaku remuk menyaksikan kehancuran yang tersebar luas di sepanjang pantai timur.

RelatedPosts

Desa Wisata Ulee Lheue Tawarkan Sensasi Ngopi di Atas Perahu

Kisah Abdul Majid, 21 Tahun Menyambung Alas Kaki demi Menghidupi Keluarga

PFI Malang Rekam Cerita di Balik Pangan Lewat Pameran Foto

“Kerusakan merata di seluruh pantai timur, mirip tsunami tapi area terdampak jauh lebih luas dan masif. Aku yang pernah jadi penyintas konflik hingga tsunami kehilangan kata untuk menggambarkan apa yang kulihat,” ujarnya, Senin (1/12/2025).

Pada hari yang sama, mayat dari kawasan Langkahan masih tergeletak di waduk. “Sampai kemarin sore masih ada. Semoga hari ini sudah dipindahkan,” ucapnya. Pemandangan itu kembali menggugah ingatan 20 tahun silam, ketika tsunami menyapu Aceh dan menyisakan luka panjang.

Saat berada di Peureulak, Seri menunggu sopir pengantar barang dan adik iparnya yang terjebak longsor di Peunaron. Longsor yang tampak kecil itu cukup untuk memutus jalur dan membuat ratusan orang tak bisa bergerak.

Di Alue Nibong, warga yang selamat dari banjir mendirikan posko spontan, menyiapkan makanan bagi sopir truk dan penumpang bus yang berhasil lolos dari badai di Tamiang serta banjir besar di Langsa.

Tepatnya di SPPG Peureulak Kota bahkan sempat dijadikan dapur umum untuk warga yang terjebak di Peurelak.

“Tiga SPPG, Peureulak Barat, Kota, dan Timur saling bantu menyediakan makanan selama tiga hari. Masing-masing punya stok untuk seminggu, minimal 2.500 porsi,” ujarnya.

Seri yakin, bila stok pangan dari Banda Aceh dan Lhokseumawe wilayah yang tak terdampak langsung segera dimobilisasi, krisis kelaparan di hari-hari awal bisa ditekan.

Sementara itu, fasilitas kesehatan praktis lumpuh. Puskesmas yang ikut terendam terpaksa mengevakuasi pasien tanpa alat, tanpa obat, dan tanpa tenaga medis yang bisa berjaga.

“Ada warga yang meninggal tanpa pertolongan. Ada yang baru selesai operasi tapi tidak punya pereda nyeri, infus, atau perawat,” kata Seri.

Ia juga meminta pemerintah segera mendatangkan tenaga medis dari luar Aceh mengingat banyak tenaga kesehatan di daerah terdampak juga mengalami dampak bencana.

Namun di beberapa titik, situasi justru menegang. Ada aroma konflik di pom bensin, perebutan akses, bahkan perang tarif sesama pengendara di Kutablang, Bireuen.

Penyaluran BBM hampir terhenti akibat akses jalan terputus. Kondisi itu memicu ketegangan di banyak lokasi.

“Saya melihat sendiri orang berebut di SPBU. Bahkan ada perang tarif antar-pengendara yang mengangkut penumpang, padahal warga sedang tidak punya uang tunai,” ungkapnya.

Kelangkaan BBM diperparah dengan kondisi alat berat dan kendaraan evakuasi yang juga tidak bisa bergerak tanpa pasokan solar.

Selain itu, jaringan komunikasi sempat putus di berbagai wilayah. Di Peureulak dan sebagian Aceh Utara, warga hidup tanpa sinyal, tanpa listrik, tanpa informasi.

“Kalau kalian bisa bicara dengan pemerintah, tolong sampaikan: stabilkan BBM dan jaringan komunikasi. Masyarakat trauma menjalani gelap tanpa kabar keluarga yang terpisah,” ujar Seri.

Saat berhasil keluar dari Peureulak dan menuju Bireuen, Seri menyaksikan ribuan warga Aceh Utara mengungsi di pinggir jalan nasional.

“Mereka tanpa tenda, tanpa air bersih. Pangan sulit. Gas langka. Pakaian hanya yang melekat di badan karena rumah terendam lumpur,” ceritanya.

Di beberapa titik, banjir memang sudah surut, namun lumpur setebal beberapa sentimeter mengering dan berubah menjadi debu pekat. Debu itu memenuhi udara, membuat pengungsi termasuk anak-anak, lansia, dan ibu hamil rentan terkena ISPA.

Menurut Seri, masyarakatlah yang menjadi pahlawan pertama di lokasi bencana. Dari membuka dapur umum, membantu evakuasi, hingga membebaskan jalur yang tertutup pohon tumbang, semua dilakukan dengan gotong royong.

Sementara pemerintah daerah dan provinsi dinilai belum mampu menentukan langkah awal penanganan secara cepat.

“Rumah-rumah dan fasilitas publik yang tertimbun lumpur akan sangat sulit ditangani kalau hanya mengandalkan pemkab atau pemerintah Aceh,” tegasnya.

Previous Post

Akses Jalan Antarprovinsi Terputus, Usaha Online di Aceh Ikut Lumpuh

Next Post

Update Bencana Aceh, 173 Orang Meninggal dan 204 Hilang

Related Posts

Harga Emas Perhiasan di Banda Aceh Turun Jadi Rp7,47 Juta per Mayam

by Masa Kini
24 Oktober 2026
0

MASAKINI.CO – Harga emas perhiasan di Banda Aceh turun menjadi Rp7.470.000 per mayam pada Sabtu (24/10/2026). Meski harga emas turun,...

Asrama Putra Kampus Abulyatama Terbakar, Peralatan Mahasiswa Hangus

by Riska Zulfira
24 Oktober 2026
0

MASAKINI.CO – Satu unit asrama putra di Kampus Abulyatama, Gampong Lampoh Keudee, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, terbakar pada Sabtu...

Kapolda Aceh Ungkap Jejak Jaringan Sabu Internasional di Pidie

by Redaksi
24 Oktober 2026
0

MASAKINI.CO – Polda Aceh mengungkap laboratorium sabu jaringan internasional di Kabupaten Pidie setelah mengembangkan penyelidikan kasus penyelundupan 2,6 ton sabu...

Next Post
Update Bencana Aceh, 173 Orang Meninggal dan 204 Hilang

Update Bencana Aceh, 173 Orang Meninggal dan 204 Hilang

FIFA Bakal Berlakukan Aturan Baru Terkait Tendangan Sudut di Piala Dunia

Discussion about this post

CERITA

Desa Wisata Ulee Lheue Tawarkan Sensasi Ngopi di Atas Perahu

22 Oktober 2026

Kisah Abdul Majid, 21 Tahun Menyambung Alas Kaki demi Menghidupi Keluarga

14 Oktober 2026

PFI Malang Rekam Cerita di Balik Pangan Lewat Pameran Foto

25 September 2026

Dari Teras Rumah, Nova Mengubah Hobi Memotret Makanan Jadi Profesi

16 September 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co