MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Kamis, Agustus 13, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Seri Rahayu, Penyintas Tsunami yang Kembali Menyaksikan Aceh Terendam

Ulfah by Ulfah
2 Desember 2025
in Cerita
0
Seri Rahayu, Penyintas Tsunami yang Kembali Menyaksikan Aceh Terendam

Ilustrasi. Akses jalan terputus setelah diterjang banjir beberapa waktu lalu. | Foto : Ist

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Aceh kembali dilanda bencana besar. Banjir yang menenggelamkan 18 kabupaten/kota di wilayah timur dan utara membuat banyak warga seperti kembali hidup dalam bayang-bayang kelam tsunami 2004. Bagi para penyintas, trauma lama itu seperti dihidupkan kembali.

Seri Rahayu, warga Aceh Timur, adalah satu di antaranya. Penyintas konflik, penyintas tsunami, dan kini kembali menjadi penyintas banjir besar, ia mengaku remuk menyaksikan kehancuran yang tersebar luas di sepanjang pantai timur.

RelatedPosts

Dari Banda Aceh ke Pelosok Papua, Reza Mencari Potensi yang Tersembunyi di Teluk Wondama

Sepuluh Tahun Menjaga Tradisi Merah Putih, Kisah Safura Merawat Rezeki dari Lapak Bendera

Liberika Tangse, Kopi Langka Beraroma Nangka

“Kerusakan merata di seluruh pantai timur, mirip tsunami tapi area terdampak jauh lebih luas dan masif. Aku yang pernah jadi penyintas konflik hingga tsunami kehilangan kata untuk menggambarkan apa yang kulihat,” ujarnya, Senin (1/12/2025).

Pada hari yang sama, mayat dari kawasan Langkahan masih tergeletak di waduk. “Sampai kemarin sore masih ada. Semoga hari ini sudah dipindahkan,” ucapnya. Pemandangan itu kembali menggugah ingatan 20 tahun silam, ketika tsunami menyapu Aceh dan menyisakan luka panjang.

Saat berada di Peureulak, Seri menunggu sopir pengantar barang dan adik iparnya yang terjebak longsor di Peunaron. Longsor yang tampak kecil itu cukup untuk memutus jalur dan membuat ratusan orang tak bisa bergerak.

Di Alue Nibong, warga yang selamat dari banjir mendirikan posko spontan, menyiapkan makanan bagi sopir truk dan penumpang bus yang berhasil lolos dari badai di Tamiang serta banjir besar di Langsa.

Tepatnya di SPPG Peureulak Kota bahkan sempat dijadikan dapur umum untuk warga yang terjebak di Peurelak.

“Tiga SPPG, Peureulak Barat, Kota, dan Timur saling bantu menyediakan makanan selama tiga hari. Masing-masing punya stok untuk seminggu, minimal 2.500 porsi,” ujarnya.

Seri yakin, bila stok pangan dari Banda Aceh dan Lhokseumawe wilayah yang tak terdampak langsung segera dimobilisasi, krisis kelaparan di hari-hari awal bisa ditekan.

Sementara itu, fasilitas kesehatan praktis lumpuh. Puskesmas yang ikut terendam terpaksa mengevakuasi pasien tanpa alat, tanpa obat, dan tanpa tenaga medis yang bisa berjaga.

“Ada warga yang meninggal tanpa pertolongan. Ada yang baru selesai operasi tapi tidak punya pereda nyeri, infus, atau perawat,” kata Seri.

Ia juga meminta pemerintah segera mendatangkan tenaga medis dari luar Aceh mengingat banyak tenaga kesehatan di daerah terdampak juga mengalami dampak bencana.

Namun di beberapa titik, situasi justru menegang. Ada aroma konflik di pom bensin, perebutan akses, bahkan perang tarif sesama pengendara di Kutablang, Bireuen.

Penyaluran BBM hampir terhenti akibat akses jalan terputus. Kondisi itu memicu ketegangan di banyak lokasi.

