MASAKINI.CO – Suasana Banda Aceh berubah saat Ramadan tiba. Pada pagi hingga siang hari, aktivitas jual beli makanan hampir tidak terlihat. Banyak warung makan yang biasanya buka sejak pagi memilih tutup hingga sore hari.
Kondisi ini menjadi pengalaman baru bagi Rosliani br Tumangger, mahasiswa non-Muslim asal Aceh Singkil yang sedang menempuh pendidikan di Banda Aceh. Ramadan tahun ini menjadi kali kedua ia menjalani bulan puasa di kota tersebut karena aktivitas perkuliahan tetap berlangsung.
Saat pertama kali merasakan Ramadan di Banda Aceh, Rosliani mengaku sempat mengalami culture shock. Ia melihat perbedaan yang cukup jelas dibandingkan dengan daerah asalnya.
“Awalnya sempat culture shock karena agak beda ya kalau di sini sama di Singkil. Kalau di Singkil kan masih ada lah satu atau dua yang buka jualan atau rumah makan gitu, terus warung pun jarang tutup,” ujarnya, Rabu (11/3/2026).
Di Banda Aceh, menurutnya, sebagian besar warung makan tutup pada pagi hingga siang hari selama bulan puasa. Kalaupun ada yang buka, biasanya baru beroperasi menjelang siang.
Kondisi tersebut membuat Rosliani harus menyesuaikan diri. Ia biasanya menyiapkan bahan makanan sendiri agar tetap bisa makan pada pagi atau siang hari.
Sebelum kembali ke Banda Aceh setelah libur, ia bahkan membawa bahan makanan dari rumah di Aceh Singkil.
“Biasanya stok sayuran gitu. Kebetulan pas Ros mau balik ke sini sudah bawa bahan makanan dari rumah, terus kalau pagi atau siang tinggal dimasak aja,” katanya.
Selain itu, ia juga sesekali membeli makanan sederhana seperti mi instan, telur, atau camilan dari warung yang masih buka.
Suasana kota mulai berubah saat sore hari. Jalanan menjadi lebih ramai dengan pedagang takjil dan warga yang mencari makanan untuk berbuka puasa.
Bagi Rosliani, momen menjelang berbuka justru menjadi bagian yang paling menarik selama Ramadan di Banda Aceh. Banyaknya pilihan makanan dan keramaian warga membuat suasana kota terasa berbeda dibandingkan siang hari.
Ia juga beberapa kali ikut berbuka puasa bersama teman-temannya di kampus. “Kalau ada teman yang ikut, saya ikut juga gitu,” ujarnya.
Menurut Rosliani, Ramadan di Banda Aceh memiliki keunikan tersendiri. Ia melihat bagaimana masyarakat menjaga suasana bulan puasa dengan tidak berjualan makanan secara terbuka di siang hari.
“Uniknya itu di Banda itu terjaga banget. Orang tidak ada yang jualan biar lebih menghargai yang puasa aja,” tuturnya.
Setelah dua kali merasakan Ramadan di Banda Aceh, Rosliani mengaku sudah mulai terbiasa dengan suasana tersebut. Pengalaman yang awalnya terasa berbeda kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya selama menjalani perkuliahan di kota itu.










Discussion about this post