MASAKINI.CO – Pagi itu, Nurmala (53) sudah duduk di sudut Pasar Beurenuen. Di hadapannya tersusun rapi wajan-wajan berwarna cokelat gelap. Wajan itu bukan wajan biasa. Bahannya dari tanah liat, alat masak tradisional yang kini semakin jarang digunakan masyarakat.
Setiap hari Nurmala datang dari Gampong Are ke pasar Beurenuen dengan menumpang becak. Ia membawa dagangan yang jumlahnya tidak seberapa, berharap ada pembeli yang singgah.
Namun harapan itu tidak selalu datang.
“Seringkali seharian saya duduk di sini, tapi dagangan tidak laku,” kata Nurmala sambil tersenyum kecil.
Ia paham, zaman sudah berubah. Banyak orang kini lebih memilih wajan berbahan logam atau teflon yang dianggap lebih praktis. Padahal, menurutnya, wajan tanah liat memiliki keunggulan tersendiri.
“Ini wajan terbuat dari bahan alami. Kalau kita masak pakai ini bisa terhindar dari penyakit,” ujarnya.
Di balik bentuknya yang sederhana, proses pembuatan wajan tersebut tidaklah mudah. Semua dikerjakan dengan cara tradisional.
Nurmala menjelaskan, tanah liat terlebih dahulu diadon, kemudian dicampur dengan sedikit pasir. Setelah itu bahan tersebut dibentuk menjadi wajan sebelum akhirnya melalui proses pembakaran.
“Proses pembuatannya memang sedikit rumit,” katanya.
Meski begitu, harga jualnya tetap murah. Nurmala menjual wajan-wajan itu mulai dari Rp5 ribu hingga Rp30 ribu, tergantung ukuran.
“Meskipun proses pembuatannya rumit, kami hanya menjual mulai dari lima ribuan sampai tiga puluh ribu saja,” tambahnya.
Hari-hari berlalu dengan cerita yang hampir sama. Nurmala tetap datang ke pasar, duduk menunggu di antara wajan-wajan tanah liat yang tersusun di depannya.
Di tengah gempuran peralatan dapur modern, dagangan sederhana itu seolah menjadi pengingat bahwa ada tradisi lama yang perlahan mulai ditinggalkan. Namun bagi Nurmala, selama masih ada harapan, ia akan terus datang ke pasar dan menjajakan wajan-wajan tanah liatnya.










Discussion about this post