MASAKINI.CO – Di usia ketika kebanyakan orang memilih lebih banyak duduk dan beristirahat, Ernawati justru melangkah ke panggung dengan kepala tegak dan menerima selembar sertifikat layaknya sarjana. Usianya 65 tahun.
Hari itu, Rabu (24/12/2025), Ernawati menjadi bagian dari 1.193 lansia yang diwisuda dalam Sekolah Lansia Standar 1 (S1) di Kabupaten Aceh Besar. Mereka datang dari 53 Sekolah Lansia yang tersebar di berbagai kecamatan.
Bagi sebagian orang, wisuda mungkin sekadar seremoni. Namun bagi Ernawati dan kawan-kawan seangkatannya, momen ini terasa seperti hadiah yang datang terlambat namun sangat bermakna.
Ia berasal dari Desa Babah Jurong, Kecamatan Kuta Baro. Sepanjang hidupnya, bangku sekolah hanya sempat ia duduki sampai Madrasah Ibtidaiyah. Tak ada bangku SMP, apalagi SMA. Selebihnya, hidup berjalan dengan cara yang ia pahami sendiri mengurus keluarga, bekerja seadanya, dan belajar dari pengalaman.
“Ini wisuda pertama kali selama saya hidup,” ujarnya lirih, nyaris tak percaya. “Kita orang tidak sekolah, tapi bisa pakai baju toga. Senang sekali rasanya.”
Selama beberapa bulan terakhir, Ernawati rutin mengikuti pertemuan Sekolah Lansia yang digagas Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Aceh. Ada 12 kali pertemuan yang ia jalani. Di sana, ia belajar banyak hal yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan di ruang kelas formal.
Mereka diajari cara hidup lebih sehat, tentang keagamaan, keterampilan tangan, hingga cara merawat diri di usia lanjut.
“Di sini kita tambah ilmu. Kami juga diajari olahraga,” ujarnya. “Alhamdulillah, kami dikasih sertifikat.”
Setiap pertemuan menjadi ruang berbagi. Ada tawa, ada cerita sakit pinggang, ada juga obrolan tentang cucu.
Bagi Ernawati, wisuda ini bukan garis akhir. Ia justru melihatnya sebagai awal baru. Selama tubuhnya masih kuat dan nafasnya masih panjang, ia ingin terus belajar. “Kalau saya masih sehat dan masih punya tenaga, saya mau ikut lagi. Ini kan baru standar satu (S1), nanti lanjut ke standar dua (S2),” katanya sambil tersenyum.
Perasaan serupa juga dirasakan Khairani, 70 tahun. Seumur hidupnya, ia tak pernah merasakan wisuda. Saat muda, sekolah bukan pilihan yang mudah. Hidup menuntut hal-hal lain untuk diprioritaskan. Maka ketika namanya dipanggil sebagai wisudawati, hatinya terasa penuh.
“Saya senang sekali. Waktu muda tidak pernah wisuda. Baru sekarang ini,” ucapnya. Nada suaranya sederhana, tapi menyimpan rasa bangga yang sulit disembunyikan.
Menurut Kepala Perwakilan BKKBN Aceh, Safrina Salim, menjelaskan bahwa wisuda ini menandai selesainya satu tahap pembelajaran dalam Program Sekolah Lansia, yang merupakan bagian dari Program SIDAYA (Lanjut Usia Berdaya). Program ini dirancang untuk memastikan para lansia tetap aktif, sehat, dan berdaya sesuai kemampuan mereka.
“Para wisudawan telah mengikuti 12 kali pertemuan dengan kurikulum tujuh dimensi lansia tangguh,” kata Safrina. Tujuh dimensi itu meliputi aspek spiritual, intelektual, fisik, emosional, sosial, vokasional, dan lingkungan.
Aceh Besar memiliki modal sosial yang kuat untuk menjalankan program ini. Budaya gotong royong dan kekeluargaan membuat para lansia merasa diterima, didukung, dan dihargai. Itu pula yang membuat partisipasi mereka tinggi hingga mampu menuntaskan seluruh rangkaian pembelajaran.
“Menjadi lansia bukan berarti berhenti berperan,” ujarnya. “Justru pengalaman dan keteladanan para lansia sangat dibutuhkan oleh keluarga dan generasi muda.”
Di balik toga-toga sederhana yang mereka kenakan, tersimpan kisah panjang tentang keterbatasan, ketekunan, dan semangat untuk terus tumbuh. Wisuda ini mungkin tak mengubah masa lalu Ernawati dan Khairani. Namun di hari itu, mereka membuktikan bahwa masa tua juga harus dibarengi dengan ilmu.










Discussion about this post