MASAKINI.CO – Mediator Perdamaian Aceh asal Finlandia, Juha Christensen, mengingatkan seluruh pihak untuk menjaga kepercayaan sebagai fondasi utama keberlanjutan perdamaian Aceh. Menurutnya, perdamaian yang telah terbangun selama 21 tahun menjadi modal penting bagi Aceh untuk bangkit, terutama dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Juha mengatakan, Aceh saat ini berada dalam kondisi yang jauh lebih baik dibandingkan masa konflik. Namun, perdamaian tidak hanya cukup dipertahankan secara simbolik, melainkan harus terus diperkuat melalui kerja sama antara pemerintah dan masyarakat.
“Perdamaian Aceh semakin kuat, tetapi masih ada pekerjaan yang harus kita lanjutkan bersama,” ujar Juha saat menghadiri peringatan Hari Damai Aceh, Sabtu (15/8/2026).
Ia menilai tantangan terbesar Aceh ke depan bukan lagi persoalan konflik, tetapi bagaimana memanfaatkan situasi damai untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu kunci utama, kata dia, adalah membangun kepercayaan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat.
Menurut Juha, tanpa kepercayaan, sulit bagi Aceh menarik investasi yang dibutuhkan untuk mempercepat pembangunan ekonomi.
“Investor tidak akan datang jika tidak ada keyakinan bahwa daerah ini aman dan stabil. Kepercayaan menjadi dasar agar ekonomi Aceh bisa berkembang,” katanya.
Juha menyebut daerah-daerah yang pernah mengalami konflik di berbagai belahan dunia membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi ekonomi. Karena itu, Aceh harus terus memperkuat stabilitas politik dan persatuan agar mampu mengejar ketertinggalan dari daerah lain.
“Memang Aceh masih tertinggal dibandingkan provinsi lain, tetapi wilayah pascakonflik selalu membutuhkan proses untuk bangkit kembali,” ujarnya.
Terkait pelaksanaan butir-butir Nota Kesepahaman Helsinki, Juha menilai sebagian besar kesepakatan telah berjalan dengan baik. Meski demikian, masih terdapat beberapa poin yang perlu diselesaikan secara bersama-sama.
“Tidak semua butir sudah mencapai 100 persen. Masih ada beberapa hal yang perlu terus diupayakan agar tujuan perdamaian dapat tercapai sepenuhnya,” kata Juha.
Sementara terkait penggunaan bendera bulan bintang dalam peringatan Hari Damai Aceh, Juha mengatakan persoalan tersebut harus ditempatkan dalam konteks sejarah. Ia menyebut semua pihak perlu menghormati perjalanan panjang perdamaian Aceh tanpa menjadikan simbol-simbol tertentu sebagai pemicu ketegangan baru.
“Kita harus menghormati bendera GAM sebagai bagian dari sejarah. Namun penggunaannya untuk kepentingan lain yang dapat mengganggu suasana perdamaian bukanlah hal yang baik,” ujarnya.
Juha juga mengingatkan kembali prinsip dignity for all atau penghormatan terhadap martabat semua pihak yang menjadi bagian penting dalam perundingan Helsinki.
“Pemerintah dan pihak yang mewakili GAM sama-sama memiliki tempat dalam sejarah perdamaian. Karena itu, kita harus menjaga agar tidak muncul kembali hal-hal sensitif yang dapat merusak suasana,” pungkasnya.





Discussion about this post