MASAKINI.CO – Korban bencana hidrometeorologi di Aceh, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, kini tidak hanya membutuhkan bantuan logistik, tetapi juga dukungan pemulihan psikologis. Pada fase darurat ini, Psikolog Zahrani menegaskan bahwa pemberian Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis menjadi langkah penting untuk membantu penyintas kembali stabil secara emosional.
Zahrani menjelaskan, PFA bukan ditujukan untuk langsung menyembuhkan trauma, tetapi untuk menghadirkan rasa aman, mengurangi stres, dan memastikan korban merasa didampingi. “Yang kita lakukan adalah menstabilkan dulu emosinya. Korban harus merasa bahwa mereka tidak sendirian,” ujarnya, Rabu (10/12/2025).
Menurutnya, PFA dilakukan melalui tiga prinsip utama: Look, Listen, dan Link. Tahap Look dilakukan dengan mengamati kondisi lapangan dan mengidentifikasi siapa yang membutuhkan bantuan serta jenis dukungan yang sesuai.
Pada tahap Listen, pendamping wajib hadir secara empatik, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memberi ruang bagi korban untuk bercerita jika mereka siap. “Yang paling penting adalah kehadiran dan mendengarkan secara aktif. Tidak boleh ada paksaan,” kata Zahrani.
Tahap terakhir, Link, bertujuan menghubungkan penyintas dengan dukungan yang mereka perlukan, mulai dari keluarga, jaringan sosial, hingga layanan kesehatan mental. Ia menambahkan, PFA dapat dilakukan tidak hanya oleh psikolog, tetapi juga tenaga kesehatan, pekerja sosial, hingga relawan yang telah mendapat pelatihan.
Zahrani menekankan bahwa rasa aman secara fisik dan emosional merupakan kebutuhan utama korban pada masa darurat. Banyak penyintas yang menahan emosi dan membutuhkan ruang aman untuk mengekspresikan perasaan mereka. “Intinya, jangan biarkan mereka merasa sendiri. Kehadiran kita sangat berarti,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa pemulihan psikologis bukan proses singkat. Trauma dapat membutuhkan pendampingan jangka panjang, bahkan bertahun-tahun. Karena itu, ia mendorong adanya layanan psikososial berkelanjutan, seperti kunjungan rutin ke komunitas dan pelibatan tokoh masyarakat dalam proses pemulihan.
“Intervensi tidak bisa hanya sesaat. Pemulihan membutuhkan dukungan yang panjang dan konsisten,” tutup Zahrani.










Discussion about this post