“Saya melihat sendiri orang berebut di SPBU. Bahkan ada perang tarif antar-pengendara yang mengangkut penumpang, padahal warga sedang tidak punya uang tunai,” ungkapnya.

Kelangkaan BBM diperparah dengan kondisi alat berat dan kendaraan evakuasi yang juga tidak bisa bergerak tanpa pasokan solar.

Selain itu, jaringan komunikasi sempat putus di berbagai wilayah. Di Peureulak dan sebagian Aceh Utara, warga hidup tanpa sinyal, tanpa listrik, tanpa informasi.

“Kalau kalian bisa bicara dengan pemerintah, tolong sampaikan: stabilkan BBM dan jaringan komunikasi. Masyarakat trauma menjalani gelap tanpa kabar keluarga yang terpisah,” ujar Seri.

Saat berhasil keluar dari Peureulak dan menuju Bireuen, Seri menyaksikan ribuan warga Aceh Utara mengungsi di pinggir jalan nasional.

“Mereka tanpa tenda, tanpa air bersih. Pangan sulit. Gas langka. Pakaian hanya yang melekat di badan karena rumah terendam lumpur,” ceritanya.

Di beberapa titik, banjir memang sudah surut, namun lumpur setebal beberapa sentimeter mengering dan berubah menjadi debu pekat. Debu itu memenuhi udara, membuat pengungsi termasuk anak-anak, lansia, dan ibu hamil rentan terkena ISPA.

Menurut Seri, masyarakatlah yang menjadi pahlawan pertama di lokasi bencana. Dari membuka dapur umum, membantu evakuasi, hingga membebaskan jalur yang tertutup pohon tumbang, semua dilakukan dengan gotong royong.

Sementara pemerintah daerah dan provinsi dinilai belum mampu menentukan langkah awal penanganan secara cepat.

“Rumah-rumah dan fasilitas publik yang tertimbun lumpur akan sangat sulit ditangani kalau hanya mengandalkan pemkab atau pemerintah Aceh,” tegasnya.

Previous Post

Akses Jalan Antarprovinsi Terputus, Usaha Online di Aceh Ikut Lumpuh

Next Post

Update Bencana Aceh, 173 Orang Meninggal dan 204 Hilang

Related Posts

Pemkab Aceh Timur Dorong Program Nasional Lebih Tepat Sasaran di Daerah

by Aininadhirah
13 Agustus 2026
0

MASAKINI.CO– Pemerintah Kabupaten Aceh Timur mendorong agar pelaksanaan program prioritas nasional di daerah tidak berhenti pada kebijakan, tetapi benar-benar disesuaikan...

Satu Rumah dan Tiga Dapur Minyak Tradisional di Aceh Timur Terbakar, Diduga Dipicu Kebocoran Minyak 

by Redaksi
13 Agustus 2026
0

MASAKINI.CO – Kebakaran melanda satu unit rumah warga dan tiga dapur minyak tradisional di Desa Seumali, Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten...

Kapolda Aceh: Belum Ada Keterlibatan Kapolresta Banda Aceh dalam Kasus Etomidate Bireuen

by Riska Zulfira
13 Agustus 2026
0

MASAKINI.CO – Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan menyatakan hingga saat ini belum ditemukan adanya keterlibatan Kapolresta Banda Aceh Kombes...

Next Post
Update Bencana Aceh, 173 Orang Meninggal dan 204 Hilang

Update Bencana Aceh, 173 Orang Meninggal dan 204 Hilang

FIFA Bakal Berlakukan Aturan Baru Terkait Tendangan Sudut di Piala Dunia

Discussion about this post

CERITA

Dari Banda Aceh ke Pelosok Papua, Reza Mencari Potensi yang Tersembunyi di Teluk Wondama

12 Agustus 2026

Sepuluh Tahun Menjaga Tradisi Merah Putih, Kisah Safura Merawat Rezeki dari Lapak Bendera

4 Agustus 2026

Liberika Tangse, Kopi Langka Beraroma Nangka

20 Juli 2026

Dari Lhoknga, Anyaman Bambu Menganyam Jalan ke Pasar Dunia

19 Juli 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co