MASAKINI.CO – Di tengah lumpur setinggi dada orang dewasa dan rumah-rumah yang nyaris rata dengan tanah, puluhan remaja Masjid At-Taqwa Lampupok, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, memilih untuk tidak tinggal diam. Sejak banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Aceh, mereka bergerak cepat membawa bantuan langsung ke titik terdampak di Pidie Jaya dan Bireuen.
Koordinator aksi kemanusiaan Ikatan Remaja Masjid (IRM) At-Taqwa Lampupok, Akram, mengatakan penggalangan bantuan sudah dimulai sejak 4 Desember 2025, dan seluruh donasi disalurkan langsung ke lokasi yang mengalami kerusakan paling parah.
Saat pertama kali tiba di Gampong Meunasah Mancang, Kecamatan Meurah Dua, ia dan tim disambut pemandangan yang sukar dilupakan. Lumpur tebal hampir dua meter mengeras di dalam rumah warga, menutup seluruh perabot dan hanya menyisakan atap bangunan. “Banyak warga tidak bisa kembali ke rumah mereka. Tanah dan lumpur sudah mengeras, halaman pun tidak terlihat lagi,” ujar Akram, Selasa (9/12/2025).
Di tengah kondisi yang porak-poranda itu, kebutuhan paling mendesak warga bukan lagi pakaian seperti yang banyak dikira orang. Makanan siap saji, susu bayi, popok, dan perlengkapan balita justru menjadi barang yang paling sulit didapat di lokasi pengungsian. “Ibu-ibu sangat kesulitan. Bantuan pakaian banyak, tapi makanan dan perlengkapan bayi sangat kurang,” jelasnya.
Perjalanan menuju posko pengungsian pun tidak mudah. Jalan desa masih dipenuhi lumpur tebal sehingga truk bantuan tak bisa melaju. Relawan dan warga harus mengangkut barang secara manual sejauh hampir satu kilometer. “Capek, tapi alhamdulillah semua bisa sampai ke warga. Semua dilakukan dengan gotong royong,” kata Akram.
Meski situasi serba sulit, sambutan masyarakat sangat mengharukan. Para relawan disambut hangat, penuh ucapan terima kasih, dan sorot mata yang menunjukkan betapa bantuan itu berarti bagi mereka. “Secara psikologis, warga sangat membutuhkan dukungan. Mereka menerima siapa saja yang datang membantu, tidak hanya membawa bantuan tetapi juga memberi semangat,” ungkap Akram.
Aksi kemanusiaan ini melibatkan 16–20 relawan, ditambah dukungan penuh warga Lampupok yang sejak awal ikut mengumpulkan donasi. Ada pula warga yang menyumbang padi, kemudian ditukar oleh relawan menjadi beras agar bisa disalurkan ke pengungsi. “Berapapun jumlahnya, kecil atau besar, semuanya sangat berarti,” tegas Akram.
Ia mengajak masyarakat Aceh untuk terus menyalurkan bantuan, terutama pangan siap konsumsi dan perlengkapan bayi yang masih sangat minim di lapangan. “Saudara-saudara kita sedang berjuang. Kita mungkin hanya memberi sedikit, tapi bagi mereka itu sangat besar. Bahkan seribu rupiah pun bisa jadi penolong,” tutupnya.










Discussion about this post