MASAKINI.CO – Tradisi pok teupeun, salah satu teknik tenun tradisional Aceh, mulai menghadapi tantangan regenerasi pelaku. Rata-rata pengrajin yang masih menekuni kerajinan tersebut kini berusia di atas 35 tahun, sementara minat generasi muda dinilai masih terbatas.
Kondisi itu menjadi salah satu hal yang diangkat dalam pemutaran dan diskusi film Pok Teupeun di TDMRC USK, Kamis (24/9/2026).
Pengelola dana hibah program tersebut, Zawil Ikram, mengatakan film itu diproduksi untuk memperkenalkan pok teupeun kepada masyarakat sekaligus mendokumentasikan proses pembuatannya yang membutuhkan ketelitian.
“Pok teupeun ini merupakan produksi kain atau tenun yang menggunakan alat pok teupeun. Film ini merupakan hasil dari program dana hibah Dana Indonesia Raya,” kata Zawil.
Menurutnya, kegiatan tersebut turut dihadiri sutradara film, Sayed Yunus, serta pelaku pok teupeun dari Tenun Nyak Mu. Kehadiran pelaku tenun dalam diskusi juga menjadi bagian penting untuk mengenalkan secara langsung proses dan tantangan dalam mempertahankan kerajinan tersebut.
Mauliana, salah satu praktisi pok Teupeun menyebutkan tantangan dalam pelestarian pok teupeun adalah minimnya ketertarikan anak muda untuk mempelajarinya. Selain proses pengerjaan yang cukup rumit, pembuatan tenun tersebut membutuhkan ketelitian, terutama dalam proses menyulam motif.
“Harapan dari kegiatan ini kepada kaum muda, baik perempuan maupun laki-laki, agar dapat menjaga dan melestarikan budaya Aceh yaitu pok teupeun itu sendiri. Saat ini pelaku pok teupeun rata-rata usianya 35 tahun ke atas, jadi anak muda sudah tidak banyak yang minat,” ujarnya.
Melalui film tersebut, penonton juga diperkenalkan dengan proses pembuatan pok teupeun secara lebih rinci. Film itu memuat penjelasan sekaligus tutorial mengenai tahapan dalam membuat kerajinan tenun tradisional tersebut.
Zawil berharap dokumentasi melalui film dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kembali berbagai objek pemajuan kebudayaan Aceh kepada generasi muda.
“Harapan saya ke depan agar semua objek kemajuan kebudayaan, terkhusus yang ada di Aceh ini, dapat terus dikembangkan dan dilestarikan,” katanya.
Ia juga berharap dukungan pemerintah melalui program dana hibah dapat diperluas sehingga mahasiswa maupun masyarakat memiliki ruang untuk menyampaikan ide dan mendokumentasikan kebudayaan Aceh dalam berbagai bentuk, termasuk film dan buku.







Discussion about this post