MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Rabu, Maret 11, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Culture Shock Ramadan Banda Aceh bagi Mahasiswa Non-Muslim

Aininadhirah by Aininadhirah
11 Maret 2026
in Cerita
0

Potret Rosliani mahasiswa non islam yang mengejar gelar sarjananya di kampus UIN Ar-Raniry Banda Aceh | Foto : Dokumen Pribadi

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Suasana Banda Aceh berubah saat Ramadan tiba. Pada pagi hingga siang hari, aktivitas jual beli makanan hampir tidak terlihat. Banyak warung makan yang biasanya buka sejak pagi memilih tutup hingga sore hari.

Kondisi ini menjadi pengalaman baru bagi Rosliani br Tumangger, mahasiswa non-Muslim asal Aceh Singkil yang sedang menempuh pendidikan di Banda Aceh. Ramadan tahun ini menjadi kali kedua ia menjalani bulan puasa di kota tersebut karena aktivitas perkuliahan tetap berlangsung.

RelatedPosts

Sepi Pembeli, Nurmala Tetap Setia Menjual Wajan Tanah Liat

Belajar Menerima “Tidak”: Pelajaran Kedewasaan dari Sebuah Penolakan

Kisah Saidah: Hanya Sempat Menyusui Sehari, Lalu Kehilangan Selamanya

Saat pertama kali merasakan Ramadan di Banda Aceh, Rosliani mengaku sempat mengalami culture shock. Ia melihat perbedaan yang cukup jelas dibandingkan dengan daerah asalnya.

“Awalnya sempat culture shock karena agak beda ya kalau di sini sama di Singkil. Kalau di Singkil kan masih ada lah satu atau dua yang buka jualan atau rumah makan gitu, terus warung pun jarang tutup,” ujarnya, Rabu (11/3/2026).

Di Banda Aceh, menurutnya, sebagian besar warung makan tutup pada pagi hingga siang hari selama bulan puasa. Kalaupun ada yang buka, biasanya baru beroperasi menjelang siang.

Kondisi tersebut membuat Rosliani harus menyesuaikan diri. Ia biasanya menyiapkan bahan makanan sendiri agar tetap bisa makan pada pagi atau siang hari.
Sebelum kembali ke Banda Aceh setelah libur, ia bahkan membawa bahan makanan dari rumah di Aceh Singkil.

“Biasanya stok sayuran gitu. Kebetulan pas Ros mau balik ke sini sudah bawa bahan makanan dari rumah, terus kalau pagi atau siang tinggal dimasak aja,” katanya.
Selain itu, ia juga sesekali membeli makanan sederhana seperti mi instan, telur, atau camilan dari warung yang masih buka.

Suasana kota mulai berubah saat sore hari. Jalanan menjadi lebih ramai dengan pedagang takjil dan warga yang mencari makanan untuk berbuka puasa.
Bagi Rosliani, momen menjelang berbuka justru menjadi bagian yang paling menarik selama Ramadan di Banda Aceh. Banyaknya pilihan makanan dan keramaian warga membuat suasana kota terasa berbeda dibandingkan siang hari.

Ia juga beberapa kali ikut berbuka puasa bersama teman-temannya di kampus. “Kalau ada teman yang ikut, saya ikut juga gitu,” ujarnya.

Menurut Rosliani, Ramadan di Banda Aceh memiliki keunikan tersendiri. Ia melihat bagaimana masyarakat menjaga suasana bulan puasa dengan tidak berjualan makanan secara terbuka di siang hari.
“Uniknya itu di Banda itu terjaga banget. Orang tidak ada yang jualan biar lebih menghargai yang puasa aja,” tuturnya.

Setelah dua kali merasakan Ramadan di Banda Aceh, Rosliani mengaku sudah mulai terbiasa dengan suasana tersebut. Pengalaman yang awalnya terasa berbeda kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya selama menjalani perkuliahan di kota itu.

Tags: Culture shock RamadanMahasiswa non-MuslimRamadan di AcehToleransi di Aceh
Previous Post

Mendikdasmen Tinjau Persiapan TKA di SMPN 2 Peudada Bireuen

Next Post

IWD 2026, Perempuan Muda Aceh Bahas Ruang Aman Atas Tubuh

Related Posts

Melihat Toleransi di Serambi Mekkah Lewat Film Harmony of Aceh

Melihat Toleransi di Serambi Mekkah Lewat Film Harmony of Aceh

by Alfath Asmunda
6 November 2024
0

MASAKINI.CO - Kantor Wilayah Kementerian Agama Aceh meluncurkan film pendek bercerita tentang keberagaman dan toleransi antar umat beragama di tanah...

Culture Shock Pergi Setelah Tiba di Serambi Mekkah

Culture Shock Pergi Setelah Tiba di Serambi Mekkah

by Alfath Asmunda
15 September 2024
0

MASAKINI.CO - Sebelum menginjakkan kaki ke Aceh, Christian Vieri telah bertanya-tanya; bagaimana nanti dia yang seorang non-muslim bisa lebih tenang...

Kesan Para Tamu PON Melihat Toleransi dan Budaya Aceh

Kesan Para Tamu PON Melihat Toleransi dan Budaya Aceh

by Riska Zulfira
10 September 2024
0

MASAKINI.CO - Aquela Kanaya, perempuan dari Kalimantan Barat memuji toleransi beragama masyarakat di Provinsi Aceh. Menurutnya meski Aceh menerapkan Syariat...

Next Post
IWD 2026, Perempuan Muda Aceh Bahas Ruang Aman Atas Tubuh

IWD 2026, Perempuan Muda Aceh Bahas Ruang Aman Atas Tubuh

Kemenkum Aceh Dorong Regulasi Daerah untuk Lindungi Kekayaan Intelektual Produk Lokal

Discussion about this post

CERITA

Culture Shock Ramadan Banda Aceh bagi Mahasiswa Non-Muslim

11 Maret 2026

Sepi Pembeli, Nurmala Tetap Setia Menjual Wajan Tanah Liat

9 Maret 2026

Belajar Menerima “Tidak”: Pelajaran Kedewasaan dari Sebuah Penolakan

8 Maret 2026

Kisah Saidah: Hanya Sempat Menyusui Sehari, Lalu Kehilangan Selamanya

3 Maret 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co