MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Selasa, Mei 26, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Seri Rahayu, Penyintas Tsunami yang Kembali Menyaksikan Aceh Terendam

Ulfah by Ulfah
2 Desember 2025
in Cerita
0
Seri Rahayu, Penyintas Tsunami yang Kembali Menyaksikan Aceh Terendam

Ilustrasi. Akses jalan terputus setelah diterjang banjir beberapa waktu lalu. | Foto : Ist

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Aceh kembali dilanda bencana besar. Banjir yang menenggelamkan 18 kabupaten/kota di wilayah timur dan utara membuat banyak warga seperti kembali hidup dalam bayang-bayang kelam tsunami 2004. Bagi para penyintas, trauma lama itu seperti dihidupkan kembali.

Seri Rahayu, warga Aceh Timur, adalah satu di antaranya. Penyintas konflik, penyintas tsunami, dan kini kembali menjadi penyintas banjir besar, ia mengaku remuk menyaksikan kehancuran yang tersebar luas di sepanjang pantai timur.

RelatedPosts

Dari Lahan Penggembalaan ke Destinasi Favorit, Savana Indrapuri Sedot Ribuan Pengunjung

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

“Kerusakan merata di seluruh pantai timur, mirip tsunami tapi area terdampak jauh lebih luas dan masif. Aku yang pernah jadi penyintas konflik hingga tsunami kehilangan kata untuk menggambarkan apa yang kulihat,” ujarnya, Senin (1/12/2025).

Pada hari yang sama, mayat dari kawasan Langkahan masih tergeletak di waduk. “Sampai kemarin sore masih ada. Semoga hari ini sudah dipindahkan,” ucapnya. Pemandangan itu kembali menggugah ingatan 20 tahun silam, ketika tsunami menyapu Aceh dan menyisakan luka panjang.

Saat berada di Peureulak, Seri menunggu sopir pengantar barang dan adik iparnya yang terjebak longsor di Peunaron. Longsor yang tampak kecil itu cukup untuk memutus jalur dan membuat ratusan orang tak bisa bergerak.

Di Alue Nibong, warga yang selamat dari banjir mendirikan posko spontan, menyiapkan makanan bagi sopir truk dan penumpang bus yang berhasil lolos dari badai di Tamiang serta banjir besar di Langsa.

Tepatnya di SPPG Peureulak Kota bahkan sempat dijadikan dapur umum untuk warga yang terjebak di Peurelak.

“Tiga SPPG, Peureulak Barat, Kota, dan Timur saling bantu menyediakan makanan selama tiga hari. Masing-masing punya stok untuk seminggu, minimal 2.500 porsi,” ujarnya.

Seri yakin, bila stok pangan dari Banda Aceh dan Lhokseumawe wilayah yang tak terdampak langsung segera dimobilisasi, krisis kelaparan di hari-hari awal bisa ditekan.

Sementara itu, fasilitas kesehatan praktis lumpuh. Puskesmas yang ikut terendam terpaksa mengevakuasi pasien tanpa alat, tanpa obat, dan tanpa tenaga medis yang bisa berjaga.

“Ada warga yang meninggal tanpa pertolongan. Ada yang baru selesai operasi tapi tidak punya pereda nyeri, infus, atau perawat,” kata Seri.

Ia juga meminta pemerintah segera mendatangkan tenaga medis dari luar Aceh mengingat banyak tenaga kesehatan di daerah terdampak juga mengalami dampak bencana.

Namun di beberapa titik, situasi justru menegang. Ada aroma konflik di pom bensin, perebutan akses, bahkan perang tarif sesama pengendara di Kutablang, Bireuen.

Penyaluran BBM hampir terhenti akibat akses jalan terputus. Kondisi itu memicu ketegangan di banyak lokasi.

“Saya melihat sendiri orang berebut di SPBU. Bahkan ada perang tarif antar-pengendara yang mengangkut penumpang, padahal warga sedang tidak punya uang tunai,” ungkapnya.

Kelangkaan BBM diperparah dengan kondisi alat berat dan kendaraan evakuasi yang juga tidak bisa bergerak tanpa pasokan solar.

Selain itu, jaringan komunikasi sempat putus di berbagai wilayah. Di Peureulak dan sebagian Aceh Utara, warga hidup tanpa sinyal, tanpa listrik, tanpa informasi.

“Kalau kalian bisa bicara dengan pemerintah, tolong sampaikan: stabilkan BBM dan jaringan komunikasi. Masyarakat trauma menjalani gelap tanpa kabar keluarga yang terpisah,” ujar Seri.

Saat berhasil keluar dari Peureulak dan menuju Bireuen, Seri menyaksikan ribuan warga Aceh Utara mengungsi di pinggir jalan nasional.

“Mereka tanpa tenda, tanpa air bersih. Pangan sulit. Gas langka. Pakaian hanya yang melekat di badan karena rumah terendam lumpur,” ceritanya.

Di beberapa titik, banjir memang sudah surut, namun lumpur setebal beberapa sentimeter mengering dan berubah menjadi debu pekat. Debu itu memenuhi udara, membuat pengungsi termasuk anak-anak, lansia, dan ibu hamil rentan terkena ISPA.

Menurut Seri, masyarakatlah yang menjadi pahlawan pertama di lokasi bencana. Dari membuka dapur umum, membantu evakuasi, hingga membebaskan jalur yang tertutup pohon tumbang, semua dilakukan dengan gotong royong.

Sementara pemerintah daerah dan provinsi dinilai belum mampu menentukan langkah awal penanganan secara cepat.

“Rumah-rumah dan fasilitas publik yang tertimbun lumpur akan sangat sulit ditangani kalau hanya mengandalkan pemkab atau pemerintah Aceh,” tegasnya.

Previous Post

Akses Jalan Antarprovinsi Terputus, Usaha Online di Aceh Ikut Lumpuh

Next Post

Update Bencana Aceh, 173 Orang Meninggal dan 204 Hilang

Related Posts

Pasar Tani Aceh Pangkas Rantai Distribusi, Harga Daging dan Ayam Lebih Murah saat Meugang

by Aininadhirah
25 Mei 2026
0

MASAKINI.CO – Di saat harga daging dan ayam mengalami kenaikan di sejumlah pasar tradisional menjelang meugang, Pasar Tani Aceh 2026...

MIN 27 Aceh Besar Sabet 11 Penghargaan Nasional di Festival Literasi 2026

by Redaksi
25 Mei 2026
0

MASAKINI.CO – Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 27 Aceh Besar mencatat prestasi membanggakan dengan meraih 11 penghargaan tingkat nasional pada ajang...

Bukan Membela, Orang Tua Ini Minta Anak yang Terjaring Razia Dibina dengan Tegas

by Riska Zulfira
25 Mei 2026
0

MASAKINI.CO – Di tengah banyaknya orang tua yang datang membela anak saat terjaring razia, pemandangan berbeda justru terjadi di Kantor...

Next Post
Update Bencana Aceh, 173 Orang Meninggal dan 204 Hilang

Update Bencana Aceh, 173 Orang Meninggal dan 204 Hilang

FIFA Bakal Berlakukan Aturan Baru Terkait Tendangan Sudut di Piala Dunia

Discussion about this post

CERITA

Dari Lahan Penggembalaan ke Destinasi Favorit, Savana Indrapuri Sedot Ribuan Pengunjung

24 Mei 2026

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

19 Mei 2026

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

12 Mei 2026

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

7 Mei 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co