MASAKINI.CO – Kementerian Dalam Negeri menginstruksikan wilayah perbatasan, salah satunya Kota Batam di Kepulauan Riau, untuk menyediakan lokasi penampungan sementara bagi warga negara asing yang menjadi pengungsi guna antisipasi ke depan.
Direktur Kewaspadaan Nasional Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, Aang Witarsa Rofik, menyampaikan bahwa penanganan kasus pengungsi perlu dilakukan secara proaktif, bukan lagi hanya menanggapi saat terjadi masalah.
“Kita tidak bisa hanya bereaksi saat ada masalah. Perlunya upaya mitigasi yang sungguh-sungguh. Saat ini ada sekitar 12.060 orang pengungsi dan pencari suaka di Indonesia,” ujarnya.
Aang menjelaskan bahwa pada tahun 2026 akan ada serangkaian program penting, mulai dari pemilihan lokasi penampungan, penetapan skema biaya hidup, hingga pengaturan bagi pengungsi yang ingin mandiri termasuk aturan kerja.
“Ini sejalan dengan rencana revisi Peraturan Presiden tahun 2016. Indonesia adalah negara transit, tapi kita perlu aturan yang jelas tentang lama masa transit,” katanya.
Aspek keamanan bangsa menjadi prioritas utama, disertai upaya mencegah konflik dengan masyarakat lokal melalui edukasi dan penyuluhan.
“Meskipun belum meratifikasi konvensi PBB, kita tetap menjalankan prinsip kemanusiaan. Uji coba penanganan akan dilakukan di beberapa lokasi di Batam,” ujarnya.
Sekretaris Daerah Batam Firmansyah menyatakan bahwa kota tersebut berperan sebagai titik transit sebelum pengungsi melanjutkan perjalanan ke negara tujuan akhir.
“Saat ini pengungsi ditempatkan di Hotel Kolekta Sekupang, dikelola bersama Organisasi Internasional untuk Migrasi dan pihak imigrasi daerah,” kata Aang dalam keterangan resmi dikutip, Rabu (28/1/2026).
Berdasarkan data resmi Pemkot Batam, terdapat 359 pengungsi dari berbagai negara seperti Sudan, Afghanistan, Somalia, Ethiopia, Irak, Palestina, dan Pakistan, tanpa ada yang berasal dari kelompok Rohingya.
Sebanyak 173 di antaranya telah tinggal di Batam selama 8 hingga 10 tahun, sementara 144 orang lainnya lebih dari satu dekade. Selain itu, 67 anak pengungsi tengah menempuh pendidikan formal di daerah ini.









Discussion about this post